Jam 18.20 tepat saya dan istri sampai di pelataran Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB Bandung. Maksud hati langsung eksekusi mekanisme FIFS (First In First Served), ee kami dan lima puluhan penonton yang lainnya (dalam dua sab barisan kanan dan kiri gerbang masuk), malah “dieksekusi” mendapat bonus penderitaan hampir dua jam berdiri di depan gerbang masuk (karena alasan klasik petugas jaga: di dalam belum siap). Menjelang pukul 19.30, lantaran tidak ada separator yang disediakan panitia mengakibatkan adanya barisan penyerobot langsung merengsek ke gerbang masuk tanpa memperdulikan barisan yang telah tersusun rapi ke belakang dan akhirnya antrian yang sudah tertib sebelumnya jadi berantakan. Tepat 20.15 kami baru bisa bisa masuk meski terjadi bottle neck effect gara-gara penyerobot yang tidak mau antri tersebut. Sampai di security check point ada ”eksekusi tambahan” lainnya yakni botol air mineral kami harus direlakan untuk tidak menonton TOTO, “Botol minuman dilarang dibawa masuk ke dalam” begitu pengumuman dari panitia. OK, pikir saya, kalau itu rule of the game-nya ya harus diikuti. Dan alangkah kagetnya kami saat masuk ke dalam, ada SPG dari perusahan minuman menawarkan produk mereka minuman botolan … “hah?”, belum lagi melihat tamu undangan pelanggan dari sebuah perusahaan sponsor dibagikan konsumsi plus minuman kalengnya, “wah2x” bagaimana dengan rule of the game kepada kami yang telah dilucuti botol minuman air mineral kesayangan kami sebelum masuk gedung Sabuga tadi?
Begitu bisa masuk ke dalam ruangan pertunjukan langsung mencari tempat yang paling strategis (mumpung karcis kami: VVIP) dan dapat di deretan kursi ala theather (satu-satunya deretan kursi-kursi VVIP (tidak ada labelnya undangan) , sedangkan deretan berikutnya diperuntukkan untuk undangan lengkap dengan label keterangan di kursinya) . Jadi kami duduk pas di deretan kursi yang persis satu level lebih atas dan di depan meja sound & lighting control pertunjukan (benar-benar tepat pada level pandangan mata manusia normal, memandang ke panggung). Saat dudukpun saya mulai melakukan mapping posisi penonton berdasarkan tempat duduk mulai dari VVIP + Undangan, VIP, Kelas 1 dan sampai ke Festival area saya rada kaget … karena terletak di sisi kiri dan kanan panggung bukan tepat di depan/bibir panggung sebagaimana lazim-nya. Bisa dibayangkan, untuk peserta kelas festival yang terhimpit ke sisi paling pojok kiri/kanan kemungkinan besar tidak bisa melihat dengan jelas ke panggung … lha ketutup sound system-nya yang gede itu. Teringat True Worshipers Concert beberapa waktu silam yang perform juga di Sabuga , saat itu dioperasikan dua screen raksasa untuk menjamu penonton yang sudut pandangan-nya sempit atau tidak melihat sama sekali ke sisi panggung dan contoh lainnya ya waktu wisuda dulu di ITB (tempat sama, di Sabuga) juga pakai big screen … masak konser dengan grup dunia seperti ini malah big screen tersebut tidak ada :(
Sambil menunggu, saya mulai memperhatikan bule-bule (sound engineer & lighting engineernya TOTO) bekerja. Diam-diam saya mengapreasiasikan kerja mereka mulai dari persiapan sampai saat TOTO beraksi di panggung.
