Feed on
Posts
Comments

RBT ad-service

Ah saya hanya ber-nostalgi sambil membangunkan salah satu artikel lama saya yang saya pikir masih relevan pada saat ini. Membangunkan artikel lama?

Ya , “RBT ad-service. Sebuah Gagasan Redefinisi Peran Konsumen Layanan Selular” inilah judul artikel yang pernah saya tulis September 2005 (hampir tiga tahun silam) di Majalah Selular.

Lantas, apa urusan-nya sampai artikel lama ini dibangunkan lagi?

Ehm, sekedar rasa penasaran saja seiring hampir tiga tahun berjalan ini, apakah isue redefinisi peran konsumen layanan selular bagian dari implementasi RBT ad-service ini, apakah sudah ada yang meng-implementasikannya atau baru sebatas angan-angan itu saja.

Wait2x, apa itu RBT ad-service & keterkaitan dengan isue redefinisi peran konsumen layanan selular ?

Saya agak malas menuliskan-nya kembali lagi di sini, lebih baik baca arsip artikel tersebut ya … yang editing-nya dan lay out-nya lebih nyaman untuk dibaca ( banyak alasan ya) … tenang, sudah saya scan kok di http://www.jmzacharias.com/rbt.jpg … please, ok?

Kalau sudah membacanya, lepas dari ide awal awal membangunkan artikel tersebut, bila Anda punya input, opini atau informasi yang relevan … please silakan share ya.

Btw, lewat usaha [1] mendokumentasikan artikel yang pernah saya buat seperti artikel lama ini, [2]melihatnya ternyata terlihat masih hidup di saat ini, serta [3] membangunkannya dengan penuh daya upaya ini … saya percaya bahwa waktu bukanlah sebagai barrier (baca penghalang) dari suatu karya … bila karya itu relevan dari suatu waktu ke waktu.

Moral story: dokumentasikan apapun karya Anda, seberapapun jelek-nya karya itu …

Waktu-lah yang menjadi bagian dari proses dimana suatu karya bermetafosa menjadi sebuah karya yang lebih bernilai dari waktu ke waktu. Dan proses itulah yang dinamakan: P-E-M-B-E-L-A-J-A-R-A-N

wuih berfilosofis … biarin aja … yang penting menjadi motivasi untuk lebih baik :)

A Ha!

Sebelum pulang  kantor saya sempat mengecek inbox  email saya, surprisingly  ada  email dengan Subyek : [Flickr] Schmap: Australia Photo Short-list  yang isi-nya sbb:  

(bagian info link /identitas  pengirim saya hide):

:: Schmap: Australia Photo Short-list
Hi jmzach,

I am writing to let you know that one of your photos has
been short-listed for inclusion in the second edition of
our Schmap Australia Guide, to be published mid-xxxxx 2008.

Clicking this link will take you to a page where you can:
……………………………………………………………………………, many
photographers are pleased to submit their photos, as Schmap
Guides give their work recognition and wide exposure, and
are free of charge to readers……  Our submission deadline is xxxxxxxx.

Best regards,

xxxxxxxxxxxxx,
Managing Editor, Schmap Guides

dan email  berikutnya:

:: Schmap Australia Second Edition: Photo Inclusion

Hi JM Zacharias[jmzach],

I am delighted to let you know that your submitted photo
has been selected for inclusion in the newly released
second edition of our Schmap Australia Guide
:

Thanks so much for letting us include your photo - please
enjoy the guide!

Best regards,

xxxxxxxxxxxxx,
Managing Editor, Schmap Guides

A Ha !  … foto kuliner saya yg upload  di Flickr, terpilih masuk the newly released second edition of our Schmap Australia Guide Online ( http://www.schmap.com ), penyedia  layanan pengalaman interaktif  yang  unik meliputi layanan integrasi peta, dan konten petunjuk/review serta photo slideshows tempat-tempat  yang menarik di seluruh dunia.

Kaget  juga  karena … terus  terang foto yang terpilih itu,  ya  foto  kuliner yang bertujuan untuk info kuliner saja (bukan kategory best photo versi saya). Kalau yang  bener-bener  untuk photography  ya  masih jadi stock photo alias  masih numpuk di  gudang digital saya (a.k.a hardisk) alias belum diapa-apain apalagi di-upload.

