Feeds:
Posts
Comments

Mitama Matsuri (Soul Festival)

lantern festival 2009Kuil Yasukuni  atau Yasukuni Jinja begitu orang Jepang Jepang menyebutnya ini memang tidak asing bagi saya . Di kuil ini,beberapa tahun silam pernah menjadi berita internasional saat PM Jepang (saat itu) Junichiro Koizumi mengunjungi kuil ini dan mengadakan penghormatan pada tentara Jepang yang gugur pada Perang Dunia II  dan  negara tetangga Jepang pun sontak protes keras atas tindakan penghormatan ini sehubungan dengan sejarah yang pernah mereka  alami.
Dan gayungpun bersambut, saat kolega saya di kantor Tokyo mengirimkan email bahwa ada festival tahunan di kuil ini (13-16 Juli 2009, sampai pukul 22.00).
So begitu selesai  jam kerja (baca jam 18.00), saya langsung buru-buru kembali ke hotel untuk mengambil kamera dengan berjalan cepat sepanjang Shibaura Unga Dori Avenue dan belok kiri pas Tokyo Instute of Technology (Tamachi Campus)  berjalan 50 meter untuk naik  tangga menuju ke JR  Tamachi Station.
Ada beberapa penyedia  jasa (operator) kereta api di Jepang, salah satunya yang terbesar yaitu JR (Japan Rail). Terkadang masing-masing operator kereta api memiliki stasiunnya masing-masing. Di daerah Tamachi  sendiri ada tiga statiun yang terpisah satu dengan yang lain.
Setelah membeli tiket (130 Yen)  dan menunggu sekitar 1-2 menit kereta JR Yamanote line (loop)  untuk mengantar ke satu stasiun  berikutnya dengan waktu tempuh  3  menit untuk sampai di  Shinagawa, dimana hotel saya  berada.  Segera layaknya  pasukan gerak cepat, “senjata” pun langsung disiapkan, peta pun digelar untuk memobilisasi pasukan gerak cepat (halah! … cuma satu orang aja, ngaku-ngaku pasukan) dan juga  buku pinter bahasa Jepang [foto terlampir].DSC_0117
Secepat kilat ditentukan jalur menuju Kudanshita dengan berganti 3  jalur kereta api (Shinagawa-Meguro, Meguro-Ichigaya, Ichigaya-Kudanshita).
Efektif dan brilian kah pemilihan jalur oleh “pasukan gerak cepat” ini?
Absolutely Not !!!! (kalau perlu ditegesin tidak epektip!!).
Mengapa?
Karena diluar dugaan, saat ganti jalur  kereta  yang ke dua (Meguro-Ichigaya )dan ke tiga (Ichigaya-Kudanshita, jalur berbeda), ternyata stasiun  Ichigaya pada jalur  ke dua tidak  berada pada  stasiun yang sama untuk stasiun Ichigaya pada  jalur  ke tiga. Mengapa  bisa  begitu?
Karena o karena yang mengoperasikan ke dua  jalur (line) tersebut adalah dua operator yang berbeda dan mempunyai stasiun yang berbeda meskipun pada satu daerah (Ichigaya). Sama seperti di Tamachi yang memiliki tiga stasiun kereta api pada tempat yang berbeda.
Busyeeeeeettt dah (maaf  ya  Paksyeeeeeeetttt ….nama ibu dipake sebentar),  setelah berbahasa Jepang ala kadarnya (campur bahasa tarzan) ternyata  meski disitu tertera sama-sama di Ichigaya tapi berada di dua statiun yang berjarak kurang lebih 1.2 km. Terima kasih ya Pak petugas JR  yang memberi  petunjuk arah jalan sejauh 1.2 km (pake nyebrang jembatan) dengan sangat jelas.
Akhirnya begitu sampai di Kundanshita, langsung deh mencari  Exit nomor berapa  untuk sampai ke kuil tersebut. Dan lega lah diriku saat melihat ada petunjuk warna kuning (Exit 1) sebagai pintu keluar terdekat. DSC_0401
Kira-kira berjalan 25 meter sampailah di pintu gerbang kuil tersebut yang sudah dipadati orang-orang yang sedang asyik bercengkrama sambil mengantre dan  mencoba aneka jajanan  di stand-stand  yang dibuka selama festival beberapa hari itu.
DSC_0411Saya hanya  punya waktu sekitar 45 menit, karena tepat 22.00 waktu setempat acara festival akan ditutup, so jadi gak sempat nyoba-nyoba aneka  jajanan di stan-stan tersebut…langsung potret sana potret sini (sok fotograper gitu).
DSC_0435Sesaat saya  melihat  ada di sisi kanan dekat   deretan lampion, ada riuh reda kedengaran suara orang-orang  berpromosi  dengan pengeras suara. DSC_0438Langsung saja saya, belok ke arah tersebut.
O-ho semacam pasar malam ala tradional Jepang.
Seperti apa hiburan ala tradiosional Jepang tersebut, dapat  dilihat bagian depan dari foto berikut ini. Sama seperti hiburan pasar malam kita, ada petugas  dengan pengeras suara terus  menarik perhatian para pengunjung dengan menampilkan para pendukung acara atraksi di bagian depan tenda besar mereka, ada yang menarik pengunjung untuk ikut lomba menembak dengan sasaran hadiah yang  bisa dibawa pulang … ehm mirip bazar atau ya mirip pasar malam kita di Indonesia.
Atraksi-atraksi lainnya  yang tidak kalah menarik,  antara lain:
[1] Atraksi seorang gadis  memangsa tubuh ular hidup (ehm …saya  nggak tega menampilkan penampilannya  dalam  bentuk gambar atau video secara vulgar).
DSC_0446_crop
[2]Atraksi tradiosional memainkan api dengan berbagai ukuran  dengan lilin besar yang dimasukkan ke dalam mulut.
DSC_0589
[3] Atraksi sulap yang dipadu dengan  adegan-adegan  humor.
DSC_0505
[4]Atraksi “chain man”, atraksi manusia  yang memasukkan rantai kedalam salah satu lubang hidungnya ,dan diteruskan ujungnya  melalui saluran tenggorakkan  kemudian keluar melalui mulut. Kemudian rantai tersebut digunakan untuk mengangkat ember… (ehm  untuk yang ini juga,  saya berusaha untuk tidak menampilkan secara vulgar baik foto ataupun videonya).
DSC_0593
[5] Atraksi lainnya, masih mirip dengan atraksi di pasar malam kita  yaitu istana hantu, dimana masuk kedalam ruangan gelap dan siap-siap akan dikagetkan dengan penampakan-penampakan, maka tidak heran banyak yang keluar dengan berteriak sambil terkaget-kaget namun tidak sampai setres.
DSC_0609

 

 Ehm, pasti sudah tidak sabar ya melihat video pertunjukkannya ya … sebentar sebentar saya pasangkan lajar tantjep-nya (ehm jadi ingat jaman dulu waktu kecil nonton film misbar (baca gerimis bubar) yang pakai layar tancep dengan proyektor  yang mobile dengan mobil beneran Land Rover punyanya BKKBN yang sambil puterin fim disambung film program pemerintah Keluarga Berencana ….wuih jadoel pisan!

 

Oh ya seperti biasa setelah potret sana dan potret sini, lanjut dengan narsis time (alias potret diri sendiri) … kl sudah begitu biasanya penduduk lokal menawarkan diri untuk memotret saya. Kalau sudah begini, sebagai penghormatan saya mempersilahkan mereka untuk mengambil gambar saya dan “Jpreeettttt!“.

Dan apapun hasil jepretannya, biasanya  saya mengapreasi hasil pemotretan dan mengucapkan  terima kasih! Kalau masih kurang puas dengan hasil jepretan mereka, ya saya narsis time lagi. Seperti yang saya  katakan tadi, apapun hasil jepretan mereka, saya  selalu menghargai  itikad baik mereka. Dan itikad  baik seperti ini juga  berlaku sesama traveler  baik yang traveling seorang diri atau berpasangan, yang  lazimnya  saling menawarkan bantuan untuk saling memotret .

Dan  ada pengalaman  yang unik yang saya dapatkan khususnya saat dibantu untuk difoto oleh  pemuda lokal Tokyo yang saya alami saat perayaan Mitama Matsuri ini. Apa uniknya (baca geloknya/usilnya  mereka)?

Jadi saat saya sudah bersiap-siap dengan pose maksimum dan “Jpreeett!” ternyata setelah selesai mereka  foto dan pergi, saya  baru sadar teman2xnya ikut jadi background foto saya …. siaul (btw  jad lucu juga  he2x …) seperti foto-foto sbb:

DSC_0624

DSC_0642

 Ada satu hal yang bisa dipelajari dari kunjungan saya ke festival ini. Festival yang merupakan bagian dari tradisi budaya lokal  baik tari-tarian,  prosesi upacaranya, aneka pertunjukkan rakyat (tradisional) serta jajajan tradisionalnya inipun tak kurang  menarik minat kaum muda Tokyo  yang sangat dan sangat akrab dengan moderinasi, 

 mereka tetap mau terintegrasi dengan budaya lokal  baik dari pakaian tradisional yang dikenakannnya ataupun saat menikmati berbagai macam hiburan/acara tradisional lainnya… sampai-sampai saya hampir tidak menyadari bahwa perhelatan festival dengan berbagai atraksi tradisional (hiburan rakyat ini) diselenggarakan di kota yang menduduki peringkat teratas (baca termahal)  kategori tingkat biaya  hidup di dunia (berdasarkan hasil survei bulan Juli 2009).

 

 

 Tampilan lebih lengkap, klik saja : http://jmzach.wordpress.com

Terima kasih Tuhan, saya  sudah sampai dengan selamat. Meski tidak bisa  tidur  pulas , pas jam  03.45 (saat pesawat  melintasi  laut Filipina)  pesawat memasuki zona hampa udara. Pesawat Airbus A380 sempat tertarik ke bawah beberapa saat (baca drop) sekitar 3 detik. Kalau sudah  gini, gampang ditebak yang dari tadi  tidur jadi kebangun dan yang belum bisa  tidur jadi + tidak bisa tidur (It’s me!$*&@#~) sampai lampu kabin pesawat  dinyalakan pukul 05.00. Biar begitu kondisiku masih tetap prima, thanks God! 

Begitu pintu pesawat Airbus A380 dari pesawat  yang bernomor  SQ 637 ini dibuka, saya berjalan beriringan melewati para kru pesawat SQ sambil tak lupa saya  mengucapkan terima kasih kepada  mereka dan pas di pintu pesawat saya biasanya keluar  sambil menepuk-nepuk pintu pesawat (lalu bergumam terima kasih ya buat burung besi ini yang  sudah mengantar saya dengan selamat!).A380 in the morning Tak luput saya juga bersama  bule-bule lain turut   mengabadikan pesawat  buatan Airbus  yang paling muktakhir ini (A380), sebelum naik eskalator untuk berjalan sekitar 7  menit  sampai pada bagian imigrasi untuk melakukan proses  pelaporan kedatangan, rekam sidik jari,  foto wajah dan pemberian tanda masuk Jepang (yang bentuknya seperti materai lengkap  cap serta  informasinya), berlanjut ke bagian pengambilan bagasi dan melintasi jalur  custom,  dan setelah segala sesuatunya selesai (urusan imigrasi, bagasi dan custom) barulah petualangan dimulai.

