Sendai (Miyagi Region)
Hampir semibilan jam setelah gempa di Sendai (lihat posting sebelumnya), saya harus bersiap-siap menuju Osaka. Kebetulan saya tidak mengalokasikan waktu khusus untuk jalan-jalan di Sendai karena saya merencanakan stopover di Osaka selama dua hari. Ternyata di Sendai ada obyek menarik yang penting seperti pabrik kamera DSLR NIKON dan Danau Kawah (Creater Lake) Zao range … wah sayang ya saya baru tahu ke dua lokasi ini saat setelah saya sampai di Indonesia.

Perjalanan menuju Sendai Airport harus dilalui dengan subway (kereta bawah tanah) dari Kotodai Koen Station menuju Sendai Station selama empat menit (lihat gambar rute ke Sendai Airport samping, klik kanan untuk melihat lebih detail source: access.pdf ) dan diteruskan dengan jalan kaki dua menit keluar Sendai Subway station menuju Sendai Sta untuk berganti Airport Train. Perjalanan ke Sendai airport dengan tiket seharga JPY 630 ini menempuh waktu tiga puluh menit.
Begitu sampai di Sendai airport saya langsung menuju Japan Airlines (JAL counter), setelah check in saya langsung menuju toko souvenir di sana. Yang cukup unik dari toko souvenir di beberapa bandara di Jepang yang pernah saya kunjungi (Centrair Nagoya airport, Kansai Osaka airport & Sendai airport yakni selalu tersedia souvenir/merchandise dari klub baseball liga profesional dari masing-masing kota tersebut (The Dragon Nagoya, Tiger Osaka dan Eagle Sendai) baik dalam bentuk kaos tim, topi, miniatur pemain andalan, miniatur bola baseball dan lain-lainnya (Liga baseball ini memang salah satu dari olahraga yang digemari masyarakat Jepang selain olahraga Sumo). Sendai airport sendiri termasuk kategori airport yang lebih kecil kelasnya jika dibandingkan Kansai airport ataupun Centrair airport, namun demikian juga melayani jalur international menuju China dan Korea.
Sepuluh menit menjelang take off ternyata ground staff JAL sudah mencari saya (seorang penumpang) yang masih foto-foto mengabadikan sisi menarik bandara Sendai ini.
Sang ground staff JAL sedang mencari saya “sang penumpang terakhir” he2x
Akhirnya dengan hanya 7-9 penumpang, pesawat JAL berjenis MD81 ini mengangkasa selama satu jam dua puluh menit menuju Osaka.
Osaka (Kansai Region)
Saat sebelum mendarat di bandara Kansai Osaka (KIX) ini, bahwa pesawat harus bermanuver mengelilingi hampir setengah lingkaran sebelum mendarat. Yang teristimewa dari bandara ini adalah dibangun di tengah laut yang dihubungkan jembatan ke daratan sepanjang kurang lebih dua km. Dulunya Osaka memiliki bandara yang berada di tengah kota Osaka, namun karena dirasa cukup bising (begitu cerita salah seorang penumpang yang penduduk asli Osaka ini) maka dibangunlah bandara Kansai yang berdiri di “pulau” tanah urukan dari garis pantai ini. Saya pun sempat mengabadikan pemandangan di sisi bandara baik jembatan yang menghubungkan bandara dengan daratan kota Osaka dari jendela pesawat (foto bawah).
Jembatan (melintasi laut) yang menghubungkan daratan Osaka-bandara Kansai
Sesaat setelah mendarat saya segera menuju bagian baggage claim, oh ya saya sempat foto proses bagaimana rampway (garbaraata/belali gajah) yang didekatkan sampai ditempel ke badan pesawat (lihat foto di bawah ini, right click please to zoom in!).
