“Hot Towel Sir!” sapa pramugari halus membangunkan saya tepat jam 07.00 waktu bagian udara (he2x … still flying accross somewhere).
Aha … lumayan sapuan handuk kecil panas di wajah langsung membuat wajah menjadi segar seketika ini juga merupakan prosedur standar bagi pramugari/pramugara SQ untuk mulai melayani breakfast penumpang 90 menit sebelum si burung besi bernomor SQ672 mendarat di Nagoya. Setelah quick breakfast, saya pun melongok ke arah jendela dan sejenak terkesima melihat jelas kota dengan hamparan pemukiman diapit bukit-bukit hijau … sambil bergumam …kota apa ini ya? Untuk perkiraan saya sementara, kota ini adalah Kyoto (bila dilihat dari lokasinya di peta monitor depan kursi saya. Akhirnya, saat berkesempatan mengunjungi Kyoto dan berada di salah satu roof top floor di Kyoto station, saya pun semakin yakin setelah melihat bukit-bukit yang mengitari kota ini dan tentu saja setelah bertanya pada rekan saya yang berdomisili di Kyoto.
Centrair Japan Airport (Chubu Airport)
Suasana di Centrair Japan Airport [ltr belakang pesawat Korea Air]
Akhirnya tepat jam 08.30 waktu Nagoya (setelah menempuh 6 jam 25 menit perjalana dari Singapura) roda burung besi yang membawa saya menyentuh landasan dengan mulus. Sambil lalu saya melihat pemandangan yang menarik dari dalam pesawat, saya bisa melihat jelas kapal laut yang sedang hilir mudik maklum airport ini terletak dipinggir laut juga (ya mirip dengan Bandara Sepinggan Balikpapan lah).
Tips: begitu mendarat di Jepang, persiapakan diri dengan tata bahasa Jepang dasar/basic : seperti Subyek (S) +Obyek (O) baru diikuti Predikat (P) termasuk untuk bahasa sehari-hari untuk travelling, shopping, asking some helps & etc) dan jangan lupa pocket dictionary …kalau-kalau kita tidak tahu padanana katanya dalam bahasa Jepang. Semua itu untuk jaga-jaga kalau ketemu orang lokal yang tidak bisa bahasa Inggris dan situasi/kondisi seperti ini sangat sering terjadi di Jepang.
Pemeriksaan random orang asing oleh polisi lokal
Setelah melewati imigrasi (plus rekam sidik jari & foto ) dan custom, akhirnya beres dan keluar tepat di bagian arival sambil clingak sana clinguk sini … sambil mencari jalan menuju ke MRT dengan jurusan Centrair Japan Airport (Chubu Airport) menuju ke Nagoya.
Eee, ada seorang dengan jas lengkap sambil menunjukkan lencanannya dan memperkenalkan diri dari kepolisian Nagoya berpangkat Inspektur xxxxxxxx (yang jepas bukan Inspektur Vijay tentunya he2x), sambil menanyakan paspor, maksud dan tujuan kedatangan di Jepang, kantor yang akan dikunjungi (bila kita menjawab alasan kedatangan kita karena bisnis) dan mencatatnya dengan seksama. Saya sempat ragu dan minta si polisi ini menunjukkan lencananya untuk kedua kalinya dan dengan senang hati beliau mempertunjukkan lencanannya sampai saya benar2x agak yakin (soalnya masih kaget saja). Saya jadi ingat rekan saya yang tampang melayu juga pernah ditanya dengan sopan oleh seorang polwan dengan prosedur yang sama dengan yang saya alami.
Tips: baiknya dimana kita berada pastikan kita tahu/kenal lambang kepolisian negara yang bersangkutan & prosedur standar kepolisian setempat berkaitan dengan orang asing. Termasuk cek nomor telepon darurat polisi di sana (biasannya pake dial standar internasional 110) dan kalau ada catat nomor telepon Tourism Police.