Terpilih oleh sebuah  portal penyedia informasi  yang mempunyai reputasi international ini memberi dorongan saya  lebih mengapresiasi  foto karya  saya  yang sebelumnya  tidak  saya pandang sebagai best photo dan terlebih menggugah  untuk meng-upload foto-foto  yang masuk kategori best photo  (versi saya  :) ) yang mungkin  bisa  berguna  untuk orang  banyak, sepanjang  masih  menghormati/mengapresiasi  karya  foto saya dengan meminta  ijin dan mencatumkan nama  resmi saya, seperti  yang dilakukan oleh Schmap Guide Online.

Lalu lantas  bagaimana  dengan follow-up upload  foto-foto kategory best photo?

Kapan?  ….  Sekarang!!??

Ah malas … Kenapa???

Foto  adalah barang seni, untuk memperlakukannya  pun harus  pada  saat yang tepat. Dimana  ada hasrat dan imaginasi  berkembang melimpah ruahdi saat  itulah momentum berseni berada pada titik optimal untuk berkreasi.  Sama seperti  menulis  (termasuk menulis  melalui media  blog ini), saya  tidak pernah main-main. I treat these activities more precise, full  passion  and respect.

 

X: “Apa pekerjaan orang tuamu?”

Y:”Guru”

X:”Guru di mana?”

Y:”di Satya Wacana (UNSWUKSW) , Tarumanegara (UNTAR), Univ. Kristen Djajakarta (UKRIDA) dan pernah di Unika Atma Jaya Jakarta”

X: ”Lho pekerjaan orang tuamu, dosen  to?”

Y:”dosen  kan  guru  juga to?” 

Itulah petikan  dialog  antara  saya (Y) dan beberapa orang/orang lain (X). Saya  selalu  bangga kalau ditanya  sehubungan orang tua saya. Banyak  hal yang membuat  saya  bangga dan  tidak  bisa  semua  saya  ceritakan di sini. Salah satu yang membuat bangga  pada orang tua saya  adalah karena mereka  adalah guru (baca: pendidik).

Saya selalu  ingat  ucapaan mereka untuk hidup  secukupnya   beberapa  tahun silam, kira2x seperti ini:

Jadi dosen itu  hidupnya  tidak  berlebih dan tidak  kekurangan … ya C-U-K-U-P.

Oleh karena  itu, sejak  kecil  kami sudah dibiasakan  untuk  tidak hidup neko2x/hidup mewah (lha  memang  gak punya  apa2x to he2x).

Salah satu harta diwariskan mereka  sebagai  pendidik adalah passion to learn  meski  proses mengubah yang namanya   belajar  (yang sebelumnya  lekat dengan embel2x wajib/keharusan belajar) menjadi hasrat/passion to learn  ini  butuh  usaha dan waktu  yang  tidak singkat.

Sewaktu saya kelas 5 atau 6 SD,  ibu saya selalu mengingatkan untuk belajar supaya  bisa masuk SMP impian di kota saya dan pesan beliau itu  kembali menggetarkan saya saat  mengantar saya  untuk mendaftar untuk tes masuk di  SMPN1 Salatiga (sekolah yang melahirkan 2 pelajar  Teladan Nasional  pada  periode berbeda   saat itu). Beliau  hanya  bilang: 

“Mama  tidak  bisa  bantu apa-apa, semua  tergantung usahamu sendiri apakah  bisa  masuk atau tidak ke  SMPN1″.

Bagi seorang  anak  12 tahun  (lulusan SD)  belum pernah  pernah terpikirkan  tentang persaingan ujian masuk SMP yang begitu sengit ini ( pilihanya  ya …  masuk atau tidak). Contoh teman2x  yang gagal masuk SMP ini  juga  banyak. Belum lagi, kakak  saya  satu-satunya baru saja lulus  dari SMP  tersebut  dan prestasinya menonjol juga  di sana …  Lecutan ini  yang buat saya  seorang anak berumur dua belas  tahun saat itu untuk mulai  belajar mandiri dan berpikir realistis  bahwa goal yang ada  hanya  bisa  saya  capai  hanya  dengan usaha saya  sendiri.Thanks  Ma for this!