Setelah pintu pesawat dibuka sehingga penumpang leluasa berjalan menuju airport disembarkcation melalui rampway ini. Sesegera setelah keluar badan pesawat (berada di rampway) saya biasanya suka menyentuh/menepuk-nepuk badan pesawat … seolah berkomunikasi dengan si burung besi ini sambil berkata ”Terima kasih ya“ dan tentu saya juga sudah mengucap syukur kepada Tuhan juga bisa tiba dengan selamat. Sesaat keluar melalui pintu depan pesawat (berada di ramp) segara saya membalikkan badan dan sejenak “klik …klik” dua shot saya ambil. Setelah saya check di rumah foto ini (lihat foro di bawah ini) saya kaget dan bangga juga karena saya melihat dengan jelas brand dari pembuat rampway ini di foto tersebut dibawah ini (right click please to zoom in!) yakni: BUKAKA (perusahaan milik anak negeri yang produknya digunakan bandara terkemuka di luar negeri). Saya sempatkan untuk search link berita ttg prestasi Bukaka ini di internet dan dapat Anda lihat di Angkasa-Online edisi Febuari 1999 (berita paling bawah).
Sayapun cukup kaget juga begitu tahu hanya dua penumpang yang mengambil bagasi (termasuk saya) dari total tujuh penumpang pesawat ini. Suhu di kota Osaka ini cukup panas ( kira-kira empat puluh-an derajat Celcius ) berbanding terbalik dengan suhu/cuaca di Sendai yang cukup dingin dan terbilang sering mendung dan hujan, sehingga tak jarang pada event tertentu seperti Festival Tenjinmatsuri kemarin, banyak yang memberikan kipas gratis dengan motif gambar yang berisi pesan sponsor.
Saya langsung menuju ke Osaka airport station dan membeli tiket ke Tennoji menggunakan tiket machine seharga JPY 1030. Menariknya menggunakan kereta JR ini hanya terdiri dari gerbong, berangkat dari airport dan akan berhenti di station Hineno beberapa sesaat untuk kemudian disambungkan dengan gerbong kereta dari arah lain (Wakayama ) sebelum menuju ke Tennoji/Osaka Loop dengan waktu tempuh 35-45 menit.
Di dalam kereta dari Kansai Airport sedang menyebrangi laut menuju kota Osaka
Sesampai di Tennoji Sta, saya melanjutkan menuju Super Hotel Tennoji Osaka (sama dengan hotel saya waktu extend beberapa hari selelah dinas di Nagoya Juni lalu). Hotel ini cukup nyaman bagi saya dengan harga 30% lebih murah dari rate hotel saya saat dinas empat hari sebelumnya ini, dilengkapi dengan free internet, free kolam pemandian khas Jepang dan free telepon international (saya tidak sempat mencoba) serta sistem PIN untuk kunci kamar dan yang merupakan ciri dari Super Hotel ini adalah tidak ada proses check-out (jadi ya tinggal keluar aja dan nantinya PIN akan expired pada hari check-out).
Saya pun meluncur ke Tennoji Sta untuk mencari tourist information di sana (lazim di setiap stasiun yang cukup ramai beserta dilengkapi tourist information). Aha …setelah mendapat penjelasan dari seorang wanita berumur tiga puluh-an itu tentang sightseeing spot kota Osaka ada info yang sangat menarik bahwa pada hari itu ( tanggal 24-25 Juli 2008 ) sedang dilakukan festival mulainya musim panas (summer) yaitu Tenjimatsuri Festival Osaka yang termasuk satu dari tiga festival tahunan terbesar di Jepang setelah Gion Matsuri Kyoto dan …. ).
Osaka Castle
Pagi hari (25 July 2008), saya memutuskan pergi Osaka Castle dengan menumpang kereta menuju Osakajokoen Sta. Berjalan sekitar sepuluh menit sampailan saya di komplek Osaka Castle dan segeralah saya melakukan “ritual” pengambilan gambar di sana sini, membidik puncak Osaka Castle yang telah menyembul dari kejauhan. Tentu saja yang membuat menarik dari Osaka Castle ini adalah nilai sejarahnya (sejarah perang kaum Samurai saat perang Osaka, yang kata istri saya sejarahnya dapat dibaca di Novel Taiko karangan Eiji Yoshikawa) dan juga kolam air berwarna hijau lumut yang mengelilingi benteng Osaka Castle ini. Jika saya bandingkan dengan Nagoya Castle, Osaka Castle lebih pendek dan Nagoya Castle juga dikelilingi parit-parit air besar namun sarat air (baca kering, saat saya kunjungi awal bulan Juni 2008).
