Just Do It …. with heart.
Ini kalimat sementara dalam benak saya untuk merepresentasikan nilai yang saya dapat dari sosok pemilik Koffie Fabriek Aroma, Pak Widya begitu beliau biasa disapa. Tadi siang [20 Oktober 2007] merupakan kali ke dua saya diajak tur singkat ke pabrik kopinya Jl. Banceuy No.51 Bandung.
Bila pada kunjungan pertama beberapa bulan yang lalu saya diajak melihat bagaimana kopi itu diproses setelah dipetik, dijemur dan proses penyimpanannnya di gudang. Siang ini saya diajak melihat proses kopi itu dipanggang yang dilakukan sendiri oleh Pak Widya sang pemilik (lihat foto di atas).
Setiap kali bertemu dengannya, saya selalu mendapat banyak pelajaran darinya. Salah satu diantaranya bahwa kopi yang dijual harus fresh (kopi yang dijual hari itu adalah produksi hari itu juga, lihat saja stempel tanggal produksi (bukan tanggal kadaluarsa) pada bungkusannya, jadi benar-benar fresh) serta bagaimana keteguhannya untuk memproses penyimpanan kopi sampai 8 tahun agar kadar asamnya seminimal mungkin sehingga menjadikan kopi itu benar-benar berkualitas, wow mengagumkan prinsipnya … pikiran saya langsung membandingkan kondisi sebaliknya yang dilakukan oknum pelaku bisnis dalam bentuk cara pragmatis hanya untuk mengejar keuntungan besar dan mengorbankan apa yang layak didapat konsumen (masih ingat kasus bakso boraks, makanan/minuman dengan zat perwarna kain dan modus penipuan lainnya?).
Nilai lain yang saya dapat adalah kesederhanannya, dengan baju seragam coklat (layaknya baju seragam operator pabrik) dan initiatifnya turun langsung melakukan pemanggangan kopi sendiri (lihat foto atas) adalah pandangan yang tak lazim untuk ukuran seorang owner pabrik kopi, dosen wirausaha/manajemen di beberapa perguruan tinggi di Bandung ini.
Nilai kesederhanaan yang saya tangkap ini, tentu saja hanya bisa dilakukan dengan hati, singkatnya just do it … with heart (lakukan lah … dengan hati … hati yang tulus). So apakah nilai-nilai ini (just do it … with heart) juga ada pada kita, yang sehari-hari larut dalam rutintas pekerjaan? Anda sendiri yang tahu :)
Tulisan ini saya buat sebagai wujud apresiasi saya atas keramahtamanan (hospitality), pembelajaran yang saya dapat dari Pak Widya, pelayanannya kepada pembeli tanpa membedakan status sosialnya (dari mulai tukang becak , pedagang kecil, sampai pemilik kafe kopi yang menjadi langganannya), serta keharuman kopi-nya yang selalu “menyapa” saya lewat hembusan angin saat membuka jendela kamar setiap bangun pagi (waktu dulu tinggal di daerah Banceuy)
nb: bagi yang ingin tahu tentang Kopi Aroma ini, ada beberapa link yang membahas tentang ini termasuk sisi humanis dari sarjana ekonomi Universitas Padjajaran dan lulusan akademi kopi di Singapura pada era 1970an ini :
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/28/EsFoto/336226.htm
http://dessiwulan.multiply.com/journal/item/52/AROMA_KOPI_AROMA
http://asmarakata.blogspot.com/2006/02/koffie-fabriek-aroma-bandoeng.html
http://deesm.multiply.com/photos/album/58?&album=58&view:replies=reverse
http://marchellinus.multiply.com/journal/item/1/Aroma_Koffie_Fabriek