Cerita-cerita  pengalaman mereka cukup menumbuhkan bukan saja  inspirasi namun kebanggaan  bagi saya.  Salah satunya  saat Muhamad Yamin (perdana menteri Indonesia tahun 50-an) menguji skripsi  ibu saya tentang sejarah dunia. Muhammad Yamin  yang  baru saja  pulang  dari lawatan luar  negerinya, langsung mempersilahkan ibu saya dan menanyakan asal daerah ibu saya Begitu  ibu saya  menjawab “Ambon” langsung beliau minta ibu menceritakan sejarah  kedatangan Bangsa  Belanda  untuk mencari rempah-rempah di Indonesia  sampai ke  Maluku. Setelah itu Muhamad Yamin meminta  ibu  saya  memutar bola dunia (globe) di  ruangan tersebut dan memintanya  untuk menunjuk suatu titik sembarang di globe tersebut sehingga  globe tersebut  berhenti berputar dan apa kata beliau:

Itu kota mana dan negara apa? Dan ceritakan sejarahnya!

Singkatnya  cerita ibu saya  akhirnya dinyatakan lulus dan  Muhammad  Yamin sangat puas  dengan hasil ujian ini dan ibu saya mendapat  hadiah  persenan uang dari honorarium dari beliau sebagai penguji.

Kalau bicara  tentang  ibu saya  ya  beliau  itu  otaknya  encer sekali dan rangking terus termasuk saat  kuliah lagi untuk jurusan yang berbeda (jurusan bahasa Ingris). Rekor terakhir  ini yang saya  tidak tahu, apa   sudah  dipecahkan atau belum, beliau  adalah pemegang IP  tertinggi untuk jurusan Bahasa Inggris  (JPBS) di UKSW  dengan IP kelulusannya:  3.96 (jadi  hanya  satu  nilai B, nilai lainnya  A semua). Dan  bakat pinternya  ini  turun  ke  kakak saya Ency. Kl  saya?  wah  so so lah (sedang-sedang  saja) kalau nakal waktu sekolah, malah  iya  ha2x :)

Tentang ayah saya.  Oh, yang saya  selalu ingat tentang  beliau … adalah pekerja keras, semuanya itu dilakukannya untuk pendidikan anak-anaknya. Selain sebagai  dosen, beliau  juga  aktif di dunia perpolitikan dan legislatif selama 16 tahun. Jadi  ingat pesannya  tentang dunia  perpolitikan ini:

 “Kalau mau terjun ke politik/legislatif, kamu harus sudah dalam keadaan financial freedom (mapan). Jadi bila masuk dan berbuatlah sesuatu sesuai hati nuranimu sampai maksimal. Kalau sudah mentok/maksimal berusaha (tetap tidak banyak berkontribusi yang baik ke dalam) … ya KELUAR saja.”

Dan itu juga dilakukan beliau setelah 16 tahun berkarir di legislatif dan untuk seterusnya keluar dari dunia perpolitikan dan kembali ke kampus.

Kebanggaan saya  lainnya  saat  berumur  belasan tahun melihat ayah belajar lagi untuk bidang studi  yang berbeda, melihatnya  belajar dan  dibimbing saat  menulis skripsi dan tesis oleh beberapa  guru besar terkenal seperti Prof Sutjipto Rahardjo (Pakar Hukum Undip) dan Prof. Koesnadi Hardjo Sumantri (mantan Rektor UGM, guru besar UGM dan dosen UI).

Saya  pribadi percaya  saat  kita berhubungan dengan orang lain, ada banyak hal yang positif  bisa  diserap/didapat baik itu secara  langsung maupun  tidak langsung apalagi dengan orang-orang  hebat di bidang-nya.

Tanpa terasa tulisan-tulisan spontanitas ini, mengalir begitu saja seperti kasih sayang  orang tua saya pada anak-anaknya yang tak perhah henti. Kebangganku pada mereka  tidak pernah luntur, sekali lagi salah satu sisi kebangganku pada  mereka:

Orang Tuaku adalah P-E-N-D-I-D-I-K !

Salam penuh  cinta  untuk papa dan mama di Salatiga. I Love You All. Selalu sehat selalu dan God  Bles You!!

nb: Pada akhirnya kita semua  sebagai seorang anak pasti mempunyai sosok guru yang mendidik dari kecil sampai saat ini, yakni orang tua kita apapun profesi  orang tua kita.  Jadi anda  juga  turut  bisa  berbangga bahwa:

Orang Tua Anda juga  adalah P-E-N-D-I-D-I-K ! :)

 

Pelajaran di suatu pagi

Mulia

Suatu pagi seorang tunanetra yang mandiri, berjalan dengan tongkat penunjuk jalan sambil memainkan melodi lewat harmonikanya sepanjang Jl. Alkateri Bandung.
Rasanya sering beliau melewati jalan ini setiap Sabtu pagi. Suara harmonika sayub terdengar dan semakin terdengar jelas … pertanda sebentar lagi beliau melintasi warung kopi tempat saya duduk menikmati secangkir kopi susu dan roti telur dadar kegemaran saya di suatu_pagi.