Menuju Nagoya
Jarak antara Centrair Japan Airport (Chubu Airport) dengan Nagoya sekitar 46 km dan dapat ditempuh sekitar 35 menit dengan beberapa kereta salah satunya Meitetsu Line (Rapid Limited Express , dengan harga 1200 Yen) yang hanya berhenti di dua statiun antara sebelum sampai di Nagoya station plus ada tv monitor untuk melihat view di bagian depan layaknya kita berada di lokomotif lengkap dengan level kecepatannya seperti foto jepretan saya di seperti foto di bawah ini:
Layar monitor Rapid Limited Express
Ada juga kereta lain yang lebih murah (sekitar 850 Yen) namun pemberentiannya di 10 station antara sebelum mencapai Nagoya station dengan waktu tempuh 45 menit. Kalau mau naik taksi juga bisa tapi mahal banget, saya pernah lihat rate-nya di website sekitar 15.000 Yen ( hampir 10x harga tiket kereta api dan jangan coba2x kurskan ke rupiah wus … langsung pingsan lihat hasil kursnya jadi Rp. 1.500.000,00 … kl gak pingsan … berarti Anda masuk kategori mapan ha2x.
Nagoya Station
Sampai di Nagoya, saya langsung menuju hotel yang memang letaknya di dalam atau merupakan bagian yang terintegrasi dengan Nagoya station. Saya perhatikan ada dua hotel yang terintegrasi dengan Nagoya station ini yakni Marriot Nagoya Terminal Hotel & Associa Nagoya Terminal Hotel yang juga berdampingan dengan JR Takashimaya serta terminal bis. Nagoya station ini cukup besar yang merupakan interchange dari beberapa kereta baik yang dari airport, Shinkansen (Tokyo-Nagoya-Osaka) maupun subway (kereta di bawah tanah yang menghubungkan sentra-sentra di kota Nagoya.
Saya sendiri sempat tidak percaya, melihat keramaian orang-orang yang luar biasa padatnya di station ini yang berjalan sangat cepat (mungkin mengejar kereta berikutnya?). Kalau kita lihat dari lantai atas, terlihat seperti segerombolan semut yang banyak sekali yang bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain dan bertemu gerembolan semut yang lain dengan tidak kalah banyaknya dari arah yang berbeda. Dan satu lagi, profesional yang wira-wiri di seputaran Station Nagoya dan sekitarnya rata-rata modis dan trendy lengkap dengan stelan lengkap jas untuk profesional pria-nya seperti foto di bawah:

Profesional muda lengkap dengan jasnya
Nagoya kota bersepeda
Nagoya surga untuk bersepeda, tidak heran kl sepeda dimanjakan dengan area parkir khusus dan pejalan kaki harus awas karena ada pesepeda yang cukup kencang dan manuver layaknya pesawat tempur yang muncul dari belakang maupun dari depan kita. Oh ya tentang hal rokok/merokok, saya perhatikan di bis/rumahmakan bahkan di Shinkansen (kereta api cepat Tokyo-Nagoya-Kyoto) perokok dimanjakan dengan kondisi ini, dengan santainya mereka merokok di ruangan ber-AC tersebut. Khusus di kereta api Shinkansen saya perhatikan seperti ada semacam alat penghisap asap. Di lain pihak,khusus untuk wilayah publik seperti station, taman atau jalan/halte bis memang dilarang untuk merokok.
Shinkansen (The Bullet Train)

Shinkansen saat akan memasuki Nagoya Sta.
Ikwal tentang Shinkansen ini sudah lama saya dengar sejak saya kecil. Dengan bentuk lokomotif yang mirip moncong pesawat begitu aerodinamis dan menyatu dengan gerbong-gerbongnya, so saya sudah merencanakan untuk menggunakan Shinkansen untuk perjalanan saya Nagoya-Kyoto-Osaka. Shinkansen (The Bullet Train) ini merupakan kebanggaan transportasi cepat oleh bangsa Jepang, selain itu kereta ini pemersatu/penyambung antar kota di seluruh Jepang. Saya pun menumpang Shinkansen dari Tokyo dari Nagoya menuju Kyoto dengan harga tiket 5600 Yen sekali jalan (Rp.560.000,00). Kalau harga tiket Tokyo-Nagoya 10.000 Yen (Rp. 1.000.000,00). Pembelian tiket dapat dilakukan dengan tiket machine dengan kartu kredit.