Dengan harga tiket masuk Osaka Castle sekitar JPY 600 ini, kita sudah bisa menikmati bagunan enam lantai ini mulai dari bagian atas (roof top) melihat ke semua punjuru mata angin kota Osaka, kemudian turun ke bawah untuk melihat sejarah beberapa jenderal perang beserta baju kebesarannya berikut panji perangnya serta beberapa skrip/tulisan tangan surat-surat dan foto dari para kaum samurai tersebut, cerita sejarah dalam bentuk tampilan animasi tiga dimensi dengan teknologi tinggi, miniatur pasukan perang Osaka (lihat foto bawa) dan akhirnya di lantai bawah saya sempat membeli medali Osaka Castle yang cukup unik seharga JPY300.
Miniatur pasukan perang Osaka dengan panji perangnya
Waktu saya kesana, sedang ada perhelatan besar yang ditandai persiapan penyambutan tamu-tamu khusus serta stasiun televisi yang sudah dalam persiapan akhir dengan tata lampu dan sistem pentransmisian gambarnya (mungkin perhelatan/acara tersebut akan disiarkan secara langsung).
Osaka castle yang dikelilingi benteng dan parit yang berisi air hijau tua
Festival Tenjin Matsuri Osaka [24-25 Juli 2008]
Lalu saya segera meninggalkan komplek Osaka Castle bergegas menuju Morinomiya Sta dan naik kereta untuk menuju Minami Morimachi Sta (transit & makan Unagi Don Buri di Tanimachi 4-chome Sta).
Menyantap makanan khas musim panas (summer) Unagi Don Buri
Sesampai di Minami Morimachi Sta, saya segera berjalan cepat menuju Osaka temmangu Shrine yang merupakan kuil agama Shinto yang merupakan tempat mulai festival Tenjin matsuri. Tepat jam 16.00 sesuai waktu direncanakan parade dibuka dengan tarian muda-mudi dengan alat musik semacam Wood Castanget (Baca : kastanyet) ini yang menemani anak perempuan kecil yang menari payung (lihat foto dan cuplikan video dibawah ini).
Para pemudi sedang menarikan tari Hanagasa di kuil Shinto sebelum berparade
Atraksi lainnya adalah sekumpulan pria memanggul miniatur bangunan sambil mengitari halaman kuil tersebut dalam gerak dan suara yang rampak dan harmoni serta memberi nuansa semangat kebersamaan ini. Prosesi selanjutnya dilanjutkan dengan parade pakain tradisional serta tari kipas dari grup ibu-ibu dengan balutan kimono yang anggun.
Satu demi satu peserta meninggalkan kuil tersebut untuk melakukan parade (Riku-Togyo/Land Procession) sepanjang jalan Oimatsu-Dori menuju jembatan Tenjimbashi untuk melanjutkan prosesi menggunakan perahu (Funa-Togyo/Boat Procession) mengelilingi sungai Okawa yang membelah kota Osaka dan pada malam harinya dilanjutkan dengan atraksi kembang api. Sisi lain yang menarik dari festival ini, adalah melihat banyaknya penduduk kota Osaka yang menggunakan pakaian tradiosional mereka kimono baik laki dan perempuan.
Tenjin Matsuri Fest 2008, Source:Photoguide.jp http://jp.youtube.com/watch?v=Kk647KVlVic
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 malam saatnya saya pulang ke hotel untuk mempersiapakan segala sesuatunya (packing) untuk penerbangan saya ke Jakarta via Singapore besok pagi.
Akhirnya tanggal 26 Juli 2008 pagi saya meninggalkan Super Hotel Tennoji Osaka begitu saja he2x, karena memang tidak ada prosedur check-out karena pembayaran sudah dilakukan sebelumnya dan tidak perlu mengembalikan room card karena kamar diproteksi dengan sistim PIN.