Petualangan? Iya, meski sudah beberapa kali ke Jepang (Nagoya, Osaka, Kyoto dan Sendai) namun teuteup yang ini baru pertama kali. Pertama kali ke Tokyo, ibukota Jepang … kota termahal di dunia, begitu berita  yang saya  baca di Kompas seminggu sebelum mendarat di Tokyo.

Mulailah pengenalan medan dengan melakukan jalan-jalan kecil dan dorong-dor0ng kecil pula (sambil dorong trolley), saya melihat bandara ini hampir sama dengan Kanzai AP (Osaka) atau Shuanabummi AP (Bangkok) …artinya  terdiri dari 4-5  lantai. Sambil mencari tempat  pemesan kereta cepat Narita Express (NEX) saya sekalian scanning beberapa spot seperti:

- bagage storage (penitipan bagasi)

- mobile phone & SIM Card rental (rata2x 150-an  Yen/hari untuk  ponsel)

- money changer: Chiba Bank ( ada nilai tukar  Rupiah cing!, sekitar 0.0062 / Yen waktu itu)

- bagage delivery service (kl tidak  salah pengiriman bagasi (ke hotel/rumah), jika anda malas membawa bagasi (cmiw)

- meeting point

- stasiun kereta di lantai bawah

- belum sempat ke deck outdoor (paling atas) tempat para  pengantar  untuk melihat pesawat  tinggal landas (seperti semacam Sky Deck di Centrair AP Nagoya Jepang). Memangnya  ada  ya? Belum ngecek sih, soalnya  kemarin  buru-buru ke hotel.

Setelah melakukan pengenalan medan, saya langsung menuju bagian informasi, dan ada semacam Tourist Information dengan dua petugas dan beberapa leaflet beserta  segala informasinya (a.l. : event, resto, penginapan, paket liburan dsb). Kalau saya  sih, langsung straight to the point: minta  free map (peta gratis yang biasa terlipat rapi) serta minta informasi dimana saya harus  membeli tiket Narita Express (kereta) untuk menuju ke daerah  (Shinagawa Prince Hotel) tempat saya menginap.

Kali  ini saya  tidak mau mengulangi “kesalahan” seperti saat membeli tiket kereta api cepat (bullet train) Shinkansen dulu, yaitu  beli dengan tunai (dengan Yen).

Bukan apa-apa harga tiket kereta cepat Shinkansen ini mahal be-eng (baca buangeeett)  bayangin dulu Tokyo-Nagoya pp, bisa sekitar 2 juta-an rupiah.

Makanya  mulai kemarin itu, saya  lebih suka membeli tiket kereta api cepat ini (Narita Express-NEX, seharga 3110 Yen) dengan kartu kredit  saja langsung di loketnya (turun satu tingkat dari lantai  kedatangan).

Airport limousine unloadingSebetulnya ada pilihan lain untuk sampai di Hotel saya yakni dengan airport limousine ( foto disamping, harganya hampir  sama juga dengan NEX), cuma saya dari dulu memang paling doyan naik kereta (bisa  lihat  sawah dll, lihat foto di bawah ini) dan ini bisa  saya lihat dalam perjalan dari bandara  Narita yang memakan waktu 85 menit  untuk sampai kota Tokyo

Rice field along narita AP to Tokyo

Karena di Jepang infrastruktur  angkutan publik di Jepang sudah mapan , sehingga  naik angkutan publik (bis/kereta) rasanya sudah cukup  nyaman serta menjadi pilihan banyak orang. Hal ini yang menyebabkan taksi merupakan sarana tranportasi yang cukup mahal.  Saya  pernah  menuju  tempat kerja (agak di luar kota Sendai)  dan yang ada  hanya  taksi. Dengan waktu tempuh 30-40 menit harus  bayar sekitar 3900-an Yen (sekitar  empat ratus ribuan lebih).

Untuk jenis kereta (biasanya  dari bandara) biasanya ada yang reserved seat &  non reserved seat, dengan harga  yang berbeda tentunya (foto tiketnya di bawah, lengkap dengan huruf kanji-nya).

Jika anda baru pertama kali ke kota tujuan dengan kereta ini, baiknya memilih yang reserved seat.

Untuk kereta dari beberapa airport (Kanzai AP & Narita AP), dengan 9-12  gerbong (9-12 car) dan menuju dua tujuan yang bersimpangan jalan. Ambil contoh Narita Express  melayani tujuan dua kota sekaligus (Yokohama & Shinagawa Tokyo). Jadi perhatikan baik-baik (bagi pemilik tiket non reserve seat) untuk mengetahui gerbong mana yang menuju  Yokohama &  yang menuju Tokyo.  Pengalaman saya kemarin, saat sampai di Tokyo Station, rangkaian gerbong dipisah yang 1-7 menuju (Shinagawa Station) dan sisanya menuju Yokohama station.

Sebagaimana gerbong kereta modern, masing-masing gerbong dilengkapi ruang kemudi, jadi kalau sudah terpisah ya tinggal masinis lainnya  datang, buka kunci ruang kemudi dan jadi deh  bertindak sebagai lokomotif. 

Narita Express ticket

 

 Saya  menginap di daerah Shinagawa,  kebetulan Narita Express pemberhentian akhirnya di  Shinagawa Station. Saya pun sempat googling  untuk cari tahu lewat pintu keluar mana (untuk menuju hotel saya). Japanesse book, map & hotel infoKalau sudah begini peralatan lapangan sudah pasti saya gunakan seperti foto di atas a.l. : peta, buku bahasa Jepang (buku percakapan sehari-hari) dan kompas (bukan koran men ! penunjuk arah mata angin… itu fotonya, dengan kompas  terpasang di tali jam tangan saya). My handy compassAkhirnya  sampai lah di Shinagawa Station, yang dilanjutkan satu dua sesi  foto penyambutan lebih tepatnya foto penyambutan oleh diri sendiri ;-) . Ada pemandangan unik di stasiun ini, saya  lihat banyak muda mudi (mayoritas remaja putri) yang sedang semangat mengambil gambar dengan ponsel kameranya.  Saya dekati saja mereka, ikut-ikut-ikut   fotoin bintang poster elektronik bintang Jepang  (tidak tahu artis penyanyi atau pemain film) yang jadi obyek foto mereka dan juga fotoin aksi mereka  juga he2x. Pokoknya  heboh banget, mereka fotoin  untuk setiap pose dari artis tersebut (yang berganti-ganti  poster & pose-nya setiap 60 detik)

Together taking photo

 

Berdasarkan informasi dari pengenalan medan (yang saya  dapat dari gambar denah hotel dan Shinagawa Station) memang dekat, jadilah saya  bergerak ke arah itu, sambil mengikuti  arah anak panah petunjuk Shinagawa Prince Hotel. Tepat di sisi West Wing, saya  mulai kehilangan orientasi karena ditutupi oleh  gedung-gedung yang jangkung lainnya (termasuk gedung Sony, lihat foto terakhir)

Lazim di  Jepang hotel-hotel  yang  berada di dekat stasiun kereta api atau malah jadi satu bagian dari bangunan megah stasiun ini, terintegrasi baik untuk stasiun,  departemen store, hotel dsb.  Hal ini kadang menyebabkan hotel tidak mudah dikenali dengan melihat bangunannya saja.

Akhirnya saya menemukan peta dinding yang biasa ada di tempat strategis (baca trotar) dekat lampu lalu lintas di seberang stasiun .  ”A-Ha! Ini dia Shinagawa Prince Hotel”, tawa saya  sambil menunjuk satu titik pada peta tesebut. Shinagawa board map Tiga detik kemudian tawa saya  berhenti dan segera berubah dan timbul  tanda tanya besar di benak saya: “Lho, kok  Shinagawa Prince Hotel ada empat bangunan dan berada bukan pada satu area.????? So what should I do? Baca email hotel reservasinya donk…ehm betul juga  ya  but cara bacanya gimana dul? Semua dalam huruf kanji, yang bisa  dibaca cuma tanggal reservasi dan room rate/night. map to hotelPutar otak, ehm kalau begitu cari  gedung hotel yang terdekat dan tanya  sambil nyodorin lembar reservasi ini. Dan ketemu deh, Shinagawa Prince Hotel (Anex Building), pas  nanya … bukan di gedung yang ini.  Salah coy!  Untungnya  si mbaknya baik,  saya diberi denah (lihat foto sebelah kanan) untuk jalan melewati beberapa blok untuk sampai di Shinagawa Prince Hotel (Main Tower)  sekitar pukul 13.00 waktu setempat (GMT+9) < foto di bawah ini>.

Shinagawa Prince Hotel (Main Tower)

Begitu masuk saya langsung lihat ada satu botol besar plastik berwarna putih (seperti botol plastik untuk mencuci tangan di toilet lengkap dengan spray nozle-nya) dan begitu saya tekan, langsung membasahi tangan saya …ehm rasanya  seperti disemprot cairan yg mengandung alkohol untuk mematikan kuman yang ada ditangan.  Menariknya botol plastik besar ini pada umumnya  diletakkan pada pintu masuk suatu gedung, masih ada hubungannya  dengan tindakan pencegahan virus H1N1 yang sedang marak saat ini.

Di hotel ini ada 3-4 petugas check-in,  dan untuk melakukan check-in tamu harus mengantre dengan teratur pada  jalur  yang sudah ditentukan (cukup berbudaya disiplin kan? Sangat!)

Ada hal yang  cukup lazim di Jepang berkaitan dengan check in & check out time. Rata-rata hotel di sini, memberlakukan jam untuk check-in itu mulai sekitar jam 15.00 dan check out time-nya  jam 10.00. Jadi bagi para tamu dengan jadwal kedatangan (jadwal penerbangannya) pagi hari, biasanya  mereka lapor  dulu (belum bisa check in) dan diberi semacam tanda terima  untuk menitip barang bawaan di tempat  penitipan. Hal ini merupakan solusi jitu, jika para  tamu yang belum bisa check-in namun inginn  menghabiskan  wanya ktu untuk jalan-jalan tanpa  harus  repot  dengan barang bawaannya dan kembali  tepat pada waktu check-in dimulai.