Tips: pastikan kartu kredit anda sudah dilengkapi PIN, karena saat pembayaran Anda harus memasukkan PIN tersebut).
Kalau anda berencana pulang pergi dalam kurun waktu dua hari, anda dapat memesan round trip ticket dan dapat pulang-pergi kapan saja asal dalam dua hari yang telah ditentukan tersebut (dengan catatan pemesanan tiket Anda bukan yang seat reservation). Dan kalau berangkat dengan tiket no reservation (tidak reservasi) tiket untuk gerbong 1-3, siap2x saja untuk berdiri pada weekend karena Shinkansen ini memang penuh untuk orang yang balik dari mudik untuk kerja di hari Seninnya. Andapun dapat merencanakan jam berapa anda ingin berangkat/sampai di kota tujuan dengan bantuan travel planner di link ini http://www.tabi-o-ji.com/shinkansen/schedule/schedule_en.html .
Kyoto Station
Begitu sampai Shinkansen sampai di Kyoto Station, saya segera bersiap keluar dan melangkah di platform station sambil bersiap untuk mengambil foto beberapa Shinkansen yang hilir mudik dari Osaka dan dari arah Nagoya/Tokyo. Kemudian saya, menuruni tangga melewati underpass menuju shop area & resto di bagian bawah sebelum menuju bagian exit.
Sesaat akan keluar dari Kyoto Station ternyata bagian ini ternyata yang paling besar sekali, dengan bagian atas dihiasai platform baja dengan arsitektur yang menarik. Pada bagian ini terdari dari beberapa level, dimana di tempat ini meupkan interchange antara kereta Shinkansen, Subway (kereta bawah tanah) & bis. Coba saja naik eskalator ke bagian atas, maka ada panggung dengan anak tangga bertingkat ke atas untuk para pononton duduk. Kebetulan pertunjukkan pada taganggal 1 Juni 2008 lalu adalah orkrestra dari beberapa pelajar SMU se Kyoto. Kalau mau lihat kota Kyota coba naik eskalator ke level yang paling atas dan Anda bisa menikmati kota Kyota dari berbagai arah sambil bersantai pada taman di tengahnya.
Pertunjukan orkestra siswa SMU di Kyoto station
Kyoto
Berbicara tentang Kyoto ya tentu, ingatan langsung melayang pada kota peradaban Jepang jaman dulu dengan peninggalan2xannya seperti kuil-kuil. Saya sih cuma sempat mengunjungi dua kuil di seputaran kota Kyoto. Dan puas memfoto Kyota Tower yang begitu eksotik menjelang senja.

Pelataran atas Kyoto Sta ini cocok untuk “mojok”
Nagoya Castle
Nagoya Caslte udah masuk dalam urutan prioritas yang wajib dikunjungi. Untuk mencapai saya harus naik Subway dua kali ganti kereta (transit di Sakae Station) dan berhenti di CityHall. CityHall ini ya juga peninggalan jaman dulu seperti layaknya gedung pusat pemerintahan. Untuk mencapai Nagoya Castle tidak sulit cukup jalan kaki sekita 2-3 km sepnjang Dekimachi-dori road dan sampai deh di sana. Yang mengesankan saya waktu saya salah ambil jalan alias nyasar dan setelah nanya arah Nagoya Castle mana dalam bahasa Jepang yang pas-pas2xan (red: orang lokal lebih mengenal Nagoya castle dengan naman Donjon), akhirnya saya sampai di sana. Benar juga kata penduduk lokal itu “Kamu jalan sedikit dan setelah jembatan penyebrangan itu, kamu bisa melihat puncak Nagoya Castle dari kejauhan”. Dan saya pun takjub saat sudah lelah karena salah jalan dan melihat Nagoya Castle dari kejauhan seperti foto yang saya ambil dibawah ini:
Foto Nagoya Castle dari kejauhan
Bangunan yang begitu eksotik, begitu menyihir saya saat terlihat menyembul dari rimbunan pohon-pohon. Kamera saya terus menyalak mengabadikan Nagoya Castle di sore hari itu meski gerimis hujan turun.
