Orang Tuaku adalah Pendidik!
April 13, 2008 by jmzach
X: “Apa pekerjaan orang tuamu?”
Y:”Guru”
X:”Guru di mana?”
Y:”di Satya Wacana (UNSWUKSW) , Tarumanegara (UNTAR), Univ. Kristen Djajakarta (UKRIDA) dan pernah di Unika Atma Jaya Jakarta”
X: ”Lho pekerjaan orang tuamu, dosen to?”
Y:”dosen kan guru juga to?”
Itulah petikan dialog antara saya (Y) dan beberapa orang/orang lain (X). Saya selalu bangga kalau ditanya sehubungan orang tua saya. Banyak hal yang membuat saya bangga dan tidak bisa semua saya ceritakan di sini. Salah satu yang membuat bangga pada orang tua saya adalah karena mereka adalah guru (baca: pendidik).
Saya selalu ingat ucapaan mereka untuk hidup secukupnya beberapa tahun silam, kira2x seperti ini:
Jadi dosen itu hidupnya tidak berlebih dan tidak kekurangan … ya C-U-K-U-P.
Oleh karena itu, sejak kecil kami sudah dibiasakan untuk tidak hidup neko2x/hidup mewah (lha memang gak punya apa2x to he2x).
Salah satu harta diwariskan mereka sebagai pendidik adalah passion to learn meski proses mengubah yang namanya belajar (yang sebelumnya lekat dengan embel2x wajib/keharusan belajar) menjadi hasrat/passion to learn ini butuh usaha dan waktu yang tidak singkat.
Sewaktu saya kelas 5 atau 6 SD, ibu saya selalu mengingatkan untuk belajar supaya bisa masuk SMP impian di kota saya dan pesan beliau itu kembali menggetarkan saya saat mengantar saya untuk mendaftar untuk tes masuk di SMPN1 Salatiga (sekolah yang melahirkan 2 pelajar Teladan Nasional pada periode berbeda saat itu). Beliau hanya bilang:
“Mama tidak bisa bantu apa-apa, semua tergantung usahamu sendiri apakah bisa masuk atau tidak ke SMPN1″.
Bagi seorang anak 12 tahun (lulusan SD) belum pernah pernah terpikirkan tentang persaingan ujian masuk SMP yang begitu sengit ini ( pilihanya ya … masuk atau tidak). Contoh teman2x yang gagal masuk SMP ini juga banyak. Belum lagi, kakak saya satu-satunya baru saja lulus dari SMP tersebut dan prestasinya menonjol juga di sana … Lecutan ini yang buat saya seorang anak berumur dua belas tahun saat itu untuk mulai belajar mandiri dan berpikir realistis bahwa goal yang ada hanya bisa saya capai hanya dengan usaha saya sendiri.Thanks Ma for this!
Cerita-cerita pengalaman mereka cukup menumbuhkan bukan saja inspirasi namun kebanggaan bagi saya. Salah satunya saat Muhamad Yamin (perdana menteri Indonesia tahun 50-an) menguji skripsi ibu saya tentang sejarah dunia. Muhammad Yamin yang baru saja pulang dari lawatan luar negerinya, langsung mempersilahkan ibu saya dan menanyakan asal daerah ibu saya Begitu ibu saya menjawab “Ambon” langsung beliau minta ibu menceritakan sejarah kedatangan Bangsa Belanda untuk mencari rempah-rempah di Indonesia sampai ke Maluku. Setelah itu Muhamad Yamin meminta ibu saya memutar bola dunia (globe) di ruangan tersebut dan memintanya untuk menunjuk suatu titik sembarang di globe tersebut sehingga globe tersebut berhenti berputar dan apa kata beliau:
Itu kota mana dan negara apa? Dan ceritakan sejarahnya!
Singkatnya cerita ibu saya akhirnya dinyatakan lulus dan Muhammad Yamin sangat puas dengan hasil ujian ini dan ibu saya mendapat hadiah persenan uang dari honorarium dari beliau sebagai penguji.
Kalau bicara tentang ibu saya ya beliau itu otaknya encer sekali dan rangking terus termasuk saat kuliah lagi untuk jurusan yang berbeda (jurusan bahasa Ingris). Rekor terakhir ini yang saya tidak tahu, apa sudah dipecahkan atau belum, beliau adalah pemegang IP tertinggi untuk jurusan Bahasa Inggris (JPBS) di UKSW dengan IP kelulusannya: 3.96 (jadi hanya satu nilai B, nilai lainnya A semua). Dan bakat pinternya ini turun ke kakak saya Ency. Kl saya? wah so so lah (sedang-sedang saja) kalau nakal waktu sekolah, malah iya ha2x :).