So sekarang jalan-jalan yuk! Shinagawa West Wing at night

Tulisannya sampai di sini dulu ya. Untuk cerita tentang  Airbus A380, Kuil Yasukuni & Festival tahunan Maitama (Maitama Meitsuri), Mahalnya sewa lahan (baca sewa tempat/kamar hotel), serba unik & teknologi tinggi di Jepang,Tokyu Hands (the creative life store),  pembelian tiket kereta berdasarkan harga (bukan tujuan), keliling selueruh kota-kota  di Jepang naik JR  (Japan Rail , The Bullet Train Shinkansen) sampai capek  (hanya 28300 Yen selama 7 hari),  apa  lagi ya …. to be  continue ya …lagi mau kumpulin data & inspirasi, soalnya  masih ada kesempatan terbang   ke Tokyo  lagi minggu depan!

So sabar ya  & always keep reading my blog ya :)  

 

 

 

Where ever I go, my camera always accompany me.  Do you know why?

because I just have a pair of eyes, but

I want  another  million eyes …  billion eyes, even more

can see the Beauty  of God’s creation  where ever I go.

 I need  another  kind of  eye to make it happen!

It’s belong to  part of  camera itself.    [JM Zacharias, Dec 6th 2008]

 

F1 Night Race [Singapore 2008]

Begitu mendarat di bandara Changi, bayangan tentang  apa  yang saya lakukan di negeri pulau  ini selama lima  hari ke depan  ya  [1]   tugas  disini dan [2] menemani istri  untuk meng-explore Singapura baik sebagai guide atau  tukang foto  untuk beberapa  photo session di spot2x yang menarik …. ya itu saja. Singkat  cerita … saat  menuju tempat tugas di kawasan Suntec, saya baru  menyadari bahwa tempat  ini  juga  menjadi  bagian dari F1 Night Race setelah  melihat deretan kursi kuning merah pada podiumnya.

A-ha … naluri ingin tahu saya mulai menggelora so  sejak hari itu (Senin, 22 September 2008) ada agenda lain yaitu [3] explore dan foto2x  persiapan lintasan/track F1 di negeri singa ini.

 

 

 

Mulailah saat  lunch break, saya pun meng-explore kawasan ini mulai dari kawasan perbelanjaan Marina Square yang tepat  berada di atas  lintasan dari arah Marina Bay dan terus berjalan ke arah podium yang berada  di jalan  Nicoll Highway (dekat  dengn Tugu Civilian War Memorial dan Marina Square-Suntec City) dan  terus menyusurinya melewati Civilian War Memorial, Swissotel The Stampord  dan sampai di Raffless City Plaza yang berdekatan dengan City Hall MRT Station. Ada tenda besar yang dipasang dekat situ  yang menandakan daerah itu akan menjadi Gate 3.

Track untuk Formula One Night Race ini akan melintasi St. Andrew’s Road , Nicoll Highway , menyusuri jembatan Anderson Bridge, terus  melaju disamping  hotel Fullerton , Esplanade Drive Road melintasi Esplanade, belok menyusuri Raffles Avenue kawasan Marina Bay, Raffles Boulevard dan balik ke Nicoll Highway.Info track sepanjang  5.7 km ini dapat dilihat pada http://www.singaporegp.sg/about/track_info.php

Deretan tempa duduk di Nicoll Highway.

Sepulang kerja pun saya, saya  melihat  lampu-lampu  yang nantinya akan digunakan untuk menerangi track/lintasan balap malam (night  race) sudah dinyalakan walau  matahari  belum beranjak ke peraduannya. Niat saya  pun  muncul untuk kembali ke tempat ini untuk merekam gambar dalam suasana malam dengan deretan kontruksi tiang-tiang lampu  tersebut. Pulang sejenak di hotel di kawasan Scott Road (Royal Plaza on Scotts) saya pun memutuskan untuk segera  kembali  saat gelap sudah mulai menyelimuti malam. Berikut beberapa  foto yang saya  ambil di sekitar Nicoll Highway (waktu malam tiba).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lintasan/track  dari Formula One Night Race (Nicoll Highway)

Saya pun sempat mengamati  beberapa  orang  melakukan hal yang sama dengan saya, apa lagi  kalau bukan urusan jepret menjepret. Saya  pun sempat  merekam  tingkah lucu mereka mulai dari pose-posenya  di tempat (baca podium/deretan kursi penonton F1) yang tidak  biasa termasuk saat  mereka  bertemu  dan  meminta foto bersama  beberapa siswa (sepertinya kadet militer sukarela  Singapura) dan termasuk  ada yang  memanfaatkan track ini  untuk jogging  (mumpung belum terpakai untuk F1 race ya  ha2x)  sebagaimana foto dibawah ini.

 

 Aktivitas  lain  turis F1 di St Andrews Road

Kegiatan potret memotret tidak ubahnya kegiatan biasa, namun saya  belajar  dari budaya/kode etik  ”traveller” (he2x  istilah yang ada di kepala saya aja ) seperti apa  budaya ini, contohnya  saya bersama istri saya hendak berfoto bersama  (tanpa tripod) dengan tangan kanan memegang  kamera ke arah kami (tentu cukup  sulit untuk mendapatkan gambar & background terbaik), kalau sudah begitu  biasanya para turis lainnya menawarkan  diri  untuk menjadi fotografer dan iklas … tanpa pamrih … cukup dengan say  “Thank You” dan kitapun secara otomatis juga melakukan hal yang sama  untuk menjadi fotografer sukarela ke  orang/pasangan yang lain bila  mereka  membutuhkan.

Perhelatan F1  dengan  raungan jet darat  ini memang sangat menarik dan menggugah addenalin kita terutama saat melihat bagaimana pembalap bermanuver via kamera dari dalam mobil  balap.

Selain  perhelatan yang menyedot  perhatian, saya selalu  menaruh  perhatian bagaimana mereka  bisa  mempersiapkan ini dan berikut salah satu jepretan saya saat  para  pekerja memasang  separator  pada persimpangan jalan antara Nicoll Highway dan terusan Esplanade Drive seperti foto di bawah ini.

Terhitung  mulai  tanggal 23 September pukul 00.00  jalan-jalan  yang akan digunakan  untuk track balap F1 ini (kawasan Marina Centre)  tertutup  untuk lalulintas  umum. Sosialisasinya  pun efektif dilakukan mulai dari pengiriman SMS dari SingTel  (termasuk ke  HP saya) yang menginformasikan tentang penutupan beberapa  jalur  dan untuk keterangan lebih lanjut dapat melalui leaflet  yang dapat  diambil di Marina  Square dan beberapa spot perbelanjaan/tempat  publik lainnya. Alhasil untuk menjangkau tempat dinas (Suntec City, Temasek Boulevard Rd) pun tidak dapat  diakses dengan mobil dengan leluasa, akibat penutupan jalan ini. Saya pun memilih menggunakan MRT naik dari Orchard Sta menuju  City Hall Sta. Kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki menyusuri Swissotel The Stamford dan

saat melintasi  pintu depan Swissotel The Stamford, saya  melihat  beberapa bule turun dengan menggunakan jas hitam dengan travel bag dari sebuah euro bus berjalan ke arah lobby hotel. Surprisingly  … saya  baru  ngeh  bule2x didepan saya  itu adalah Tim Ferrari setelah  melihat  badge warna kuning dengan lambang kuda jingkrak pada jas hitam mereka. Kejadian begitu cepat sampai saya  tidak sempat berpikir untuk mengeluarkan kamera di pagi itu. Lagian gak ngefek  kali mengeluarkan kamera saat  itu, saya  tidak begitu hafal  nama dan wajah pembalap Ferrari sekarang (berhubung saya  bukan penggamar  F1 so  saya  agak kuper  tentang update berita F1).

Sore harinya, saya berjalan menyusuri  kawasan Esplanade dan melihat  beberapa petugas F1 dengan seragam merah-abu-hitam ini (lihat  foto  dibawah ini) sudah  beberapa hari ini memasang peralatan display pada titik-titik tertentu  yang  digunakan  untuk informasi atau  rambu-rambu warna bagi para  pembalap.

Lokasi: Esplanade Drive (dekat Esplanade)

Btw, berhubung tugas  sudah selesai (sudah 5  hari di sini) dan kl  harus menunggu  sampai hari H-nya  tentu harus extend lima  hari lagi dan belum lagi harga room rate mulai naik gila2xan sampai 3x lipat mulai tanggal 24 September 2008 malah ada  yang  nge-bandrol $ 2000 (Singapore Dollar). Dengan berat hati meninggalkan persiapan  lomba yang semakin menarik ini untuk pulang  ke Bandung. Tadi sempat lihat siaran langsung kualifikasi yang disiarkan langsung Star Sports.

 wuih …keren   pengambilan gambar dari  udara (helikopter) membuat  jet darat ini  melaju begitu  mempesona dibalut  sapuan cahaya  lampu ditengah  malam sebagai latarnya.

So  tunggu apa lagi? Fasten your  seat belt  and ready to watching the race (28 September 2008). It is the First Formula One Night Race in the Word!!!

Foto: Saya beserta istri

Berikut  foto-foto dari jet darat yang dipajang  di beberapa spot kota  Singapura (Orchard Rd, Changi Airport, Royal Plaza on Scotts dan Raffles City Plaza.

Lebih  lanjut foto-foto berkaitan F1 Night Race Singapore 2008 dapat dilihat di http://flickr.com/photos/jmzach

Apa yang menjadi challenge bagi seorang penulis? Pasti banyak macam challenge-nya … bagi saya salah satunya: saat rancangan tulisan sudah jadi 70%-80% & ter-delete (terhapus!) secara tak sengaja, so do it again from scratch base on the flow that might be still remain in your mind. Dan ini terjadi pada posting ini [!] “Nagoya, I’m back [Aug 2008]“. Ada rasa kesal “Ergh @#$^*&%$” (sisi negatif) dan harus segera ubah menjadi sisi positif dalam bentuk challenge untuk menulis ulang dengan mengandalkan alur cerita yang masih ada di kepala. Moral story yang lain : jangan lupa buat Back-Up file!!

Nagoya … I’m back! [Agustus 2008] he2x judul yang aneh ? tanpa maksud apa2x … ini hanya posting kedatangan jilid 2 ke kota yang … ini, maksud hati hanya tambal sulam hal-hal yang belum tercover pada posting catatan perjalanan saya ke Nagoya yang pertama [Mei-Juni 2008].

Oh, ya saya pernah cerita pada posting saya sebelumnya ttg Nagoya & Kyoto (1st trip Mei-Juni 2008), bahwa hotel di Jepang rata-rata check-in time mulai jam 15.00 (lebih telat dari lazimnya, 12.00) dan check-out time terakhir jam 10.00 (lebih awal dari lazimnya, 12.00) …nah lho. So kedatangan saya bulan Agustus ini seperti biasa dengan pesawat berkode SQ selalu tidak ada pilihan (berangkat dari Singapore jam 01.10 dini hari) dan mendarat di bandara (Centrair Airport) yang terpisah dengan Nagoya City, lihat foto di bawah ini (dipisahkan oleh laut, sama seperti Bandara Kansai yang juga daratannya dibangun di atas laut, lihat posting sebelumnya ttg Osaka & Sendai trip July 2008).
 