Ada tip yang perlu diperhatikan saat naik kereta ke Kansai airport, ada delapan gerbong yang terdiri gerbong 1-4 khusus ke Kansai airport dan empat gerbong sisanya ( gerbong 5 – 8 ) menuju Wakayama yang digabung jadi satu rangkaian dan baru saat tiba di Hineno Sta, rangkaian gerbong 1-4 dipisahkan dengan rangkai gerbong 5- 8 untuk menuju tujuan masing-masing. Jadi harap teliti sebelum memasuki gerbong sebab gerbong 4 dan gerbong 5 tidak ada connecting door-nya.

Sampai lah saya di Kansai international airport (KIX), lalu check-in di lantai 4 dan juga turun ke lantai 3 untuk melihat beberapa cinderamata Jepang, kimono, pakaian festival ala Jepang yang sudah saya idam-idamkan setelah melihat Festival Tenjin Matsuri di Osaka kemarin. Kansai Airport memberlakukan larangan merokok di tempat umum kecuali di restoran. Namun khusus di resto dengan catatan larangan merokok hanya berlaku pada jam 11.00-14.00. Tepat pukul 11.00 (GMT+9) saya meninggalkan Osaka menuju Singapura.
Sampai di Singapura saya punya waktu tiga jam untuk jalan-jalan sebelum meneruskan flight ke Jakarta so toko buku-lah (Times NewsLink bookstore) yang menjadi incaran saya dan seperti biasanya kalau ke toko buku ( baca gramedia ) begitu keluar ada aja yang ditenteng ha2x yaitu buku Etiquette Guide To China & buku kecil World Atlas (The world in your pocket) langsung saja buku-buku itu dengan manis dimasukkan ke tas sambil saya mengeluarkan laptop untuk menjalani security checking saat masuk gate F41 (SQ 966). Setelah itu kencangkan seat belt dan ready to take off.
Thanks God, akhirnya saya sampai dengan selamat di Jakarta sehingga saya bisa menulis posting dengan harapan lewat tulisan ini bisa sedikit memberi potret perjalanan dan kondisi kota Osaka dan Sendai Jepang.









kayaknya perjalanan yg melelahkan, yah pak. Jepang dan budayanya…pasti menarik
Betul, terutama saat berangkat dari Indonesia.
- berangkat dari Bandung ke airport Soekarno Hatta jam
12.30 minggu siang (GMT+7)
- take off pesawat ke Singapura jam 20.30
- ganti pesawat di Singapura dan menunggu 2-3 jam
sebelum terbang ke Osaka jam 00.10 Senin dini hari ( GMT+8 )
- tidak tahu kenapa saya tidak bisa tidur selama perjalanan
- sampai di Kansai Int. Airport Osaka jam 08.00 waktu
setempat (GMT+9) langsung proses imigrasi, custom dan
ambil bagasi
- ganti pesawat ke Sendai, menunggu tiga jam sebelum
terbang
- jam 13.30 terbang dari Osaka ke Sendai (perjalan 1 1/2 jam)
- mendarat di Sendai jam 15.00
- jalan kaki 70an meter ke Sendai airport station kereta (lihat
denah/petunjuk kereta di gambar ke dua dari posting saya)
- perjalanan dengan kereta api sekitar kurang lebih 35-45
menit untuk sampai ke Sendai station dan langsung
berjalan dua menit menuju Sendai Subway Station (kereta
bawah tanah)
- dari Sendai Subway Station menuju Kotodai Koen Station
sekitar 4 menit dan sampai lah di tempat yang saya tuju
- jadi berangkat dari Bandung jam 12.30 hari Minggu siang
(GMT+7) & sampai di Sendai hari Senin sore jam 16.00
(GMT+9)
anyway …. memang di sana bisa belajar banyak ttg budaya, etos kerja, kreativitasnya, keteraturannya, keamanannya dsb