Begitu beliau melintas (terus berjalan) saya buru-buru keluar untuk berjumpa dengannya. Saya mengapresiasi usahanya dengan cara saya yang bisa saya lakukan dan beberapa orang disekitar melakukan hal yang sama (lihat foto di atas)
Usaha beliau sungguh bermartabat, dengan keterbatasanya tidak merintangi tekadnya untuk berusaha mandiri lewat kemampuannya bermain harmonika (bukan dengan jalan mengemis tanpa usaha).
Ini rasanya bisa menjadi refleksi bagi pengemis jabatan/kekuasaan serta pengemis kekayaan yang menafikan kerja keras dan usaha yang lebih martabat. Kitapun juga suka atau tidak suka, dapat dikategorikan sebagai “pengemis” bila mengharap sesuatu tanpa kerja keras dan usaha yang bermartabat.

Kantor Idaman [?]

Kalau ditanya  tentang kantor idaman, saya  pasti akan jawab: r-u-m-a-h.  Jawaban tersebut bila sikon-nya memungkinkan he2x, bila  tidak … ya  pilihlah yang terbaik/ternyaman dari opsi-opsi  yang ada. Selain aspek primer (baca infrastruktur) dari kantor, faktor-faktor penentu kenyamanan ini  juga  bervariasi:  mulai dari kemudahan akses  transportasi, tingkat kepadatan lalu lintas (kemacetan), fasilitas pendukung: food  court, sarana hiburan tambahan lainnya cafe, coffe shop, fitness center  dan lain sebagainya. Itu  semua  merupakan hal yang  lazim  kita  inginkan dan juga  telah ditawarkan oleh mangement building di berbagai tempat.

gdg ktr nokia sydney

Suatu  kali saat dinas di kantor Nokia  Australia (foto atas), saya terkesan dengan pemandangan yang menjadi  latar belakang kantor yang terletak di pinggiran kota Sydney ini. Tempat favorit saya dari gedung yang terletak di  Harriss Street tersebut adalah lantai teratas (lantai 6, lihat foto bawah), dimana ada beberapa ruang meeting, ruang tunggu dengan dinding kaca tranparan menambah jarak   pandang mata kita sampai ke  beberapa  kapal besar & boat yang hilir  mudik melintasi sisi  sungai tepat dibelakang kantor ini.

imga5175.jpg

Jika ingin hanyut  sebentar dengan denyut nadi kapal & boat yang melintasi sungai di belakang kantor ini, coba melangkah ke sisi teras sebelah ujung (belakang) yang memang  lapang dan terbuka (open air) untuk memandang Harbour Bridge (sisi Barat Daya, lihat foto bawah) dan Anzac  Bridge  (sisi Timur) .

 imga5158.jpg

imga5167.jpg

Saya sendiri  pernah terdiam  beberapa saat melihat kapal cargo besar  yang melintasi tepat di depan teras tempat saya  makan (sisi selatan, lihat foto atas). Saking takjubnya (baca: katro/ndeso-nya) sehingga  saya  pun tidak  sempat mengambil kamera  untuk mengabadikannya,  sampai akhirnya  kapal cargo besar  itu  hilang dari pandangan mata. Sore hari sepulang kantor, saya cepat-cepat  menuju bagian belakang kantor sambil menenteng kamera.

 river-side-corner-side.jpg

Berjalan menyusuri sungai ini, saat sebuah boat melintasi di saat sang surya bersiap-siap berangkat  ke peraduan, buru-buru saya mengabadikannya (saya tidak ingin kehilangan momen seperti sebelumnya lagi). Jadilah foto di bawah ini:

imga4483_sat.jpg

Ehm, so  apa moral story dari share sisi lain kenyamanan seperti di belakang  gedung  kantor  ini? Setidaknya ada 2  poin, sbb:

[1] Semoga di Jakarta ada gedung kantor yang seperti ini …  Seketika ada yang menyela “You Wish”…  setidaknya  boleh kan berharap ? 