[!] Mohon scroll down, untuk melihat foto dan lanjutan reportase. Mohon maaf atas ketidaknyamaanan ini

 

 

 Gambar ini dipotret dari Sky Deck Centrair Nagoya Airport. Nah terlihat jelas kan bandara Centrair memang terpisah dengan Nagoya City yang dihubungkan jembatan sepanjang kurang lebih 1-2 km. So dibutuhkan 35-45 menit menggunakan kereta api untuk sampai ke pusat kota Nagoya.

Kembali ke formula check-in & check-out time di Jepang ini dan saya jam 09.00 sudah selesai proses imigrasi & custom (melangkah keluar gate), so yang saya lakukan adalah spent 5 jam di bandara ini (dari pada jalan menyusuri Nagoya).

 

Another activity at Sky Deck Central Japan Airport [Chubu Airport Nagoya, 3 Aug 2008] … I was also part of them … patient to wait an aircraft until in take off position and kept very enjoy to snap it from many angles eventhough it’s very hot there (around 35-37 degree Celcius). Pls follow the aircraft movement from left above to right.

Uh , cukup di Sky Deck ini bagai terpanggang panas (di musim Summer ini temperatur mencapai 37-40 derajat celcius). Sky deck ini merupakan area yang terbuka yang berbetuk huruf T terbalik ini dengan bagian tengahnya merupakan meeting point yang paling strategis untuk melihat dengan jelas saat pesawat tinggal landas. Tepat 37 menit melangkah dari jam 11, saya bergegas untuk meninggalkan tempat yang terus menerus kedatangan pengunjung lainnya dengan payung dan handuk kecil penyapu peluh ini. Segera saya menuju bagaian lain airport untuk ber –AC ria he2x sambil beritirahat sebelum melakukan mapping resto untuk makan siang dan toko souvenir serta tempat performance kesenian bila ada acara tertentu dan TA-DA! Ada pertunjukan kelompok kesenian tradional Jepang lengkap dengan pakaian tradional mereka Yukata, Happi (wear festival/cadigan).

Sambil nonton dan foto art performance ini, sayapun cari makan dan eh dapat yang “murah meriah” dalam format bento(bento: lunch box, lihat foto di bawah) dengan harga JPY 880 ( 1 JPY = IDR 85, jadi harganya sekitar Rp. 74.800,00) trus lanjut mapping toko-toko souvenir dan ketemu toko kimono/yukata pesanan istri.

Kalau mau yang porsinya lebih kecil dari bento ada juga yang minimalis dengan satu aneka rasa tinggal pilih mau isi ikan Salmon ( ), ikan teri model ikan teri medan tapi berwarna putih ( ) dengan harga berkisar JPY 100-140.

Konsepnya minimalis seperti sega kucing ala Yogya/Solo itu.

Sego kucing ala Yogya/Solo … nasi sekepel (seukuran genggaman tangan dewaasa dengan isi aneka rasa bandeng se ibu jari atau rasa lainya. Kalau dulu (tahun 90an harga per bungkusnya Rp.500,00) so kl mau kenyang ya beri 3 bungkus.

Jam 14.00 ah waktunya tepat untuk menuju hotel dengan Express Rapid Transfer (Meitetsu Line). Kali ini mau coba cari tantangan baru beli via ticket machine yang full huruf kanji (yang bisa saya baca hanya angkanya saja dalam format biasanya), kalau dulu (kunjungan pertama bulan mei 2008, saya belinya via locket dengan bahasa Jepang seadanya dicampur bahasa Inggris). Jadi tinggal tekan angka 850 (harga untuk kereta biasa meski seingat saya, harga kereta cepat JPY 1200 masalahnya tidak ada angka 1200), sehabis beli saya langsung menuju platform kereta dan langsung masuk gerbong sembarang (lha saya tidak bisa baca harus pake kereta dan gerbong mana), so langsung masuk saja terus kalau kurang tinggal bayar surcharge JPY 350, easy isn’t ? Ya jelas , wong saya baca informasinya sebelumnya untung dalam bahasa Inggris.

Akhirnya sampai lah di Meitetsu Station Nagoya City bersama dengan dua sahabat saya? Dua sahabat? Nih lihat fotonya.

Sampai di hotel seperti biasa saya langsung ritual jalan-jalan he2x ya itung-itung sinkronisasi dengan lingkungan tempat yang didatangi. Lengkap dengan kamera SLR saya bak pasukan masuk kota langsung beroperasi jepret sana jeprat sini dan menjelang senja kok badan saya lemas ya (apa karena capai perjalanan 16 jam dari Bandung?) rasanya out of mood gitu. So berjalan terus sambil lirak sana lirik sini nyari tempat untuk minum teh e ketemu di lantai 6F (Meitetsu Plaza) memang manjur teh (Hot Tea Cinamon Orange, JPY680) & Bake Chesse Souffle + bonus ice cream n daun mint (tiramisu, JPY580) seperti terekam jepretan dibawah ini.

Nama cafenya : Mother Moon Cafe , d/a Meitetsu- Young 6F 1-2-1 Meiki Nakamura-ku Nagoya

Oh ya kalau mau tahu lokasi gedung Meitetsu ini (link: http://www.flickr.com/photos/jmzach/2524384998/ )

Sambil jalan menyusuri malam, Nagoya City dihiasi pernak pernik neonsign yang menarik serta berbagai performer kesenian (Street Musician) yang menjajakan CD Indie Album mereka.

Mulai dari ki-ka, performer dari Amerika Latin dengan gitar listrik, ukulele serta alat tiup tradisional mereka sanggup menghipnotis para pengunjung untuk berhenti disekitar JR Takashimaya Building (perhatikan tugu dibelakang) dan juga beberapa menghentak-hentakkan kaki mengikuti irama dan tanpa disadari bergoyang. Mulai dari lambada terus ada lagu yang membuat saya terkejut lagu Kopi Dangdut-nya Fahmi Shahab yang sempat meledak di tahun 90an termasuk di Jepang, dinyanyikan dalam bahasa Amerika Latin. Foto ke dua dan terakhir dua- tiga anak Jepang dengan musik balada serta slow rock progresif mereka yang dilantunkan cukup menghentak . Dengan peralatan gitar akustik, gitar listrik, dan 1 “Kotak Ajaib” (Magic Box) begitu saya menyebutnya karena dari kotak ini akan menghasilkan efek suara drum yang lengkap (perhatikan saja jari tangan pemainnya terdiri dari beberapa prnik yang menyerupai cincin yang mengeluarkan efek suara berbeda saat ditabuhkan ke kotak “ajaib tersebut”). “Kotak ajaib” ini sangat lazim digunakan untuk performer di Jepang setidaknya saya sudah melihatnya di 3 tempat ( Nagoya & Osaka).

Ehm lanjut ya dengan pemandangan malam ya (soalnya lagi musim summer so panasnya gak ketulungan 37 derajat celcius). Setiap malam selalu saya lewatkan dengan jalan kaki sambil menenteng si Niko (eh Nikon) ya acaranya kl tidak cari makan malam atau lihat pemandangan malam dan merekamnya dalam bentuk foto (maklum tukang foto amatir).So saya share foto beberapa suasana tempat makan di jalan-jalan kecil Nagoya dan object lain sebagai berikut:

“I almost forgot to take a shot this object [Nagoya TV Tower ] at night [I also have forgotten to do it on my first visit [May-June 2008]. I didn’t have time on the last day [8 Aug 2008] because I had to reach some gift/souvenir shops at other district as my wife &amp; fam request … request for something to take home.”

Setiap sore sehabis pulang kerja, saya selalu menyusuri jalan-jalan baru di bilangan Nagoya City ya … semacam mapping gang/jalan baru (kadang tanpa peta) he2x hanya berorientasi gedung tertinggi di bilangan Nagoya yang salah satunya Gakuen Spiral Building.

Lanjut ya sambil jalan-jalan sore, menyusuri jalan baru e ketemu something special to share … pompa bensin dengan selang pengisi bensin yang tergantung di atas (bila sedang tidak digunakan) jadi kl pas pengisian bensin tinggal ditarik saja.

Sebelum lupa, di bilangan JR Nagoya Station ada satu pusat pertokoan yang besar yaitu JR Takashimaya, saya biasa beli makanan/roti di basement-nya dan kl suka dengan berbagai alat-alat kebutuhan sehari yang merupakan inovasi dari Jepang bisa ke Tokyu Hands di Lanati 4F JR Takashimaya Building Nagoya.

OK … sampai disini dulu ya “jalan-jalan”-nya kapan-kapan disambung dengan cerita dan liputan perjalalanan lain yang menawarkan sisi menarik lainnya.

nb: kl tertarik melihat reportase liputan perjalanan dalam bentuk kumpulan foto (fotografi) silakan kunjungi gubug saya di http://www.flickr.com/photos/jmzach

Oh,+ lagi ya terakhir, please …ceritanya ada kejadian yang menarik yakni sesaat saya menuju hotel tanggal 7 Aug 2008 malam saya menjumpai bis kota Nagoya dengan iklan besar di badan bis „ Garuda Indonesia“ langsung buru2x merogoh ponsel kamera saya untuk mengabadikan kejadian yang langka dan cukup membanggakan saya (bagaimanapun Garuda Indonesia merupakan flag carrier juga kan).Berikut foto bis kota Nagoya dengan iklan Garuda Indonesia.

Mumpung  masih  dalam  suasana peringatan hari Kemerdekaan RI ke 63 dan saya  ada  satu lagu  yang selalu mengingatkan  saya, kemana  kaki melangkah … sampai ke negeri orang … saya  selalu  rindu  Indonesia-ku.

DIRGAHAYU RI ke 63

 

nb: saya senang dengan lagu “Tanah Air”, terasa dalem gitu

“Tanah Air” Cipt: Ibu Soed

Tanah airku, tidak kulupakan

‘kan terkenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh

Tidak kan hilang dari kalbu

Tanah ku yang kucintai,….engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani,

Yang mashyur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku,

Disanalah ku rasa senang

Tanah ku tak kulupakan

Engkau kubangkakan

 Videoclip taken from http://www.youtube.com/watch?v=iWKhYvfJOk4

Sendai (Miyagi Region)

Hampir  semibilan jam setelah  gempa  di Sendai (lihat posting sebelumnya), saya  harus  bersiap-siap menuju Osaka. Kebetulan  saya  tidak  mengalokasikan waktu khusus untuk jalan-jalan di Sendai  karena saya   merencanakan  stopover di Osaka selama dua  hari. Ternyata di Sendai  ada obyek  menarik yang  penting  seperti  pabrik kamera  DSLR  NIKON dan Danau  Kawah (Creater Lake) Zao range … wah  sayang ya  saya  baru tahu  ke dua  lokasi ini  saat  setelah  saya  sampai di Indonesia.