Oh, ya saya ingat pengalaman waktu kecil, kebetulan saya selalu standby di kantor ibu sepulang sekolah saat menemani ibu ke kantor keuangan dan menerima gaji dalam 1 amplop. Setelah itu saat pulang rumah, saya menemani ibu berdoa atas berkat yang diterima (baca: gaji) untuk satu bulan dan setelah kami berdoa, jadi deh saya kecil yang kebagian Rp.1.000 sebagai “gaji” saya untuk sebulan he2x.
Pelajaran yang dapat saya petik dari pengalaman ini, apapun itu entah gaji yang rutinitas kita terima … setiap saat harus kita syukuri dan doa-kan agar bisa digunakan secukupnya dan bermanfaat (bagi diri sendiri dan orang lain).
Tentang ayah saya. Oh, yang saya selalu ingat tentang beliau … adalah pekerja keras, semuanya itu dilakukannya untuk pendidikan anak-anaknya. Selain sebagai dosen, beliau juga aktif di dunia perpolitikan dan legislatif selama 16 tahun. Jadi ingat pesannya tentang dunia perpolitikan ini:
“Kalau mau terjun ke politik/legislatif, kamu harus sudah dalam keadaan financial freedom (mapan). Jadi bila masuk dan berbuatlah sesuatu sesuai hati nuranimu sampai maksimal. Kalau sudah mentok/maksimal berusaha (tetap tidak banyak berkontribusi yang baik ke dalam) … ya KELUAR saja.”
Dan itu juga dilakukan beliau setelah 16 tahun berkarir di legislatif dan untuk seterusnya keluar dari dunia perpolitikan dan kembali ke kampus.
Kebanggaan saya lainnya saat berumur belasan tahun melihat ayah belajar lagi untuk bidang studi yang berbeda, melihatnya belajar dan dibimbing saat menulis skripsi dan tesis oleh beberapa guru besar terkenal seperti Prof Sutjipto Rahardjo (Pakar Hukum Undip) dan Prof. Koesnadi Hardjo Sumantri (mantan Rektor UGM, guru besar UGM dan dosen UI).
Saya pribadi percaya saat kita berhubungan dengan orang lain, ada banyak hal yang positif bisa diserap/didapat baik itu secara langsung maupun tidak langsung apalagi dengan orang-orang hebat di bidang-nya.
Tanpa terasa tulisan-tulisan spontanitas ini, mengalir begitu saja seperti kasih sayang orang tua saya pada anak-anaknya yang tak perhah henti. Kebangganku pada mereka tidak pernah luntur, sekali lagi salah satu sisi kebangganku pada mereka:
Orang Tuaku adalah P-E-N-D-I-D-I-K !
Salam penuh cinta untuk papa dan mama di Salatiga. I Love You All. Selalu sehat selalu dan God Bles You!!
nb: Pada akhirnya kita semua sebagai seorang anak pasti mempunyai sosok guru yang mendidik dari kecil sampai saat ini, yakni orang tua kita apapun profesi orang tua kita. Jadi anda juga turut bisa berbangga bahwa:
Orang Tua Anda juga adalah P-E-N-D-I-D-I-K !
![]()
Memang unsur terpenting dalam pembentukan karakter anak adalah prang tua, menurut saya orang tua adalah pendidik utama!
Beruntung bagi kita yang orangtuanya pham akan pentingnya dan cara mendidik yang benar.
SSM=Sangat Sepakat Mas
Pendidik memang masih mempunyai tempat tersendiri yang cenderung istimewa di hati masyarakat. Semoga tidak banyak oknum pendidik yang merusak citra tersebut, sehingga posisinya tetap istimewa di hati kebanyakan orang.
Salut, Pak jmzach punya orang tua yang hebat2,,,
semoga bisa ikut meneruskan menjadi seorang PENDIDIK sejati..
Saya juga dengan bangga akan mengatakan, “Orang tua saya adalah orang tua terhebat di dunia”
@ rakhmawan:
Setuju Pak.Setiap anak pasti merasa bahwa orang tua-nya adalah orang tua terhebat bukan?
baca pada bagian terakhir posting di atas
“Pada akhirnya kita semua sebagai seorang anak pasti mempunyai sosok guru yang mendidik dari kecil sampai saat ini, yakni orang tua kita apapun profesi orang tua kita. Jadi kita juga turut bisa berbangga bahwa:
Orang Tua kita juga adalah P-E-N-D-I-D-I-K ! “
YA … orang tua saya adalah “Pendidik” dan Pendidik …
Pekerjaan Utama : mendidik kami anak-anaknya …
Pekerjaan Sambilan :
Ayah … Dosen …
Ibu … Guru SMA …
Hehehe klop bukan ???