Bule bertopi, busana casual plus celana setengah lutut (bersepatu Adidas) dengan kaos kaki putih semata kaki ini bertugas untuk lighting control (lihat foto kiri bawah), wuih seru! Bagaimana tidak, tangannya lincah dengan menggeser maju mundur beberapa tombol panel untuk terus memainkan sinar lampu itu menari-nari mengikuti irama dari musik TOTO sampai pada level dinamiknya sekali pun … permainan lampunya membuat sinar lampu seperti punya roh terhadap aksi panggung TOTO begitu saat klimaks sampai closing-nya begitu sempurna! Begitu juga paduan warna sinar lampu kuning, biru, hijau, merah, violet de es be (baca dsb
) menyapu drum set yang transparan serta membiarkan pancaran sinar lampu menembus & memantulkan pesona warnanya… wow.
Bule lain (sound engineer) dengan balutan kaos, bercelana selutut serta cukup minimalis dengan sepeda eh sandal gunungnya (lihat foto kanan atas), sibuk melihat panel-panel sesekali jongkok melihat angka-angka yang tertera di monitor yang bergerak di range angka 70-75an (kira2x apa ya … apa parameter itu dalam satuan db?). Nah si bule sang sound engineer ini, tentu saja indra pendengarnya menjadi senjata kepekaaan yang handal. Saya perhatikan saat pergantian permainan solo dari lead guitar ke keyboard, drum, guitar & bass-nya terasa smooth melalui putaran tangannya yang lembut dan presisi seberapa level kenaikan/penurunan volume instrumen yang dimainkan TOTO pada panel mixer-nya. Ada lagi satu perangkat di atas mixer tersebut yang cukup menarik perhatian saya yakni iPod Nano warna putih … ternyata perangkatan besutan Apple ini menyimpan playlist lagu-lagu yang diputar sebelum dan sesudah show TOTO.
Terus bagaimana dengan TOTO-nya Bos? Ooops …. sabar ya …. sudah jam 02.00 dinihari nih, besok ya saya sambung lagi sudah mengantuk nih karena kecapekan berdiri tadi masuk ke konser-nya TOTO he2x (cari alasan
). Besok ya saya lanjutin lagi ya.
Di Sabtu sore yang agak mendung [15 Maret 16:07], duduk seorang manusia ganteng yang telah berjanji melanjutkan cerita konser TOTO semalam, es be be:
Lanjutin lagi ya tentang konser TOTO semalam (bertajuk Falling In Between Live), lengkap dengan formasinya: Steve Lukather (lead guitar), Simon Philips (drum), Bobby Kimball (vocal), Greg Phillinganes (keyboard), Tony Spinner (guitar), Leland Sklar (bass). Konser dimulai, ditandai sinyal sinar senter kecil dari crew TOTO di samping panggung ke arah sound engineer dan lighting engineer, pertanda show akan dimulai sebentar lagi dimulai. Konser dibuka dengan intro lengkingan gitar Steve ini, langsung menggebrak dengan beat-beat keras disusul oleh lima personil lainnya. Performansi yang menyunguhkan kombinasi nuansa nostalgia dengan hit lawas-nya Africa, Rossana dan kembali dilanjutkan dengan hentakan-hentakan musik lagu berikutnya … sama sekali terlihat jelas performa yang enerjik dan stamina yang ok lewat geberan lima belas-an lagu mereka. Saya perhatikan khusus Steve hampir tiap lagu ganti gitar (mungkin biar dilap dulu oleh crew-nya karena keringat) dan Steve sendiri beberapa saat merengkuh handuk untuk mengelap keringat mungkin akibat panas sapuan lampu panggung (kalau tidak salah hitung gitar yang dipakai Steve: 3 buah gitar elektrik dan 1 gitar akustik) .