Perjalanan menuju  Sendai Airport harus  dilalui  dengan subway (kereta  bawah tanah) dari Kotodai Koen Station menuju Sendai Station  selama empat  menit (lihat gambar rute ke Sendai Airport samping, klik kanan untuk melihat lebih detail source: access.pdf )  dan diteruskan dengan jalan kaki  dua  menit  keluar Sendai Subway station  menuju Sendai Sta  untuk berganti Airport Train. Perjalanan  ke  Sendai  airport dengan tiket seharga JPY 630 ini  menempuh waktu tiga puluh  menit.

Begitu sampai di Sendai airport  saya langsung menuju Japan Airlines (JAL counter), setelah  check in saya  langsung menuju toko souvenir di sana. Yang  cukup unik dari  toko souvenir  di beberapa bandara di Jepang  yang pernah saya kunjungi (Centrair Nagoya airport, Kansai Osaka airport & Sendai airport yakni selalu  tersedia  souvenir/merchandise dari klub baseball liga  profesional dari masing-masing kota tersebut (The Dragon Nagoya, Tiger Osaka dan Eagle Sendai) baik dalam  bentuk kaos tim, topi, miniatur pemain  andalan, miniatur  bola baseball dan lain-lainnya (Liga baseball ini  memang salah satu dari olahraga  yang  digemari masyarakat Jepang selain olahraga Sumo). Sendai  airport  sendiri  termasuk kategori airport yang lebih kecil kelasnya  jika  dibandingkan Kansai airport ataupun Centrair airport, namun demikian juga melayani jalur international menuju China dan Korea.

Sepuluh menit  menjelang take off  ternyata ground staff  JAL  sudah mencari saya  (seorang  penumpang) yang masih foto-foto mengabadikan sisi  menarik bandara Sendai ini.

Sang ground staff JAL sedang mencari saya “sang  penumpang  terakhir”  he2x

 

Akhirnya  dengan hanya 7-9 penumpang, pesawat JAL  berjenis MD81 ini mengangkasa selama satu   jam dua puluh menit menuju Osaka.

Osaka (Kansai Region)

Saat sebelum mendarat di bandara Kansai Osaka (KIX) ini, bahwa pesawat  harus  bermanuver  mengelilingi  hampir   setengah  lingkaran sebelum mendarat. Yang teristimewa dari bandara  ini adalah   dibangun  di tengah laut yang dihubungkan jembatan ke daratan sepanjang kurang lebih dua km. Dulunya  Osaka  memiliki  bandara  yang berada di  tengah kota  Osaka, namun karena dirasa  cukup  bising (begitu cerita  salah seorang penumpang  yang  penduduk asli Osaka ini) maka dibangunlah bandara Kansai  yang berdiri  di “pulau” tanah urukan dari  garis  pantai  ini. Saya pun sempat  mengabadikan pemandangan di sisi  bandara baik jembatan  yang menghubungkan bandara  dengan daratan kota Osaka dari jendela pesawat (foto bawah).

Jembatan (melintasi laut)  yang menghubungkan daratan Osaka-bandara Kansai

Sesaat  setelah mendarat saya  segera menuju  bagian baggage claim, oh ya saya  sempat foto  proses  bagaimana rampway (garbaraata/belali gajah) yang  didekatkan sampai  ditempel ke  badan pesawat (lihat  foto di bawah ini, right click please to zoom in!).Setelah pintu pesawat  dibuka sehingga  penumpang leluasa  berjalan menuju airport disembarkcation melalui  rampway ini. Sesegera setelah keluar  badan  pesawat  (berada di rampway) saya  biasanya  suka  menyentuh/menepuk-nepuk badan pesawat  … seolah  berkomunikasi  dengan si burung besi ini sambil berkata  ”Terima kasih ya“  dan  tentu  saya  juga  sudah  mengucap syukur  kepada Tuhan juga bisa  tiba dengan selamat. Sesaat keluar melalui pintu depan pesawat  (berada di ramp) segara saya  membalikkan badan dan sejenak “klik  …klik”  dua shot saya  ambil. Setelah saya  check di rumah foto ini (lihat  foro di bawah ini) saya  kaget dan bangga  juga  karena  saya  melihat dengan  jelas brand dari pembuat  rampway ini di foto tersebut dibawah ini (right click please to zoom in!) yakni: BUKAKA (perusahaan milik anak negeri yang  produknya  digunakan  bandara terkemuka di  luar negeri). Saya  sempatkan untuk  search  link  berita ttg  prestasi Bukaka  ini  di internet dan dapat  Anda  lihat  di  Angkasa-Online edisi Febuari 1999 (berita  paling bawah).

Sayapun  cukup  kaget juga  begitu tahu  hanya  dua penumpang yang  mengambil bagasi (termasuk saya) dari total tujuh penumpang pesawat  ini. Suhu di kota  Osaka  ini cukup panas  ( kira-kira empat  puluh-an derajat  Celcius ) berbanding terbalik dengan   suhu/cuaca di Sendai  yang  cukup  dingin dan terbilang  sering mendung dan hujan, sehingga  tak jarang pada event tertentu seperti  Festival Tenjinmatsuri  kemarin, banyak  yang memberikan  kipas  gratis dengan motif gambar  yang berisi pesan sponsor.

Saya langsung menuju  ke Osaka airport station dan membeli  tiket  ke Tennoji  menggunakan tiket machine seharga JPY 1030. Menariknya  menggunakan kereta  JR ini  hanya  terdiri dari  gerbong, berangkat dari airport dan akan berhenti di station Hineno beberapa sesaat untuk kemudian  disambungkan dengan gerbong kereta dari arah lain (Wakayama  )  sebelum menuju ke Tennoji/Osaka Loop dengan waktu tempuh 35-45 menit.

Di dalam kereta dari Kansai Airport sedang menyebrangi laut menuju kota Osaka

Sesampai di Tennoji Sta, saya  melanjutkan menuju Super Hotel Tennoji Osaka (sama dengan hotel saya waktu extend beberapa hari selelah dinas di Nagoya Juni lalu). Hotel ini cukup nyaman bagi saya dengan harga 30% lebih  murah dari rate hotel saya saat dinas empat  hari sebelumnya ini, dilengkapi dengan free  internet, free kolam  pemandian khas Jepang dan free telepon international (saya  tidak  sempat mencoba)  serta sistem PIN untuk kunci kamar dan yang merupakan  ciri  dari Super Hotel ini adalah tidak ada proses  check-out (jadi  ya  tinggal  keluar aja dan nantinya  PIN akan expired  pada  hari  check-out).

Saya  pun meluncur  ke Tennoji Sta untuk mencari tourist information di sana (lazim di setiap  stasiun yang  cukup  ramai  beserta dilengkapi tourist information). Aha …setelah  mendapat penjelasan dari seorang  wanita berumur tiga puluh-an itu tentang sightseeing spot kota Osaka ada info  yang sangat  menarik bahwa pada hari itu ( tanggal 24-25 Juli 2008 ) sedang  dilakukan festival mulainya  musim panas (summer) yaitu Tenjimatsuri Festival Osaka yang termasuk satu dari tiga  festival tahunan terbesar di Jepang setelah    Gion Matsuri Kyoto  dan …. ).

Osaka Castle

Pagi hari (25  July 2008), saya  memutuskan pergi Osaka Castle dengan menumpang kereta  menuju Osakajokoen Sta. Berjalan sekitar sepuluh menit sampailan  saya di komplek Osaka Castle dan segeralah saya melakukan  “ritual” pengambilan gambar  di sana sini, membidik puncak Osaka  Castle  yang telah  menyembul dari  kejauhan. Tentu  saja yang membuat  menarik dari Osaka Castle  ini  adalah  nilai sejarahnya (sejarah perang  kaum Samurai saat perang Osaka, yang kata istri saya  sejarahnya  dapat  dibaca di   Novel Taiko karangan Eiji Yoshikawa) dan  juga  kolam air berwarna hijau lumut yang  mengelilingi  benteng  Osaka  Castle  ini. Jika  saya  bandingkan  dengan  Nagoya  Castle, Osaka  Castle lebih  pendek dan Nagoya Castle juga  dikelilingi  parit-parit air besar namun sarat air (baca kering, saat  saya  kunjungi awal  bulan  Juni 2008).

Dengan harga  tiket  masuk  Osaka  Castle sekitar JPY 600 ini,  kita  sudah  bisa  menikmati bagunan enam  lantai ini mulai dari bagian atas (roof top) melihat ke semua  punjuru mata  angin  kota Osaka, kemudian turun ke bawah untuk melihat sejarah  beberapa jenderal  perang beserta  baju kebesarannya berikut  panji perangnya  serta  beberapa  skrip/tulisan  tangan surat-surat  dan  foto dari para  kaum samurai  tersebut, cerita sejarah dalam  bentuk tampilan animasi  tiga  dimensi  dengan teknologi  tinggi, miniatur pasukan perang  Osaka (lihat foto bawa) dan  akhirnya  di lantai  bawah saya  sempat membeli medali Osaka  Castle  yang cukup  unik seharga JPY300.

Miniatur  pasukan perang Osaka  dengan panji perangnya

Waktu saya  kesana, sedang ada  perhelatan  besar yang ditandai persiapan penyambutan tamu-tamu khusus serta  stasiun televisi  yang sudah dalam persiapan akhir dengan tata  lampu dan sistem pentransmisian gambarnya  (mungkin perhelatan/acara  tersebut  akan disiarkan secara langsung).

Osaka castle yang  dikelilingi benteng dan parit yang berisi  air hijau tua

Festival Tenjin Matsuri   Osaka [24-25 Juli 2008]

Lalu saya  segera meninggalkan komplek Osaka  Castle  bergegas menuju Morinomiya Sta dan naik kereta untuk  menuju Minami Morimachi Sta (transit &  makan Unagi Don Buri di Tanimachi 4-chome Sta).

Menyantap makanan khas  musim  panas (summer) Unagi Don Buri

Sesampai di Minami Morimachi Sta, saya  segera berjalan  cepat  menuju Osaka temmangu Shrine yang merupakan kuil agama Shinto  yang merupakan tempat mulai festival Tenjin matsuri. Tepat  jam 16.00 sesuai  waktu  direncanakan parade  dibuka  dengan tarian muda-mudi dengan alat musik semacam Wood Castanget (Baca : kastanyet)  ini  yang menemani  anak perempuan kecil  yang menari  payung (lihat foto dan cuplikan  video dibawah ini).

Para pemudi sedang menarikan tari Hanagasa di kuil Shinto sebelum berparade 

Atraksi  lainnya adalah  sekumpulan pria memanggul  miniatur bangunan sambil mengitari halaman kuil  tersebut  dalam  gerak dan suara  yang  rampak dan harmoni serta  memberi  nuansa  semangat kebersamaan  ini. Prosesi selanjutnya  dilanjutkan  dengan  parade  pakain tradisional  serta  tari kipas  dari  grup ibu-ibu dengan balutan  kimono yang anggun.