[2] Mungkin masih banyak gedung kantor yang menawarkan sisi lain kenyamanan seperti ini  di manca negara. Untuk poin ini, moral story-nya  …  jika anda belum pernah mendapatkan kesempatan ini, Anda-pun bisa  merasakannya (bekerja di sana).  Karena apa? …  karena  kita orang Indonesia  mampu!!!  sama seperti orang-orang Asia lainnya (Filipina, Tiongkok, India) yang sudah terkenal dengan petualangan “profesionalitas-nya” di   mancanegara.

 imga5717.jpg

Suatu pagi  (11 Maret 2008) tepat di lantai 21 Charn Issara Tower II  di kawasan New Petchburi Bangkok Thailand, saya terkesima sesaat dan kemudian langsung mengambil kamera saya, mengabadikan  Klong  San Sab (klong yang dalam bahasa Indonesia berarti kanal) ini  yang menghubungkan beberapa titik  sepanjang 18 km yang membelah kota Bangkok. Pada foto di atas,  terlihat satu boat  yang hilir  mudik  mengangkut kira-kira 40-50 penumpang ini menuju  27 titik  tujuan sepanjang kanal ini.  Dengan kanal San Sab (Klong San Sab) inilah,  kota  Bangkok  terkenal  dengan  julukannya  Venesia  dari Timur.

 imga5664_edit.jpg

Boat ini menyusuri  kanal dengan lebar  sekitar 10 meter ini, dengan kecepatan  yang cukup tinggi   mengakibatkan riak-riak ombak yang keras menghantam dinding kanal (lihat saja  buih-buih ombaknya) serta memantulkan suara lengkap dengan  dinamikanya. Suara inilah  yang mulanya  menarik perhatian  saya saat untuk  melongok  ke bawah jembatan  dan melihat  boat-boat  yang bersliweran melintasi  jembatan tersebut (lihat foto boat di atas).  Jembatan tempat saya menyeberang tersebut dapat dilihat  pada foto di bawah ini (foto jembatan terlihat pada sisi  latar belakang  dari  foto  diambil di dermaga Charn Issara, belakang  kantor Siemens Thailand).

imga5700_cropping.jpg

Pada gambar di bawah ini terlihat jelas  dua asisten di sisi boat yang selalu  siap  untuk mengaitkan tali tambang ke sisi  dermaga saat singgah untuk memberi kesempatan penumpang turun dan naik dalam waktu kurang dari 1 menit ke boat yang dimensi panjang 40 feet dan lebar 12 feet ini.

imga5696_crooping.jpg

Transpotasi menggunakan boat  ini  beroperasi  mulai 05.30 sampai pukul 20.30 dengan biaya 10-20 THB (Thailand Bath). Cara beroperasinya  mirip angkot, sesaat  sebelum melintasi  dermaga, pengemudi  boat ini  menyalakan & mematikan  dua lampu boat dalam waktu singkat beberapa  kali.  Boat ini kemudian akan mengurangi kecepatannya  untuk menepi  bila  ada calon penumpang  melambaikan tangannya memberi tanda akan menumpang  boat itu.

Saya sendiri tidak berani  naik boat ini (inzet: imga5683.jpg). Beraninya cuma berdiri di dermaga he2x sudah keder duluan  melihat  50-an penumpang duduk &  berdiri berdesakan (foto bawah) persis naik bis  kota pada  jam sibuk berangkat/pulang kantor di Jakarta.

imga5707.jpg

Bagaimanapun juga tranportasi ini bisa  mengurangi  beban kendaraan beserta penumpangnya  di jalan raya. Lalu  bagaimana dengan waterway di Jakarta? Yang saya dengar  sudah tidak beroperasi lagi,  lantaran baling-balingnya  sering macet karena tersumbat  sampah … waduh2x. 

Kalau berminat  mengetahui lebih jauh tentang Klong San Sab beserta transportasinya berikut  linknya:

http://www.bangkok.com/attraction-waterway/khlongs-khlong-saen-saeb.html

http://www.bangkok.com/attraction-waterway/khlongs-khlong-saen-saeb-boat-route-guide.html

 