Salam saya Pak …
Bapak saya juga pendidik Pak. Mulai dengan karir teknis, lalu administrasi / tata usaha dan terakhir sebagai ‘guru’ di Pusat Pendidikan Kehutanan. Ibu saya ‘full-time’ jadi pendidik bagi ketujuh anak-anaknya. Salam sukses …
Hebat nih Mas Zach,
kedua orang tuaku juga guru, tp di level SMP dan SMA.
Alhamdulillah mereka memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak2nya.
Mari kita bersyukur pada kedua org tua kita.
–
Mukhlason
@ mukhlason:
Pak Aircraft model-nya keren2x tuh :). Btw, belum punya
blog ya … hayuk buat blog dan mulai menulis.
@ Oemar Bakrie & nh18:
sama donk dengan saya yang tergabung dalam “PAGI”
(Persatoean Anak Goeroe Indonesia) he2x
@ AAA:
Betul Pak …. amien
Pak jmzach, menarik juga cerita dan pengalaman hidup yang dibagikan.
Saya sepakat dengan pernyataan ayahanda tentang level hidup keluarga dosen (pendidik) yang cukup.
Saya sendiri adalah pendidik di kampus Pak jmzach dulu berada. Dan memang selama bekerja sebagai dosen selama 13 tahun saya dan keluarga masuk dalam kategori itu. Itupun kami masih merasa bersyukur.
Mengambil sebagian kecil cuplikan cerita Pak jmzach perihal Prof Yamin, ibu Pak jmzach dan bapak Pak jmzach yang akhirnya kembali ke pangkuan pendidikan, saya ingin mendorong sebuah gagasan dan pengamatan kecil yaitu di masa kini sulit juga menemukan sosok pendidik yang benar-benar pendidik.
Saya ambil di lingkungan dosen saja dulu sebagai contoh.
Banyak saat ini teman-teman dosen lebih sibuk dengan urusan proyek, atau asyik sebagai selebriti publik, yang kemudian beranjak ke wilayah birokrasi, sejumlah BUMN, dan sekelasnya….
Dan sebatas pemahaman yang saya temui, menurut saya bapak/ibu pendidik dosen seperti ini justru nggak karuan proses ngajar/pengajarannya di kampus….
Dan kalau bisa saya angkat lebih makro dan global lagi nampaknya dunia mulai kesulitan mencari sosok-sosok ini.
Misalnya di tempat sekarang saya balajar di negeri kangguru ini, ada sebuah diskursus dimana sejumlah dosen perguruan tinggi Aussie lebih memilih untuk tidak menjadi pendidik dan lebih memilih mengerjakan riset dan proyek-proyek yang memiliki kadar kenikmatan lebih dibanding mendidik sebuah generasi.
Mendidik, perlu kesungguhan, passion. Dan saya kagum dengan filosofi Jepang membangun komitmen ini.
Setiap dosen/guru/pendidik di Jepang ditanamkan (walau terkesan doktrinasi sekali) bahwa mereka sadar kalau tugas mereka adalah menemui dan membentuk satu generasi di bawah mereka sebagai subjek dan obyek pendidikan mereka.
Pendidik/guru/pengajar di jepang semakin baik, dikenal, atau semakin senior akan semakin memegang peran dan materi yang lebih mendasar/fundamental.
Sementara kebalikan dengan kita. Pendidik yang semakin baik, dikenal dan mumpuni justru ditarik pemerintah, pebisnis, partai politik, dan di kampus atau sekolah semakin memilih mata kuliah introduksi atau mata kuliah pengantar…..
Mungkin saya sedikit phobia tentang fenomena yang terjadi di Indonesia, namun bukankah “dapur kemajuan” dan peradaban sebuah bangsa ada salah satunya dimulai di dalam ruang kecil yang namanya kelas dan sekolah…itu..
Mungkin itu sedikit yang bisa menjadi bahan diskusi dan pendalaman Pak jmzach selanjutnya.
Terus berkarya dan menorehkan karya dalam dunia pendidikan Pak jmzach ya,…..
Salam
Saut Gurning
Waaa pak Jacky ceritanya mengharukan skali. Senangnya punya orang tua seperti beliau beliau =)… Beruntunglah pak Jacky ; ) Bukan tugas yang mudah untuk mendidik anak sampai bisa jadi sosok seperti pak Jacky ; )
Stuju juga dengan comment teman2 pak Jacky. Setiap insan pasti berpendapat bahwa orang tuanya adalah yang terbaik. Apa yang sudah kita raih sampe detik ini pasti tidak luput dari jasa orang tua kita masing2.
Sy berharap Tuhan memberikan kesempatan, agar Sy bisa membalas curahan kasih sayang dan smua yang telah mereka berikan slama hidup Sy = ) Amin…
alhamdulillah..
i just want to say “i proud have a parent like them”
matursuwun nggih make-pake…
maafkan anakmu yang sering berbuat salah..