Suara burung serta binatang rusa yang mengitari parit sekitar Nagoya Castle tersebut menambah suasana menjadi khas. Setelah hampir dua jam sibuk berfoto ria, saya memutuskan masuk ke dalam bangunan tersebut. Bangunan dengan tujuh tingkat ini sudah pernah dipugar untuk menambah kekuatan kontruksinya tanpa merubah bentuk aslinya. Pada tingkat 1- 6, disajikan maket area Nagoya Castle yang luas itu, rumah-rumah tradisional Jepang yang di sekitar nya lengkap dengan tata lampu dan audio visual yang memberi gambaran pada kita bagaimana suasana daerah pemukimana tersebut (subuh menjelang pagi, siang, senja dan malam) … lewat bantuan audio visual, meski tanpa guide sekalipun pengnjung dapat merasakan suasana tersebut. Sambil menyusuri tangga kayu yang asli dengan penguat besinya, akhirnya sampai ke tingkat teratas yaitu bagaian puncak (lantai 7). Dari sini kita dapat melihat dari semua penjuru arahmata angin dengan teropong. Saya sendiri langsung mengabadikan dari semua penjuru lewat kamera SLR saya. Kalau Anda tidak kuat menaiki tangga, ada lift yang siap mengantarkan Anda ke atas.
Oh, ya ikuti petunjuk dan larangan seperti dilarang menggunakan flash pada lantai tertentu dan ada area tertntu yang kita tidak boleh memotret sama sekali.
Bunga

Bunga Hydrangea
Bunga ini saya temukan di roof top Kyoto Station [Kyoto]. Yang namanya bunga-bunga di Jepang … banyak macamnya apalagi kl pas awal April – Mei wuih plus bunga sakura yang indah itu. Ada juga taman yang khusus untuk wild flowernya … bunga-bunga liar namun indah.
Oasis 21 & Nagoya TV Tower
Terletak di daerah Sakae yang merupakan daerah hang out di Nagoya ini (bisa dibilang Orchard road-nya ala Singapore atau kawasan Nanjing road ala Shanghai di Nagoya). Oasis 21 merupakan terminal bis di bawah tanah dengan arsitektur yang kontenporer dengan bagian yang terbuka ke arah jalan serta bagian atas (roof floornya) yang transparan dan pengunjung bisa melihat Nagoya TV Tower dan sekitarnya semakin dekat.
Ada beberapa tempat lainnya yg tidak sempat saya kunjungi: Noritake (tempat pembuatan alat2x makan tradisional Jepang), Toyota Museum, Maritime Museum dengan view melihat Pelabuhan Nagoya (Nagoya Port/Nagoyako).
Unik
Di Jepang, vending machine (konter minuman/rokok otomatis) adalah hal yang lumrah dan it a must provided at any places termasuk pinggir jalan. Ya kalau dibandingkan dengan kita (di Indonesia) ya vending machine sebanding dengan jumlah warung rokok kecil yang ada pinggir jalan. Waktu jalan kaki seputaran kota Nagoya saya menemukan vending machine dengan tulisan Gudang Garam Nusantara wah seneng juga ada produk nasional masuk pasar Jepang he2x.