Satu demi satu peserta  meninggalkan  kuil  tersebut  untuk  melakukan parade (Riku-Togyo/Land Procession)  sepanjang jalan Oimatsu-Dori  menuju jembatan Tenjimbashi untuk melanjutkan  prosesi  menggunakan  perahu (Funa-Togyo/Boat Procession) mengelilingi sungai   Okawa  yang  membelah kota Osaka dan pada malam harinya  dilanjutkan dengan  atraksi  kembang api. Sisi  lain  yang menarik dari festival ini, adalah  melihat  banyaknya  penduduk  kota  Osaka  yang menggunakan pakaian  tradiosional mereka  kimono baik laki dan perempuan.

 

Tenjin Matsuri Fest  2008, Source:Photoguide.jp http://jp.youtube.com/watch?v=Kk647KVlVic

Waktu  sudah  menunjukkan  pukul 20.00 malam saatnya  saya  pulang ke hotel untuk mempersiapakan segala sesuatunya (packing)  untuk penerbangan saya  ke Jakarta  via Singapore besok  pagi.

Akhirnya tanggal 26 Juli 2008 pagi saya  meninggalkan Super Hotel Tennoji Osaka begitu saja he2x, karena  memang tidak  ada prosedur  check-out karena  pembayaran sudah  dilakukan sebelumnya  dan tidak  perlu mengembalikan  room card karena kamar diproteksi dengan sistim  PIN.

Ada tip  yang perlu  diperhatikan saat naik kereta  ke Kansai airport, ada delapan   gerbong yang terdiri   gerbong 1-4  khusus  ke Kansai airport dan empat gerbong  sisanya ( gerbong 5 – 8 ) menuju Wakayama yang  digabung jadi  satu rangkaian dan baru saat  tiba  di  Hineno Sta, rangkaian  gerbong 1-4 dipisahkan dengan rangkai gerbong 5- 8  untuk  menuju  tujuan masing-masing. Jadi harap  teliti sebelum memasuki  gerbong sebab gerbong 4   dan gerbong 5 tidak ada connecting door-nya.

Sampai lah saya di Kansai international airport (KIX), lalu  check-in di  lantai 4 dan juga  turun   ke   lantai 3 untuk melihat  beberapa  cinderamata Jepang, kimono, pakaian  festival  ala Jepang yang sudah  saya idam-idamkan  setelah melihat Festival  Tenjin Matsuri di Osaka kemarin.  Kansai Airport  memberlakukan larangan  merokok di tempat umum kecuali di restoran. Namun khusus di resto dengan catatan larangan merokok  hanya  berlaku pada  jam 11.00-14.00. Tepat  pukul 11.00 (GMT+9) saya  meninggalkan Osaka  menuju Singapura.

Sampai di  Singapura saya  punya waktu tiga jam untuk jalan-jalan  sebelum meneruskan flight  ke Jakarta so toko  buku-lah (Times NewsLink bookstore) yang menjadi incaran  saya dan seperti  biasanya  kalau ke toko  buku ( baca gramedia ) begitu  keluar  ada  aja  yang ditenteng  ha2x yaitu buku Etiquette Guide To China & buku kecil World Atlas (The world in your pocket)  langsung saja buku-buku itu dengan manis dimasukkan ke tas sambil saya  mengeluarkan laptop untuk menjalani security checking saat  masuk gate F41 (SQ 966). Setelah itu  kencangkan seat belt dan ready  to take off.

Thanks God, akhirnya saya sampai dengan  selamat di Jakarta sehingga  saya  bisa  menulis  posting dengan harapan lewat  tulisan  ini bisa sedikit  memberi potret perjalanan dan kondisi  kota Osaka dan Sendai Jepang.


Source:Youtube.com

Sampai saat ini (dinihari ini)  TV Jepang menurunkan  berita ttg  gempa  bumi ini dan terus  memutar  rekaman ulang  gempa  yang  terjadi selama 28 detik ini. Saya  berusaha  mencari  tahu  tentang  gempa  ini via  internet dan rupanya  belum ada berita  terbaru sampai  dini hari ini (jam 01.00) .

Tadinya  saya mengira  gempa  tengah  tengah malam ini seperti gempa dua hari yang  lalu (malam  21 Juli 2008)  yang setelah beberapa  detik akhirnya reda, namun gempa  terakhir ini ternyata  semakin  lama  semakin kencang  dan saya  memutuskan  keluar  kamar sesegera  mungkin  dan  sempat  bertemu dengan kolega saya  (Suriansyah) yang menginap di hotel yang sama dan  segera turun enam  lantai melalui tangga darurat (staircase). Padahal  prosedur tetap  gempa yang benar adalah berlindung dibawah meja, ya tapi  ya  udah  keburu  panik &  goncangannya  keras  sekali  ya  langsung  kabur  ke  bawah berpacu dengan waktu.

Sekian  info  terakhir dari gempa bumi di Sendai 24 Juli 2008  dini hari … dan  semoga  tidak ada  gempa  lagi  dan  tidak  ada  korban yang berjatuhan … amien.

Sendai, 24 Juli 2008 (pukul 01.21)

 

Update:

Baru  jam 02.00 dinihari ini (LIVE di TV Jepang) ada konferensi press  ttg  gempa  ini namun berhubung saya  tidak  bisa  bahasa Jepang  so  I have  no idea  what’s the information regarding this earthquake.

-Gempa  ini berkekuatan 6.8 skala Ricther (berdasarkan data  National Environment Agency  Singapore )

- Japan’s Northeast Hit by Magnitude-6.8 Earthquake; 65 Injured [ Bloomberg.com ]

- 6.8 quake rocks Tohoku [ The Daily Yomiuri ]

 

Pemandangan dari udara.

“Hot Towel Sir!” sapa pramugari halus membangunkan saya tepat jam 07.00 waktu bagian udara (he2x …  still flying accross somewhere).

Aha … lumayan sapuan handuk kecil panas di wajah langsung membuat wajah menjadi segar seketika ini  juga  merupakan prosedur standar bagi pramugari/pramugara SQ untuk mulai melayani breakfast penumpang 90 menit sebelum si burung besi bernomor SQ672 mendarat di Nagoya. Setelah quick breakfast, saya pun melongok ke arah jendela dan sejenak terkesima melihat jelas kota dengan hamparan pemukiman diapit bukit-bukit hijau … sambil bergumam …kota apa ini ya? Untuk perkiraan saya  sementara, kota ini adalah Kyoto (bila dilihat dari lokasinya di peta monitor depan kursi saya. Akhirnya, saat berkesempatan mengunjungi Kyoto dan berada di salah satu roof top floor di Kyoto station, saya pun semakin yakin setelah  melihat bukit-bukit yang mengitari kota ini dan tentu saja setelah bertanya  pada rekan saya  yang  berdomisili  di Kyoto.

Centrair Japan Airport (Chubu Airport)

Suasana  di  Centrair Japan Airport [ltr belakang  pesawat Korea Air]

Akhirnya tepat jam 08.30 waktu Nagoya (setelah menempuh 6 jam 25 menit perjalana dari Singapura) roda burung besi yang membawa saya menyentuh landasan dengan mulus. Sambil lalu  saya melihat pemandangan yang menarik dari dalam pesawat,  saya bisa melihat jelas kapal laut yang sedang hilir mudik maklum airport ini terletak dipinggir laut juga (ya mirip dengan  Bandara Sepinggan Balikpapan lah).

Tips: begitu mendarat di  Jepang, persiapakan diri  dengan tata bahasa Jepang dasar/basic : seperti Subyek (S) +Obyek (O) baru diikuti Predikat (P)  termasuk untuk bahasa sehari-hari untuk   travelling, shopping, asking some helps & etc)  dan  jangan   lupa  pocket dictionary …kalau-kalau  kita  tidak tahu padanana katanya  dalam bahasa Jepang. Semua  itu  untuk jaga-jaga  kalau ketemu orang lokal  yang tidak bisa  bahasa Inggris  dan  situasi/kondisi seperti ini sangat  sering terjadi di  Jepang.

Pemeriksaan random orang asing oleh polisi lokal

Setelah melewati imigrasi (plus rekam sidik jari &  foto ) dan custom, akhirnya beres dan keluar tepat di  bagian arival sambil clingak sana clinguk sini … sambil mencari jalan menuju ke MRT dengan jurusan Centrair Japan Airport (Chubu Airport) menuju ke Nagoya.
Eee, ada seorang dengan jas lengkap sambil menunjukkan lencanannya dan memperkenalkan diri dari kepolisian Nagoya berpangkat Inspektur xxxxxxxx (yang jepas  bukan Inspektur Vijay tentunya  he2x), sambil menanyakan paspor, maksud dan tujuan kedatangan di Jepang, kantor yang akan dikunjungi (bila kita menjawab alasan kedatangan kita karena bisnis) dan mencatatnya dengan seksama. Saya sempat ragu dan minta si polisi ini menunjukkan lencananya untuk kedua kalinya dan dengan senang hati beliau mempertunjukkan lencanannya sampai saya benar2x agak yakin (soalnya masih kaget saja). Saya jadi ingat rekan saya yang tampang melayu juga pernah ditanya dengan sopan oleh seorang polwan dengan prosedur yang sama dengan yang saya alami.

Tips: baiknya dimana kita berada pastikan kita tahu/kenal lambang kepolisian negara yang bersangkutan & prosedur standar kepolisian setempat berkaitan dengan orang asing. Termasuk cek nomor telepon darurat  polisi  di sana (biasannya  pake dial standar internasional  110) dan kalau ada catat nomor  telepon Tourism Police.

Menuju Nagoya

Jarak antara Centrair Japan Airport (Chubu Airport) dengan Nagoya sekitar 46 km dan dapat ditempuh sekitar 35 menit dengan beberapa kereta salah satunya Meitetsu Line (Rapid Limited Express , dengan harga 1200 Yen) yang hanya berhenti di dua statiun antara sebelum sampai di Nagoya station plus ada tv monitor untuk melihat view di bagian depan layaknya kita berada di lokomotif lengkap dengan level kecepatannya seperti foto jepretan saya di seperti foto di bawah ini:

Layar monitor  Rapid Limited Express

Ada juga kereta lain yang lebih murah (sekitar 850 Yen) namun pemberentiannya di 10 station antara sebelum mencapai Nagoya station dengan waktu tempuh 45 menit. Kalau  mau naik  taksi  juga  bisa  tapi  mahal banget, saya  pernah  lihat rate-nya  di  website  sekitar 15.000 Yen ( hampir  10x harga tiket kereta api dan  jangan  coba2x  kurskan ke  rupiah wus  … langsung  pingsan  lihat  hasil kursnya  jadi  Rp. 1.500.000,00 … kl  gak pingsan  … berarti  Anda  masuk kategori mapan  ha2x.