konser TOTO 2008 [Bandung]                                              Jam 18.20 tepat saya dan istri sampai di pelataran Sasana Budaya  Ganesha (Sabuga) ITB Bandung. Maksud hati langsung  eksekusi  mekanisme FIFS (First In First Served), ee kami dan lima puluhan penonton  yang lainnya (dalam dua sab barisan kanan dan kiri gerbang masuk), malah  “dieksekusi” mendapat bonus penderitaan hampir dua  jam berdiri  di depan gerbang  masuk (karena  alasan klasik  petugas jaga: di dalam belum siap). Menjelang pukul 19.30, lantaran tidak ada separator yang disediakan panitia mengakibatkan adanya barisan penyerobot langsung merengsek ke gerbang masuk tanpa memperdulikan barisan  yang telah tersusun rapi ke belakang  dan akhirnya  antrian yang sudah tertib sebelumnya jadi berantakan.  Tepat 20.15 kami baru bisa bisa masuk meski terjadi bottle neck effect gara-gara penyerobot yang tidak mau antri tersebut. Sampai di  security check point  ada  ”eksekusi tambahan” lainnya yakni botol air mineral kami harus direlakan  untuk tidak  menonton TOTO, “Botol  minuman dilarang dibawa masuk ke dalam” begitu pengumuman dari panitia. OK, pikir saya, kalau itu rule  of  the game-nya  ya harus diikuti. Dan alangkah kagetnya kami  saat  masuk ke dalam, ada SPG dari perusahan minuman menawarkan produk mereka minuman botolan  … “hah?”, belum lagi melihat tamu undangan pelanggan  dari sebuah perusahaan sponsor  dibagikan konsumsi plus minuman kalengnya, “wah2x”  bagaimana dengan rule of  the game kepada kami  yang telah dilucuti botol minuman air  mineral  kesayangan kami sebelum masuk gedung Sabuga tadi? 

Begitu bisa masuk ke dalam ruangan pertunjukan   langsung  mencari  tempat yang paling strategis (mumpung karcis kami: VVIP)  dan dapat di deretan kursi ala theather (satu-satunya deretan kursi-kursi VVIP  (tidak  ada labelnya undangan) , sedangkan deretan berikutnya diperuntukkan untuk undangan lengkap dengan label keterangan di kursinya) . Jadi kami duduk pas di deretan kursi yang  persis  satu level lebih atas dan di depan meja sound & lighting control pertunjukan   (benar-benar tepat pada   level  pandangan mata manusia normal, memandang ke panggung). Saat dudukpun saya mulai melakukan mapping posisi penonton berdasarkan tempat duduk mulai dari VVIP + Undangan, VIP, Kelas 1  dan sampai ke Festival area saya  rada kaget … karena  terletak di sisi kiri dan kanan panggung bukan tepat di depan/bibir panggung sebagaimana lazim-nya. Bisa dibayangkan,  untuk peserta kelas festival yang terhimpit  ke sisi paling pojok kiri/kanan kemungkinan besar tidak bisa  melihat dengan jelas ke panggung … lha ketutup sound system-nya yang gede itu. Teringat  True Worshipers Concert beberapa waktu silam  yang perform juga di Sabuga , saat  itu dioperasikan   dua  screen  raksasa  untuk menjamu  penonton  yang sudut  pandangan-nya  sempit  atau tidak melihat sama sekali ke sisi panggung dan contoh  lainnya  ya waktu  wisuda dulu di  ITB  (tempat sama, di Sabuga)  juga pakai  big screen … masak konser dengan grup dunia seperti ini  malah   big  screen tersebut  tidak ada  :(

Sambil menunggu, saya  mulai  memperhatikan bule-bule (sound engineer & lighting engineernya TOTO) bekerja. Diam-diam saya mengapreasiasikan kerja mereka mulai dari persiapan sampai saat TOTO beraksi di panggung.

Bule bertopi, busana casual plus celana setengah lutut  (bersepatu Adidas) dengan kaos kaki putih semata kaki  ini bertugas untuk lighting control (lihat foto kiri bawah), wuih seru! Bagaimana tidak, tangannya lincah  dengan menggeser maju mundur beberapa tombol panel untuk terus memainkan sinar  lampu itu  menari-nari mengikuti  irama dari musik TOTO sampai pada level dinamiknya sekali pun  … permainan lampunya membuat sinar lampu seperti punya roh terhadap  aksi  panggung TOTO  begitu saat klimaks sampai closing-nya  begitu sempurna! Begitu juga paduan warna sinar  lampu  kuning, biru, hijau, merah, violet de es be (baca dsb :) )    menyapu drum set  yang transparan serta  membiarkan pancaran sinar lampu menembus & memantulkan pesona warnanya… wow.