Saya sih tidak begitu nge-fans banget & hafal dengan lagu2xnya semuanya … ya penganut easy listening aja (bukan untuk nyanyi-nya euy). Saya sendiri suka dan pertama kali kenal TOTO saat teman saya kuliah dulu (Roy) naksir Lia (teman saya juga) dan tiap hari si Roy ini putar lagunya TOTO “Lea” (baca: Lia) dedicated to his lovely target he2x (masih target coy). Eh, kok nglantur ya … back to laptop he2x
Beberapa hal yang saya suka dari penampilan mereka semalam adalah selain kemapuan bermusik yang impresif, yakni distribusi performansi tidak hanya berpusat pada sang gitaris Steve Lukather sing pancen oye. Penonton disuguhi kemampuan bermusik dan olah vokal dari pemain lainnya yang saling bersinergi secara smooth. Saya perhatikan selain Bobby Kimball yang memang job description sebagai vokalis, Greg Phillinganes, Tony Spinner serta Steve Lukather turut unjuk olah vokal-nya.
Jam session yang sudah menjadi tontonan menarik di sebuah konser tidak lupa disuguhkan secara menarik oleh keenam personil grup ini. Dimulai dari jam session setiap pemain (dimulai permainan improvisasi yang impresif Greg Phillinganes pada tuts tiga keyboardnya), lanjut dengan duet jam session (antar dua pemain, he2x istilahnya bener gak ya, cmiw) dan secara medley jam session yang saling bersaut-sautan sama lain yang harmoni dan enerjik. Akhirnya sampai pada penghujung konser yang ditutup dengan kesan saya pribadi : PUAS!! Saya lihat, saya belajar bagaimana grup dunia ini bekerja dalam sebuah industri showbiz termasuk melihat orang-orang yang bekerja di belakang panggungnya. [Inzet, bawah] >> tiket Konser TOTO di Bandung [World Tour 2008] maaf, baru saya scan setelah konser so tampilannya acak adut.

Whaaaa…
ini juga salah satu kegagalan menyedihkan dalam hidupku mas.
Toto udah manggung (koyo perkutut wae yo) di Indonesia, tetep aja gak bisa nonton karena ada yang mesti dikerjakan.
Hiks!!
Tenang … mbak masih ada konser2x nya di Tokyo, Manila, Cebu dan Seoul, gak percaya ? cek aja jadwal tournya
http://www.toto99.com/tourdates/calendar/list.php
saya yg apes mas, udah jauh2 dr padang mau nonton TOTO yg di surabaya, eh diundur.padahal tiket pulang sby-jkt dah pesan utk besoknya.gagal deh.ke surabaya cuma ikut ribut di gedung pertunjukan krn toto batal malam itu
.kejar ke bandung, keabisan tiket.
betul sekali pak, kami yang di kelas festival sungguh menderita… ceritanya di sini http://insidemybrain.multiply.com/journal/item/48/Ke_Bandung_Nonton_TOTO
@ abboy: wah … sayang ya gak bisa nonton TOTO btw salut perjuangannya (terbang dari Padang hanya untuk nonton TOTO). Email ceritanya aja ke mas2x TOTO itu & minta untuk next show di Indo … mampir ke Padang
@ apip: akhirnya bisa migrasi ke depan panggung ya? lha itu kan seharusnya jatah festivalers he2x
Salam kenal.
Wah boleh foto-fotonya! Saya suka dengan pencahayaannya. Ada foto yang drum saja? Persis ketika lampu menghiasi drum? Saya suka sekali dengan momen itu. Ketika cahaya lampu disesuaikan dengan gebukan drummer.
Salam kenal juga Mas Zaki. Foto yang hanya drum saja tidak ada, soalnya saya fotonya pake kamera HP (jadi bukan masuk kaulifikasi tele lens he2x). Kl ttg cahaya lampu disesuaikan dengan gebukan drummer, yang saya kagumi ya lighting engineer-nya (see cerita saya sebelumnya).Thx
Wah mantap juga ya klo begitu profesi lighting engineer. Jadi lebih “terasa” pukulan drum-nya
Aku ikut nonton….tp beli yang di Festival aja, maksudnya biar deket panggung.
Eh taunya kehalang speaker2 yang tingginya kurang lebih 1,5 meter diatas panggung yang tingginya dah 1,5 meter sendiri (total 3 meter) dengan posisi disamping panggung…cape dehh….