Nagoya Station
Sampai di Nagoya, saya langsung menuju hotel yang memang letaknya di dalam atau merupakan bagian yang terintegrasi dengan Nagoya station. Saya perhatikan ada dua hotel yang terintegrasi dengan Nagoya station ini yakni Marriot Nagoya Terminal Hotel & Associa Nagoya Terminal Hotel yang juga berdampingan dengan JR Takashimaya serta terminal bis. Nagoya station ini cukup besar yang merupakan interchange dari beberapa kereta baik yang dari airport, Shinkansen (Tokyo-Nagoya-Osaka) maupun subway (kereta di bawah tanah yang menghubungkan sentra-sentra  di kota Nagoya. Saya sendiri sempat tidak percaya, melihat keramaian orang-orang yang luar biasa padatnya di station ini yang berjalan sangat cepat (mungkin mengejar kereta berikutnya?). Kalau kita lihat dari lantai atas, terlihat seperti segerombolan semut yang banyak sekali yang bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain dan bertemu gerembolan semut yang lain dengan tidak kalah banyaknya dari arah yang berbeda. Dan  satu  lagi, profesional yang wira-wiri di seputaran  Station Nagoya dan sekitarnya rata-rata  modis  dan trendy lengkap dengan  stelan lengkap jas untuk profesional  pria-nya seperti foto di bawah:

 

Profesional  muda  lengkap dengan jasnya

Nagoya kota bersepeda

Nagoya surga untuk bersepeda, tidak heran kl sepeda dimanjakan dengan area parkir khusus dan pejalan kaki harus awas karena ada pesepeda yang cukup kencang dan manuver layaknya pesawat tempur yang muncul dari belakang maupun dari depan kita. Oh ya tentang hal rokok/merokok, saya perhatikan di bis/rumahmakan bahkan di Shinkansen (kereta api cepat Tokyo-Nagoya-Kyoto) perokok dimanjakan dengan kondisi ini, dengan santainya mereka merokok di ruangan ber-AC tersebut. Khusus di kereta api Shinkansen saya perhatikan seperti ada semacam alat penghisap asap. Di lain pihak,khusus untuk  wilayah  publik seperti station, taman  atau jalan/halte bis memang  dilarang  untuk merokok.

Shinkansen (The Bullet Train)

Shinkansen saat  akan memasuki Nagoya Sta.

Ikwal tentang Shinkansen ini sudah lama saya dengar sejak saya kecil. Dengan bentuk lokomotif yang mirip moncong pesawat begitu aerodinamis dan menyatu dengan gerbong-gerbongnya, so saya sudah merencanakan untuk menggunakan Shinkansen untuk perjalanan saya Nagoya-Kyoto-Osaka. Shinkansen (The Bullet Train) ini merupakan kebanggaan transportasi cepat oleh bangsa Jepang, selain itu kereta ini pemersatu/penyambung antar kota di seluruh Jepang. Saya pun menumpang Shinkansen dari Tokyo dari Nagoya menuju Kyoto dengan harga tiket 5600 Yen sekali jalan (Rp.560.000,00). Kalau harga tiket Tokyo-Nagoya 10.000 Yen (Rp. 1.000.000,00). Pembelian tiket dapat dilakukan dengan tiket machine dengan kartu kredit.

Tips: pastikan kartu kredit anda sudah dilengkapi PIN, karena saat pembayaran Anda harus memasukkan PIN tersebut).

Kalau anda berencana pulang pergi dalam kurun waktu dua hari, anda dapat memesan round trip ticket dan dapat pulang-pergi kapan saja asal dalam dua hari yang telah ditentukan tersebut (dengan catatan pemesanan tiket Anda bukan yang seat reservation). Dan kalau berangkat dengan tiket no reservation (tidak reservasi)  tiket untuk gerbong 1-3, siap2x saja untuk berdiri pada weekend karena Shinkansen ini memang penuh untuk orang yang balik dari mudik untuk kerja di hari Seninnya. Andapun dapat merencanakan  jam berapa  anda  ingin berangkat/sampai di kota  tujuan dengan bantuan travel planner di link ini http://www.tabi-o-ji.com/shinkansen/schedule/schedule_en.html .

Kyoto Station
Begitu sampai Shinkansen sampai di Kyoto Station, saya segera bersiap keluar dan melangkah di platform station  sambil bersiap untuk mengambil foto beberapa Shinkansen yang hilir mudik dari Osaka dan dari arah Nagoya/Tokyo. Kemudian saya, menuruni tangga melewati underpass menuju shop area & resto di bagian bawah sebelum menuju bagian exit.
Sesaat akan keluar dari Kyoto Station ternyata bagian ini ternyata yang paling besar sekali, dengan bagian atas dihiasai platform baja dengan arsitektur yang menarik. Pada bagian ini terdari dari beberapa level, dimana di tempat ini meupkan interchange antara kereta Shinkansen, Subway (kereta bawah tanah) & bis. Coba saja naik eskalator ke bagian atas, maka ada panggung dengan anak tangga bertingkat ke atas untuk para pononton duduk. Kebetulan pertunjukkan pada taganggal 1 Juni 2008 lalu adalah orkrestra dari beberapa pelajar SMU se Kyoto. Kalau mau lihat kota Kyota coba naik eskalator ke level yang paling atas dan Anda bisa menikmati kota Kyota dari berbagai arah sambil bersantai pada taman di tengahnya.

Pertunjukan  orkestra siswa SMU di Kyoto station

Kyoto
Berbicara tentang Kyoto ya tentu, ingatan langsung melayang pada kota peradaban Jepang jaman dulu dengan peninggalan2xannya seperti kuil-kuil. Saya sih cuma sempat mengunjungi dua kuil di seputaran kota Kyoto. Dan puas memfoto Kyota Tower yang begitu eksotik menjelang senja.  

Pelataran  atas Kyoto Sta ini cocok  untuk “mojok”

Nagoya Castle
Nagoya Caslte udah masuk dalam urutan prioritas yang wajib dikunjungi. Untuk mencapai saya harus naik Subway dua kali ganti kereta (transit di Sakae Station) dan berhenti di CityHall. CityHall ini ya juga peninggalan jaman dulu seperti layaknya gedung pusat pemerintahan. Untuk mencapai Nagoya Castle tidak sulit cukup jalan kaki sekita 2-3 km sepnjang  Dekimachi-dori road dan sampai deh di sana. Yang  mengesankan saya  waktu saya  salah  ambil  jalan alias  nyasar dan setelah nanya arah  Nagoya Castle  mana dalam  bahasa Jepang yang pas-pas2xan (red: orang lokal  lebih mengenal Nagoya  castle  dengan naman  Donjon), akhirnya  saya  sampai di sana. Benar juga  kata  penduduk lokal itu  “Kamu  jalan  sedikit dan setelah jembatan penyebrangan itu, kamu bisa  melihat  puncak Nagoya Castle dari kejauhan”. Dan saya pun  takjub saat sudah  lelah karena  salah jalan dan  melihat  Nagoya  Castle dari kejauhan seperti foto  yang saya  ambil dibawah ini:

Foto Nagoya Castle dari kejauhan

Bangunan yang begitu eksotik, begitu menyihir saya saat terlihat menyembul dari rimbunan pohon-pohon. Kamera saya terus menyalak mengabadikan Nagoya Castle di sore hari itu meski gerimis hujan turun.

Suara burung serta binatang rusa yang mengitari parit sekitar Nagoya Castle tersebut menambah suasana menjadi  khas. Setelah hampir dua jam sibuk berfoto ria, saya memutuskan masuk ke dalam bangunan tersebut. Bangunan dengan tujuh tingkat ini sudah pernah dipugar untuk menambah kekuatan kontruksinya tanpa merubah bentuk aslinya. Pada tingkat 1- 6, disajikan maket area Nagoya Castle yang luas itu, rumah-rumah tradisional  Jepang yang di sekitar nya lengkap dengan tata lampu dan audio visual yang memberi gambaran pada kita bagaimana suasana daerah pemukimana tersebut (subuh menjelang pagi, siang, senja dan malam) … lewat bantuan audio visual, meski tanpa  guide  sekalipun  pengnjung dapat merasakan suasana tersebut. Sambil menyusuri tangga kayu yang asli dengan penguat besinya, akhirnya  sampai ke tingkat teratas yaitu bagaian puncak (lantai 7). Dari sini kita dapat melihat dari semua penjuru arahmata angin dengan teropong. Saya sendiri langsung mengabadikan dari semua penjuru lewat kamera SLR saya. Kalau Anda tidak kuat menaiki tangga, ada lift yang siap mengantarkan Anda ke atas.

Oh, ya ikuti petunjuk dan larangan seperti dilarang menggunakan flash pada lantai tertentu dan ada area tertntu yang kita tidak boleh memotret sama sekali.

Bunga

Bunga Hydrangea

Bunga  ini saya temukan di roof top  Kyoto Station [Kyoto]. Yang namanya bunga-bunga di Jepang … banyak macamnya apalagi kl pas awal April – Mei wuih plus bunga sakura yang indah itu. Ada juga taman yang khusus untuk wild flowernya … bunga-bunga liar namun indah.

Oasis 21 & Nagoya TV Tower
Terletak di daerah Sakae yang merupakan daerah hang out di Nagoya ini (bisa dibilang Orchard road-nya ala Singapore atau kawasan Nanjing road ala  Shanghai  di Nagoya). Oasis 21 merupakan terminal bis di bawah tanah dengan arsitektur yang kontenporer dengan bagian yang terbuka ke arah jalan serta bagian atas (roof floornya) yang transparan dan pengunjung bisa melihat Nagoya TV Tower dan sekitarnya  semakin dekat.
Ada beberapa tempat lainnya yg tidak sempat saya kunjungi: Noritake (tempat pembuatan alat2x makan tradisional Jepang), Toyota Museum, Maritime Museum dengan view melihat Pelabuhan Nagoya (Nagoya Port/Nagoyako).

Unik

Di Jepang, vending machine (konter minuman/rokok otomatis)  adalah  hal yang lumrah dan it a must provided at any places termasuk pinggir jalan. Ya  kalau dibandingkan dengan kita (di Indonesia)  ya  vending  machine sebanding  dengan jumlah warung  rokok kecil   yang ada pinggir jalan.  Waktu  jalan kaki seputaran kota  Nagoya  saya  menemukan vending  machine dengan  tulisan  Gudang Garam Nusantara wah seneng  juga  ada  produk nasional masuk pasar  Jepang he2x.