Bule lain (sound engineer) dengan balutan kaos, bercelana selutut serta cukup minimalis  dengan sepeda eh sandal gunungnya (lihat foto kanan atas), sibuk melihat  panel-panel sesekali  jongkok melihat  angka-angka yang tertera di monitor yang bergerak di range angka 70-75an  (kira2x apa  ya  … apa  parameter itu dalam satuan db?). Nah si bule sang sound engineer ini, tentu saja  indra pendengarnya  menjadi  senjata kepekaaan yang handal. Saya perhatikan  saat pergantian permainan solo dari lead guitar ke  keyboard, drum, guitar & bass-nya terasa smooth melalui  putaran tangannya yang lembut dan presisi seberapa level kenaikan/penurunan volume instrumen yang dimainkan TOTO pada panel mixer-nya. Ada lagi satu perangkat di atas mixer  tersebut  yang cukup menarik perhatian saya yakni iPod Nano warna putih …  ternyata   perangkatan besutan Apple ini  menyimpan playlist  lagu-lagu yang diputar sebelum dan  sesudah show TOTO.

Terus bagaimana dengan TOTO-nya Bos?  Ooops …. sabar  ya  …. sudah jam 02.00 dinihari nih, besok  ya  saya  sambung lagi  sudah  mengantuk nih  karena  kecapekan berdiri  tadi masuk ke konser-nya TOTO he2x (cari alasan ;)  ). Besok  ya  saya  lanjutin lagi ya.

Di Sabtu sore yang agak mendung [15 Maret 16:07], duduk seorang  manusia  ganteng  yang telah berjanji melanjutkan cerita konser TOTO semalam,  es be be:

Lanjutin lagi  ya tentang konser TOTO semalam (bertajuk Falling In Between Live), lengkap dengan formasinya: Steve Lukather (lead guitar), Simon Philips (drum), Bobby Kimball (vocal),  Greg Phillinganes (keyboard), Tony Spinner (guitar), Leland Sklar (bass). Konser  dimulai, ditandai sinyal sinar senter kecil dari crew TOTO di samping panggung ke arah  sound engineer dan lighting engineer, pertanda  show akan dimulai  sebentar lagi dimulai. Konser dibuka dengan intro lengkingan gitar  Steve ini, langsung menggebrak dengan beat-beat  keras disusul oleh lima personil lainnya. Performansi yang menyunguhkan kombinasi nuansa nostalgia dengan hit  lawas-nya Africa, Rossana dan kembali  dilanjutkan dengan hentakan-hentakan musik lagu berikutnya   … sama sekali terlihat jelas performa yang enerjik dan stamina yang ok  lewat geberan lima belas-an lagu  mereka. Saya perhatikan khusus Steve hampir  tiap  lagu ganti gitar (mungkin biar dilap dulu oleh crew-nya karena keringat) dan  Steve  sendiri beberapa saat merengkuh handuk untuk mengelap keringat mungkin akibat panas sapuan lampu panggung (kalau tidak salah  hitung gitar yang dipakai Steve: 3 buah gitar elektrik dan 1  gitar akustik) .

Saya sih  tidak begitu  nge-fans banget & hafal  dengan lagu2xnya semuanya …  ya  penganut  easy listening  aja  (bukan untuk nyanyi-nya  euy). Saya sendiri  suka dan pertama kali  kenal TOTO saat teman saya kuliah dulu (Roy) naksir Lia (teman saya  juga) dan tiap hari si Roy ini  putar lagunya  TOTO “Lea” (baca: Lia) dedicated to his lovely target he2x  (masih target coy). Eh, kok  nglantur  ya … back to laptop he2x

Beberapa hal yang  saya  suka dari penampilan mereka semalam adalah selain kemapuan bermusik yang impresif, yakni distribusi performansi  tidak hanya berpusat pada sang gitaris Steve Lukather sing pancen oye. Penonton disuguhi  kemampuan bermusik dan olah vokal dari pemain lainnya  yang saling bersinergi secara smooth. Saya perhatikan selain Bobby Kimball yang memang  job description sebagai vokalis, Greg Phillinganes, Tony Spinner serta Steve Lukather turut unjuk olah vokal-nya.

Jam session yang sudah  menjadi tontonan menarik di sebuah  konser tidak lupa  disuguhkan secara menarik oleh keenam personil grup ini. Dimulai  dari jam session setiap pemain (dimulai  permainan  improvisasi yang impresif Greg Phillinganes pada tuts tiga keyboardnya), lanjut dengan duet jam session (antar dua pemain, he2x istilahnya  bener gak ya, cmiw) dan secara medley jam session yang saling bersaut-sautan sama  lain yang harmoni dan enerjik. Akhirnya sampai pada penghujung konser  yang ditutup dengan kesan saya pribadi : PUAS!! Saya lihat, saya belajar bagaimana grup dunia  ini bekerja dalam sebuah industri showbiz termasuk melihat orang-orang yang bekerja  di belakang panggungnya. [Inzet, bawah] >> tiket  Konser TOTO di Bandung [World Tour 2008] maaf, baru saya scan setelah konser so tampilannya  acak adut.

