X: “Apa pekerjaan orang tuamu?”
Y:”Guru”
X:”Guru di mana?”
Y:”di Satya Wacana (UNSWUKSW) , Tarumanegara (UNTAR), Univ. Kristen Djajakarta (UKRIDA) dan pernah di Unika Atma Jaya Jakarta”
X: ”Lho pekerjaan orang tuamu, dosen to?”
Y:”dosen kan guru juga to?”
Itulah petikan dialog antara saya (Y) dan beberapa orang/orang lain (X). Saya selalu bangga kalau ditanya sehubungan orang tua saya. Banyak hal yang membuat saya bangga dan tidak bisa semua saya ceritakan di sini. Salah satu yang membuat bangga pada orang tua saya adalah karena mereka adalah guru (baca: pendidik).
Saya selalu ingat ucapaan mereka untuk hidup secukupnya beberapa tahun silam, kira2x seperti ini:
Jadi dosen itu hidupnya tidak berlebih dan tidak kekurangan … ya C-U-K-U-P.
Oleh karena itu, sejak kecil kami sudah dibiasakan untuk tidak hidup neko2x/hidup mewah (lha memang gak punya apa2x to he2x).
Salah satu harta diwariskan mereka sebagai pendidik adalah passion to learn meski proses mengubah yang namanya belajar (yang sebelumnya lekat dengan embel2x wajib/keharusan belajar) menjadi hasrat/passion to learn ini butuh usaha dan waktu yang tidak singkat.
Sewaktu saya kelas 5 atau 6 SD, ibu saya selalu mengingatkan untuk belajar supaya bisa masuk SMP impian di kota saya dan pesan beliau itu kembali menggetarkan saya saat mengantar saya untuk mendaftar untuk tes masuk di SMPN1 Salatiga (sekolah yang melahirkan 2 pelajar Teladan Nasional pada periode berbeda saat itu). Beliau hanya bilang:
“Mama tidak bisa bantu apa-apa, semua tergantung usahamu sendiri apakah bisa masuk atau tidak ke SMPN1″.
Bagi seorang anak 12 tahun (lulusan SD) belum pernah pernah terpikirkan tentang persaingan ujian masuk SMP yang begitu sengit ini ( pilihanya ya … masuk atau tidak). Contoh teman2x yang gagal masuk SMP ini juga banyak. Belum lagi, kakak saya satu-satunya baru saja lulus dari SMP tersebut dan prestasinya menonjol juga di sana … Lecutan ini yang buat saya seorang anak berumur dua belas tahun saat itu untuk mulai belajar mandiri dan berpikir realistis bahwa goal yang ada hanya bisa saya capai hanya dengan usaha saya sendiri.Thanks Ma for this!
Cerita-cerita pengalaman mereka cukup menumbuhkan bukan saja inspirasi namun kebanggaan bagi saya. Salah satunya saat Muhamad Yamin (perdana menteri Indonesia tahun 50-an) menguji skripsi ibu saya tentang sejarah dunia. Muhammad Yamin yang baru saja pulang dari lawatan luar negerinya, langsung mempersilahkan ibu saya dan menanyakan asal daerah ibu saya Begitu ibu saya menjawab “Ambon” langsung beliau minta ibu menceritakan sejarah kedatangan Bangsa Belanda untuk mencari rempah-rempah di Indonesia sampai ke Maluku. Setelah itu Muhamad Yamin meminta ibu saya memutar bola dunia (globe) di ruangan tersebut dan memintanya untuk menunjuk suatu titik sembarang di globe tersebut sehingga globe tersebut berhenti berputar dan apa kata beliau:
Itu kota mana dan negara apa? Dan ceritakan sejarahnya!
Singkatnya cerita ibu saya akhirnya dinyatakan lulus dan Muhammad Yamin sangat puas dengan hasil ujian ini dan ibu saya mendapat hadiah persenan uang dari honorarium dari beliau sebagai penguji.
Kalau bicara tentang ibu saya ya beliau itu otaknya encer sekali dan rangking terus termasuk saat kuliah lagi untuk jurusan yang berbeda (jurusan bahasa Ingris). Rekor terakhir ini yang saya tidak tahu, apa sudah dipecahkan atau belum, beliau adalah pemegang IP tertinggi untuk jurusan Bahasa Inggris (JPBS) di UKSW dengan IP kelulusannya: 3.96 (jadi hanya satu nilai B, nilai lainnya A semua). Dan bakat pinternya ini turun ke kakak saya Ency. Kl saya? wah so so lah (sedang-sedang saja) kalau nakal waktu sekolah, malah iya ha2x
Tentang ayah saya. Oh, yang saya selalu ingat tentang beliau … adalah pekerja keras, semuanya itu dilakukannya untuk pendidikan anak-anaknya. Selain sebagai dosen, beliau juga aktif di dunia perpolitikan dan legislatif selama 16 tahun. Jadi ingat pesannya tentang dunia perpolitikan ini:
“Kalau mau terjun ke politik/legislatif, kamu harus sudah dalam keadaan financial freedom (mapan). Jadi bila masuk dan berbuatlah sesuatu sesuai hati nuranimu sampai maksimal. Kalau sudah mentok/maksimal berusaha (tetap tidak banyak berkontribusi yang baik ke dalam) … ya KELUAR saja.”
Dan itu juga dilakukan beliau setelah 16 tahun berkarir di legislatif dan untuk seterusnya keluar dari dunia perpolitikan dan kembali ke kampus.
Kebanggaan saya lainnya saat berumur belasan tahun melihat ayah belajar lagi untuk bidang studi yang berbeda, melihatnya belajar dan dibimbing saat menulis skripsi dan tesis oleh beberapa guru besar terkenal seperti Prof Sutjipto Rahardjo (Pakar Hukum Undip) dan Prof. Koesnadi Hardjo Sumantri (mantan Rektor UGM, guru besar UGM dan dosen UI).
Saya pribadi percaya saat kita berhubungan dengan orang lain, ada banyak hal yang positif bisa diserap/didapat baik itu secara langsung maupun tidak langsung apalagi dengan orang-orang hebat di bidang-nya.
Tanpa terasa tulisan-tulisan spontanitas ini, mengalir begitu saja seperti kasih sayang orang tua saya pada anak-anaknya yang tak perhah henti. Kebangganku pada mereka tidak pernah luntur, sekali lagi salah satu sisi kebangganku pada mereka:
Orang Tuaku adalah P-E-N-D-I-D-I-K !
Salam penuh cinta untuk papa dan mama di Salatiga. I Love You All. Selalu sehat selalu dan God Bles You!!
nb: Pada akhirnya kita semua sebagai seorang anak pasti mempunyai sosok guru yang mendidik dari kecil sampai saat ini, yakni orang tua kita apapun profesi orang tua kita. Jadi anda juga turut bisa berbangga bahwa:
Orang Tua Anda juga adalah P-E-N-D-I-D-I-K !