Foto vending machine Gudang Garam Nusantara di Nagoya

Hotel Unik

Saya extend tiga hari setelah dinas  lima  hari di Nagoya, so  saya  pindah  hotel  cari yang lebih murah dan atas  bantuan  rekomendasi  rekan2x di milis  Jalan Sutra dan IA-ITB, dapatlah Super Hotel  Nagoya Ekimae dengan rate 1/2 dari rate  harga  hotel  saya  sebelumnya (11.000 Yen/night). Jadi lah saya  check-in, saat itu  kita  langsung bayar untuk tiga hari ke depan karena di hotel ini  tidak ada prosedur  check-out and  bagaimana pengembalian kartu akses ke kamar bila  tidak ada check-out? ho-ho di hotel ini  tidak pakai  kartu2xan semacam itu, yang berlaku ya  sistem PIN (mau buka  pintu: pejet PIN kamar Anda!), jadi  begitu  lewat jam check-out ya  PIN kamar Andapun akan  expired. Hotel  ini  masih terletak disekitar  JR Nagoya station dan  yang  menariknya  saya  dapat kamar  yang  jendelanya  langsung  menghadap  ke rangkaian rel-rel dari JR Nagoya station ini dan tentu saja  tiap 5-7 menit  Shinkansen (kereta api cepat  Tokyo-Nagoya-Osaka) tak bosan-bosannya  lewat  di depan kamar eh malah lewat  meja  saya  he2x ndak percaya ? (lihat foto di sebelah ini).

Tips:  Perlu diperhatikan  jam  check-in di Jepang sekitar jam 15.00 dan  jam check-out nya  sekitar pukul 10.00/11.00.  Saya  pernah  check-in 2 jam lebih cepat pada suatu hotel dan  harus  menambah biaya  ekstra 2400 Yen dan pada  hotel  yang  lain  ada  juga  yang cukup tegas  dengan aturan itu alias  saya  harus  nunggu sampai  check-in jam 15.00. So  yang paling sengsara  saat pindah hotel  dari satu daerah ke  hotel  lain  seperti pengalaman  saya  kemarin yang harus  check-out  jam 10.00/11.00 sedangkan  baru bisa  check-in di hotel  lain  baru jam 15.00 so  ya  nongkrong  dulu  di kafe  he2x killing time deh yang jadi solusinya.

Kuliner

Terus  terang selama  beberapa hari di Nagoya, saya  makannya  yang standar dalam kemasan di area JR Takashimaya Food Court  (sisi basement-nya) ya  tinggal  nunjuk  makanan  yang  sudah ada  harganya yang  ada di display sambil bilang “Kore o kudasai” (artinya: Tolong beri yang  ini). Range  makanan di  Nagoya  ini  dari yang  ala kadarnya mulai dari 500 Yen (Rp. 50.000,00) sampai  1600-an Yen (Rp. 160.000,00) yang sudah jelas  dijamin kenyang banget alias menunya  komplet banget pernak-perniknya. Saya sempat diajak makanan di  suatu resto yang terkenal (di daerah Sakae)  dengan  masakan  terkenal yang berasal dari Nagoya yaitu Hitsumabushi ya  semacam ikan yang  berbentuk mirip ular  yang  hidup di air  tawar/danau  ( dalam  bahasa Inggris  dikenal  dengan istila  eel). Definisi dari eel ini  saya  kutip dari http://www.oup.com/oald-bin/web_getald7index1a.pl adalah sbb:

a long thin sea or freshwater fish that looks like a snake. There are several types of eel, some of which are used for food: jellied eels

Jadi Hitsumabushi kalau dalam  bahasa Inggris diartikan menjadi  Grilled Eel on Rice. Makanan ini  enak  banget &  gurih disajikan  dengan cara dibakar dengan  kecap manis ehm, membuat makanan  yang  harganya 1600 Yen (Rp. 160.000,00) per paketnya layak untuk di coba  bila  Anda  berada di Nagoya (tepatnya di daerah Sakae). Saya  tidak sempat mencatat  alamatnya karena  alamatnya ditulis dalam aksara Jepang so saya pun berharap unutk  melihat  websitenya sehingga  bisa mempelajari lebih dalam  ttg makaanan ini beserta  resto-nya. Namun perkiraan saya  salah, begitu klik link resto-nya http://www.hitsumabushi.com/ ternyata websitenya  bertuliskan  aksara Jepang … lho? Saya pun mencari referensi makanan  ini, di paman google dan  kalau anda  tertertarik untuk melihat  seperti apa  makanan ini klik aja link2x berikut ini:

- http://fiveprime.org/hivemind/Tags/eel,nagoya 

- http://www.japan-hopper.com/2007/12/21_181226.php

-http://www.ncvb.or.jp/en/contents/sightseeing/gourmet/  (Untuk makanana yang  recomended di Nagoya)

Oh, ya  kalau mau beli oleh-oleh makanan  ya  ada satu  tempat  yang recomended yakni  di dalam JR Nagoya Station yakni GIFT STATION. Sempat  pas  hari Minggu malam  kemarin  terjadi  antrean  panjang  orang yang akan  berpergian dan menyempatkan diri  berbaris  untuk membayar oleh-oleh makanan yang mereka beli seperti foto di bawah  ini:

Antrian panjang  saat  membayar di Gift Station

Oh, ya  saya  juga  punya  lenggananan  di foodcourt JR Takashimaya (basement) yakni  FAUCHON Paris bakery khususnya  roti  gandum dan bahkan ice cream mocha-nya  yang  juga  disajikan di pesawat  Singapore  Airline  saat  terbang dari Nagoya  menuju Singapura.

 nb: Tulisan  ini  akan terus  di-update termasuk dengan foto-foto   yang relevan … so sabar  ya! Untuk  laporan  pandangan  mata  dari foto  bisa  dilihat di  flikcr saya (tapi terus  saya update, soalnya  masih  banyak  foto-foto  jepretan saya  di sana yang  yang belum saya  sortir).

RBT ad-service

Ah saya hanya ber-nostalgi sambil membangunkan salah satu artikel lama saya yang saya pikir masih relevan pada saat ini. Membangunkan artikel lama?

Ya , “RBT ad-service. Sebuah Gagasan Redefinisi Peran Konsumen Layanan Selular” inilah judul artikel yang pernah saya tulis September 2005 (hampir tiga tahun silam) di Majalah Selular.

Lantas, apa urusan-nya sampai artikel lama ini dibangunkan lagi?

Ehm, sekedar rasa penasaran saja seiring hampir tiga tahun berjalan ini, apakah isue redefinisi peran konsumen layanan selular bagian dari implementasi RBT ad-service ini, apakah sudah ada yang meng-implementasikannya atau baru sebatas angan-angan itu saja. Oh, ya  ada  juga  tulisan  di situs  Reuters yg  membahas peningkatan tren iklan melalui  telepon genggam yang  nantinya diperkirakan akan menjadi platform strategis  oleh  marketer ini (Reuters, Wed May 21, 2008 4:30pm EDT ).

Wait2x, apa itu RBT ad-service & keterkaitan dengan isue redefinisi peran konsumen layanan selular ?

Saya agak malas menuliskan-nya kembali lagi di sini, lebih baik baca arsip artikel tersebut ya … yang editing-nya dan lay out-nya lebih nyaman untuk dibaca ( banyak alasan ya) … tenang, sudah saya scan kok di http://www.jmzacharias.com/rbt.jpg … please, ok?

Kalau sudah membacanya, lepas dari ide awal awal membangunkan artikel tersebut, bila Anda punya input, opini atau informasi yang relevan … please silakan share ya.

Btw, lewat usaha [1] mendokumentasikan artikel yang pernah saya buat seperti artikel lama ini, [2]melihatnya ternyata terlihat masih hidup di saat ini, serta [3] membangunkannya dengan penuh daya upaya ini … saya percaya bahwa waktu bukanlah sebagai barrier (baca penghalang) dari suatu karya … bila karya itu relevan dari suatu waktu ke waktu.

Moral story: dokumentasikan apapun karya Anda, seberapapun jelek-nya karya itu …

Waktu-lah yang menjadi bagian dari proses dimana suatu karya bermetafosa menjadi sebuah karya yang lebih bernilai dari waktu ke waktu. Dan proses itulah yang dinamakan: P-E-M-B-E-L-A-J-A-R-A-N

wuih berfilosofis … biarin aja … yang penting menjadi motivasi untuk lebih baik :)

A Ha!

Sebelum pulang  kantor saya sempat mengecek inbox  email saya, surprisingly  ada  email dengan Subyek : [Flickr] Schmap: Australia Photo Short-list  yang isi-nya sbb:  

(bagian info link /identitas  pengirim saya hide):

:: Schmap: Australia Photo Short-list
Hi jmzach,

I am writing to let you know that one of your photos has
been short-listed for inclusion in the second edition of
our Schmap Australia Guide, to be published mid-xxxxx 2008.

Clicking this link will take you to a page where you can:
……………………………………………………………………………, many
photographers are pleased to submit their photos, as Schmap
Guides give their work recognition and wide exposure, and
are free of charge to readers……  Our submission deadline is xxxxxxxx.

Best regards,

xxxxxxxxxxxxx,
Managing Editor, Schmap Guides

dan email  berikutnya:

:: Schmap Australia Second Edition: Photo Inclusion

Hi JM Zacharias[jmzach],

I am delighted to let you know that your submitted photo
has been selected for inclusion in the newly released
second edition of our Schmap Australia Guide
:

Thanks so much for letting us include your photo – please
enjoy the guide!

Best regards,

xxxxxxxxxxxxx,
Managing Editor, Schmap Guides

A Ha !  … foto kuliner saya yg upload  di Flickr, terpilih masuk the newly released second edition of our Schmap Australia Guide Online ( http://www.schmap.com ), penyedia  layanan pengalaman interaktif  yang  unik meliputi layanan integrasi peta, dan konten petunjuk/review serta photo slideshows tempat-tempat  yang menarik di seluruh dunia.

Kaget  juga  karena … terus  terang foto yang terpilih itu,  ya  foto  kuliner yang bertujuan untuk info kuliner saja (bukan kategory best photo versi saya). Kalau yang  bener-bener  untuk photography  ya  masih jadi stock photo alias  masih numpuk di  gudang digital saya (a.k.a hardisk) alias belum diapa-apain apalagi di-upload.

Terpilih oleh sebuah  portal penyedia informasi  yang mempunyai reputasi international ini memberi dorongan saya  lebih mengapresiasi  foto karya  saya  yang sebelumnya  tidak  saya pandang sebagai best photo dan terlebih menggugah  untuk meng-upload foto-foto  yang masuk kategori best photo  (versi saya  :)  ) yang mungkin  bisa  berguna  untuk orang  banyak, sepanjang  masih  menghormati/mengapresiasi  karya  foto saya dengan meminta  ijin dan mencatumkan nama  resmi saya, seperti  yang dilakukan oleh Schmap Guide Online.

Lalu lantas  bagaimana  dengan follow-up upload  foto-foto kategory best photo?

Kapan?  ….  Sekarang!!??

Ah malas … Kenapa???

Foto  adalah barang seni, untuk memperlakukannya  pun harus  pada  saat yang tepat. Dimana  ada hasrat dan imaginasi  berkembang melimpah ruahdi saat  itulah momentum berseni berada pada titik optimal untuk berkreasi.  Sama seperti  menulis  (termasuk menulis  melalui media  blog ini), saya  tidak pernah main-main. I treat these activities more precise, full  passion  and respect.

 

Older Posts »