Foto vending machine Gudang Garam Nusantara di Nagoya
Hotel Unik
Saya extend tiga hari setelah dinas lima hari di Nagoya, so saya pindah hotel cari yang lebih murah dan atas bantuan rekomendasi rekan2x di milis Jalan Sutra dan IA-ITB, dapatlah Super Hotel Nagoya Ekimae dengan rate 1/2 dari rate harga hotel saya sebelumnya (11.000 Yen/night). Jadi lah saya check-in, saat itu kita langsung bayar untuk tiga hari ke depan karena di hotel ini tidak ada prosedur check-out and bagaimana pengembalian kartu akses ke kamar bila tidak ada check-out? ho-ho di hotel ini tidak pakai kartu2xan semacam itu, yang berlaku ya sistem PIN (mau buka pintu: pejet PIN kamar Anda!), jadi begitu lewat jam check-out ya PIN kamar Andapun akan expired. Hotel ini masih terletak disekitar JR Nagoya station dan yang menariknya saya dapat kamar yang jendelanya langsung menghadap ke rangkaian rel-rel dari JR Nagoya station ini dan tentu saja tiap 5-7 menit Shinkansen (kereta api cepat Tokyo-Nagoya-Osaka) tak bosan-bosannya lewat di depan kamar eh malah lewat meja saya he2x ndak percaya ? (lihat foto di sebelah ini).
Tips: Perlu diperhatikan jam check-in di Jepang sekitar jam 15.00 dan jam check-out nya sekitar pukul 10.00/11.00. Saya pernah check-in 2 jam lebih cepat pada suatu hotel dan harus menambah biaya ekstra 2400 Yen dan pada hotel yang lain ada juga yang cukup tegas dengan aturan itu alias saya harus nunggu sampai check-in jam 15.00. So yang paling sengsara saat pindah hotel dari satu daerah ke hotel lain seperti pengalaman saya kemarin yang harus check-out jam 10.00/11.00 sedangkan baru bisa check-in di hotel lain baru jam 15.00 so ya nongkrong dulu di kafe he2x killing time deh yang jadi solusinya.
Kuliner
Terus terang selama beberapa hari di Nagoya, saya makannya yang standar dalam kemasan di area JR Takashimaya Food Court (sisi basement-nya) ya tinggal nunjuk makanan yang sudah ada harganya yang ada di display sambil bilang “Kore o kudasai” (artinya: Tolong beri yang ini). Range makanan di Nagoya ini dari yang ala kadarnya mulai dari 500 Yen (Rp. 50.000,00) sampai 1600-an Yen (Rp. 160.000,00) yang sudah jelas dijamin kenyang banget alias menunya komplet banget pernak-perniknya. Saya sempat diajak makanan di suatu resto yang terkenal (di daerah Sakae) dengan masakan terkenal yang berasal dari Nagoya yaitu Hitsumabushi ya semacam ikan yang berbentuk mirip ular yang hidup di air tawar/danau ( dalam bahasa Inggris dikenal dengan istila eel). Definisi dari eel ini saya kutip dari http://www.oup.com/oald-bin/web_getald7index1a.pl adalah sbb:
a long thin sea or freshwater fish that looks like a snake. There are several types of eel, some of which are used for food: jellied eels
Jadi Hitsumabushi kalau dalam bahasa Inggris diartikan menjadi Grilled Eel on Rice. Makanan ini enak banget & gurih disajikan dengan cara dibakar dengan kecap manis ehm, membuat makanan yang harganya 1600 Yen (Rp. 160.000,00) per paketnya layak untuk di coba bila Anda berada di Nagoya (tepatnya di daerah Sakae). Saya tidak sempat mencatat alamatnya karena alamatnya ditulis dalam aksara Jepang so saya pun berharap unutk melihat websitenya sehingga bisa mempelajari lebih dalam ttg makaanan ini beserta resto-nya. Namun perkiraan saya salah, begitu klik link resto-nya http://www.hitsumabushi.com/ ternyata websitenya bertuliskan aksara Jepang … lho? Saya pun mencari referensi makanan ini, di paman google dan kalau anda tertertarik untuk melihat seperti apa makanan ini klik aja link2x berikut ini:
- http://fiveprime.org/hivemind/Tags/eel,nagoya
- http://www.japan-hopper.com/2007/12/21_181226.php
-http://www.ncvb.or.jp/en/contents/sightseeing/gourmet/ (Untuk makanana yang recomended di Nagoya)
Oh, ya kalau mau beli oleh-oleh makanan ya ada satu tempat yang recomended yakni di dalam JR Nagoya Station yakni GIFT STATION. Sempat pas hari Minggu malam kemarin terjadi antrean panjang orang yang akan berpergian dan menyempatkan diri berbaris untuk membayar oleh-oleh makanan yang mereka beli seperti foto di bawah ini:
Antrian panjang saat membayar di Gift Station
Oh, ya saya juga punya lenggananan di foodcourt JR Takashimaya (basement) yakni FAUCHON Paris bakery khususnya roti gandum dan bahkan ice cream mocha-nya yang juga disajikan di pesawat Singapore Airline saat terbang dari Nagoya menuju Singapura.
