Haruskah Perang Iklan Seperti Ini Terjadi Lagi???
February 7, 2008 by jmzach
Haruskah Perang Iklan Seperti Ini Lagi? Pikiran ini muncul saat melihat iklan baru layanan selular di tv dimulai empat wanita dengan warna kostum berbeda-beda (merah, kuning, oranye & hitam, red melambangkan warna brand kompetitor) yang sedang berdebat siapa yang programnya paling unggul, kemudian muncul sang bintang iklan langsung memegang remote control dan membuat empat orang yang sedang berdebat itu diam seketika. Akhirnya mudah ditebak sang bintang iklan memaparkan bahwa program dia lah yang terbaik dan termurah.
Maraknya perang iklan operator (baik melalui media elektronik/media masa) yang head to head menyerang satu sama lain secara tidak elegan dengan mengasosiasikan warna brand operator pesaingnya atau malah menyerang program yang ditawarkan pesaingnya secara vulgar dan sporadis ini kembali memunculkan kerisauan saya apakah perang iklan seperti ini etis atau tidak. Akhir Nopember 2007, tulisan saya tentang perang iklan operator di Australia yang sudah selayaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita (Majalah Selular,Nopember 2007). Mengapa? Karena perang iklan tersebut sudah sampai ke tingkat pengadilan Australia antara dua operator yang berseteru sengit. Tentu yang sekarang menjadi kerisauan saya perang iklan head to head yang ujungnya memenangkan operator pemilik iklan serta mendeskreditkan pesaingnya ini tentu bukan suatu hal yang pantas dilihat umum dan bukan juga menjadi sarana pendidikan yang baik untuk mencerdaskan konsumennya. Lantas bagaimana sikap regulator berkaitan hal ini. Let’s see!
Artikel saya tentang ”Perang Iklan Operator. Sebuah Pelajaran Berharga dari Negeri Tetangga” (Majalah Selular,Nopember 2007) dapat diakses melalui link dibawah ini: http://www.jmzacharias.com/operator.jpg
Kayaknya memang gak bakalan berkesudahan kalau perang tarif ini terus digerojok para operator. Saya selalu menulis catatan “jangan lupa baca syarat & ketentuan yang berlaku”.
Well, pribadi saya setuju dengan mas JM. Kalau tidak ada regulasi yg mengatur ini bakalan “membingungkan” dimasyarakat. Iya kalau pelanggannya kritis semua? Kalau tidak? Wah bisa kacau.
Eniwey, thanks buat tautannya. Saya mohon izin tulisan mas saya tendang ke milis internal. Salam dari Aceh. Maju terus musik Indonesia. *lho*
Silakan Mas, dengan senang hati kl tulisan saya mau diforward ke milis internal Mas Abe.
Ya semoga menjadi pencerahan kecil dalam diskusi2x besar mencermati hal2x yang terjadi di luar sana
Salam dari Bdg,
Untuk masalah iklan,
Pertanyaan cuma satu: Mengapa perang iklan?
Jawabnya pertanyaan juga: Apakah pelanggan hanya bisa diikat dengan iklan layanan yang sopan?
Tapi jika pertanyaannya: mengapa perang tarif?
Jawabnya pertanyaan juga: apakah pelanggan bisa diikat hanya dengan layanan?
Saya lalu coba bayangkan, untuk menyudahi perang tersebut, para executive operator tersebut bertemu dan akhirnya sepakat menjalin gentlemen agreement: “aliansi para operator untuk menjaga harga di tingkat Rp 1.500,-/menit yang dibuat dg perjanjian dibawah tangan”
Operator perang harga, atau mereka damai dan kembali ke harga lama, apa pilihan Anda?