konser TOTO Bandung 2008

breakfast-12082007001.jpg

He2x, bila lihat foto diatas seolah-olah  sarapan  pagi saya   kok kemaruk ya  … belum minum teh sudah ambil yoghurt (plus jeruk)  serta belum lagi menyentuh roti eh sudah tersaji  main course-nya. Eit  tunggu  dulu  … lha ini  memang  taktik dan strategi saya (seperti perang aja  ya pakai taktik)  saat menginap di Hotel Starcity Sydney Australia [khusus resto di Level 1main gaming floor, kalau sarapan di lt.17 no problem] medio Agustus 2007. Ceritanya sehari sebelumnya saya  “kecolongan” di sini, di sela makan waktu mau ambil sajian makanan lainnya  (sekejab saja) eee begitu kembali ke meja  saya semuanya  sudah  lenyap (padahal cukup jelas indikasi di meja itu bahwa sarapan pagi saya  belum selesai ). Rupanya  petugasnya  saking cekatannya membersihkan  meja saya (yang saya tinggalkan sementara), tanpa melihat apakah saya keluar meninggalkan tempat  makan atau  hanya sebentar mengambil sajian berikutnya. He2x … so jika   mengalami hal sama seperti ini ya  … bisa dicoba deh cara saya  :) 

Kaget! & … senang [Thanks]

80_-jmwap-service_master_wordpress.jpg 

He2x kaget dan senang  juga  ternyata situs wap saya  yang dulu sekali  (sekarang telah migrasi &  bertansformasi menjadi http://wap.jmzacharias.com)  digunakan  untuk menguji koneksi data  mobile phone dalam review   Majalah SELULAR : http://www.selular.co.id/review/5id8.html  .

Thanks/maturnuwun/danke/terima kasih untuk rekan2x mengapresiasi wap  service  ini yang notabene  ide awalnya  saya  buat  untuk kebutuhan sendiri  berkaitan info/database kuliner (tempat makan enak) & tempat  jalan-jalan yang  ok untuk dikunjungi ini dibuat dalam format  yang memungkinkan dapat diakses dengan nyaman via ponsel GPRS/3G/3.5G dan akhirnya  dapat juga digunakan  bagi siapa saja  yang membutuhkan.

Perang Iklan Operator di Australia

Haruskah Perang Iklan Seperti Ini Lagi? Pikiran  ini muncul saat melihat iklan baru layanan selular  di tv  dimulai  empat  wanita dengan warna kostum berbeda-beda (merah, kuning, oranye & hitam, red melambangkan warna brand kompetitor) yang sedang berdebat  siapa  yang programnya   paling unggul, kemudian muncul sang bintang iklan langsung  memegang remote control dan membuat empat orang yang sedang berdebat  itu diam seketika. Akhirnya mudah ditebak sang bintang iklan memaparkan bahwa program dia lah yang terbaik dan termurah.

Maraknya perang iklan operator  (baik melalui media elektronik/media masa) yang head to head menyerang  satu sama lain secara tidak elegan dengan mengasosiasikan warna brand   operator pesaingnya atau malah menyerang program  yang ditawarkan pesaingnya secara vulgar dan sporadis ini kembali memunculkan kerisauan saya apakah perang iklan seperti ini etis atau tidak. Akhir Nopember 2007, tulisan  saya  tentang perang iklan operator  di Australia yang sudah  selayaknya  menjadi pelajaran berharga bagi kita (Majalah Selular,Nopember 2007). Mengapa? Karena perang iklan tersebut sudah sampai ke  tingkat pengadilan Australia antara dua operator  yang berseteru sengit. Tentu yang sekarang menjadi kerisauan saya  perang iklan head to head yang ujungnya memenangkan operator pemilik iklan serta mendeskreditkan pesaingnya  ini tentu  bukan suatu hal  yang pantas dilihat  umum dan bukan juga menjadi sarana  pendidikan  yang baik untuk mencerdaskan konsumennya. Lantas bagaimana sikap regulator berkaitan hal ini. Let’s see!

Artikel saya tentang  ”Perang Iklan Operator. Sebuah Pelajaran Berharga dari Negeri Tetangga” (Majalah Selular,Nopember 2007) dapat diakses melalui  link dibawah ini: http://www.jmzacharias.com/operator.jpg
 

Older Posts »