nb: Tulisan ini akan terus di-update termasuk dengan foto-foto yang relevan … so sabar ya! Untuk laporan pandangan mata dari foto bisa dilihat di flikcr saya (tapi terus saya update, soalnya masih banyak foto-foto jepretan saya di sana yang yang belum saya sortir).






Wah jadi pingin ke Jepang
Ah aku harus mimpi dulu utk pergi ke Jepang. Siapa tahu liburan musim panas tahun depan bisa ke sana!
Mas numpang nanya,
Tentang jas di Jepang itu dipakai oleh professional saja (dokter / lawyer) atau juga dipakai pekerja kantor yang lain, atau juga pekerja di pabrik (ganti di locker site)?
loh kalau pindah hotel dan mo check out titipin aja tasnya di hotel lama, entar di jemput waktu mo check in.
atau bisa juga titip tas dulu kan? kalau belum bisa check in, malemnya setelah urusan kerjaan selesai baru check in?
Laporannya cukup komplit Pak, jadi pengen ke Jepang cuma belum ada yg ngundang (lagi) …
Laporannya lengkap banget Pak …
Bisa jadi panduan ke sana nih … soalnya saya juga penghoby jalan-jalan, cuma masih belum kesempatan … he he he… lebih tepatnya, belum ada duit …
Lengkap reportasenya pak. Saya tunggu cerita2 menarik di negeri Sakura. Salam
waaaaaaaaah fotonya keren sekali. Panduannya juga mendetil. Kapan ke Tokyo Pak?
Salam kenal dari tokyo
Salam kenal,…
Pak saya tertarik dgn tulisan bapak ttg Nagoya. Soalnya kemarin dr tgl 8 juni s/d 15 Juni saya berada di Nagoya juga.
U/ lebih irit kita (saya dan rekan yg lain )tinggal di Nakamura-ku (weekly mansion) yg jaraknya hanya 1 subway stasiun dr Nagoya.
Apa coba makan ke Yama-chan? Atau shopping k Bicamera. Di Kyoto saya berkunjung ke Kiyomizu-dera.
Saya tunggu lanjutan tulisan bapak.
mas, numpang nanya, itu vending machine gudang garam d nagoya belah mananya?
d osu kannon gt?
trus klo mo beli gudang garam slop2an d nagoya adanya d mana ya?
thx..
senang juga ya dgr in pengalaman, bapak, aku emang tinggal di jp, dan selama ini aku ,kesepian, tp ternyata liat tulisan bapa,tentang nagoya, aku jadi lbh bangga, dan kagum akan negara jepan,tambah sayang ama suami…dan akan ngurangin jadwal plg ke tanah air,emang sich jepan org nya penuh dengan tata krama ,yg jadiin org jepan taat akan peraturan !dan tanpa pelicin.kaya di indonesia!keamanan di airport,diterminal pun di sambut ama polisi,bukan ama calo kaya di indonesia ,,, heee
Jack, cerita jalan2nya sangat menarik,buat orang pengen jalan2 juga..:-)
Mas, kalo pake celana jeans, biasa gak? Pas awal nopember udah dingin, ya? Punya peta nagoya stasion?
Mas, bukannya jika di Stasiun ada locker yang bisa disewakan pakai koin…..lumayankan killing timenya bisa sedikit bebas dari tas bawaan …
Salam kenal
Salam Kenal Pak,
Kalo kesana akhir bulan Juni…. bunga sakuranya dah mekar belum ya… hihhihi.