Apa yang menjadi challenge bagi seorang penulis? Pasti banyak macam challenge-nya … bagi saya salah satunya: saat rancangan tulisan sudah jadi 70%-80% & ter-delete (terhapus!) secara tak sengaja, so do it again from scratch base on the flow that might be still remain in your mind. Dan ini terjadi pada posting ini [!] “Nagoya, I’m back [Aug 2008]“. Ada rasa kesal “Ergh @#$^*&%$” (sisi negatif) dan harus segera ubah menjadi sisi positif dalam bentuk challenge untuk menulis ulang dengan mengandalkan alur cerita yang masih ada di kepala. Moral story yang lain : jangan lupa buat Back-Up file!!
Nagoya … I’m back! [Agustus 2008] he2x judul yang aneh ? tanpa maksud apa2x … ini hanya posting kedatangan jilid 2 ke kota yang … ini, maksud hati hanya tambal sulam hal-hal yang belum tercover pada posting catatan perjalanan saya ke Nagoya yang pertama [Mei-Juni 2008].
Oh, ya saya pernah cerita pada posting saya sebelumnya ttg Nagoya & Kyoto (1st trip Mei-Juni 2008), bahwa hotel di Jepang rata-rata check-in time mulai jam 15.00 (lebih telat dari lazimnya, 12.00) dan check-out time terakhir jam 10.00 (lebih awal dari lazimnya, 12.00) …nah lho. So kedatangan saya bulan Agustus ini seperti biasa dengan pesawat berkode SQ selalu tidak ada pilihan (berangkat dari Singapore jam 01.10 dini hari) dan mendarat di bandara (Centrair Airport) yang terpisah dengan Nagoya City, lihat foto di bawah ini (dipisahkan oleh laut, sama seperti Bandara Kansai yang juga daratannya dibangun di atas laut, lihat posting sebelumnya ttg Osaka & Sendai trip July 2008).
[!] Mohon scroll down, untuk melihat foto dan lanjutan reportase. Mohon maaf atas ketidaknyamaanan ini

Gambar ini dipotret dari Sky Deck Centrair Nagoya Airport. Nah terlihat jelas kan bandara Centrair memang terpisah dengan Nagoya City yang dihubungkan jembatan sepanjang kurang lebih 1-2 km. So dibutuhkan 35-45 menit menggunakan kereta api untuk sampai ke pusat kota Nagoya.
Kembali ke formula check-in & check-out time di Jepang ini dan saya jam 09.00 sudah selesai proses imigrasi & custom (melangkah keluar gate), so yang saya lakukan adalah spent 5 jam di bandara ini (dari pada jalan menyusuri Nagoya).

Another activity at Sky Deck Central Japan Airport [Chubu Airport Nagoya, 3 Aug 2008] … I was also part of them … patient to wait an aircraft until in take off position and kept very enjoy to snap it from many angles eventhough it’s very hot there (around 35-37 degree Celcius). Pls follow the aircraft movement from left above to right.
Uh , cukup di Sky Deck ini bagai terpanggang panas (di musim Summer ini temperatur mencapai 37-40 derajat celcius). Sky deck ini merupakan area yang terbuka yang berbetuk huruf T terbalik ini dengan bagian tengahnya merupakan meeting point yang paling strategis untuk melihat dengan jelas saat pesawat tinggal landas. Tepat 37 menit melangkah dari jam 11, saya bergegas untuk meninggalkan tempat yang terus menerus kedatangan pengunjung lainnya dengan payung dan handuk kecil penyapu peluh ini. Segera saya menuju bagaian lain airport untuk ber –AC ria he2x sambil beritirahat sebelum melakukan mapping resto untuk makan siang dan toko souvenir serta tempat performance kesenian bila ada acara tertentu dan TA-DA! Ada pertunjukan kelompok kesenian tradional Jepang lengkap dengan pakaian tradional mereka Yukata, Happi (wear festival/cadigan).

Sambil nonton dan foto art performance ini, sayapun cari makan dan eh dapat yang “murah meriah” dalam format bento(bento: lunch box, lihat foto di bawah) dengan harga JPY 880 ( 1 JPY = IDR 85, jadi harganya sekitar Rp. 74.800,00) trus lanjut mapping toko-toko souvenir dan ketemu toko kimono/yukata pesanan istri.

Kalau mau yang porsinya lebih kecil dari bento ada juga yang minimalis dengan satu aneka rasa tinggal pilih mau isi ikan Salmon ( ), ikan teri model ikan teri medan tapi berwarna putih ( ) dengan harga berkisar JPY 100-140.

Konsepnya minimalis seperti sega kucing ala Yogya/Solo itu.
Sego kucing ala Yogya/Solo … nasi sekepel (seukuran genggaman tangan dewaasa dengan isi aneka rasa bandeng se ibu jari atau rasa lainya. Kalau dulu (tahun 90an harga per bungkusnya Rp.500,00) so kl mau kenyang ya beri 3 bungkus.
Jam 14.00 ah waktunya tepat untuk menuju hotel dengan Express Rapid Transfer (Meitetsu Line). Kali ini mau coba cari tantangan baru beli via ticket machine yang full huruf kanji (yang bisa saya baca hanya angkanya saja dalam format biasanya), kalau dulu (kunjungan pertama bulan mei 2008, saya belinya via locket dengan bahasa Jepang seadanya dicampur bahasa Inggris). Jadi tinggal tekan angka 850 (harga untuk kereta biasa meski seingat saya, harga kereta cepat JPY 1200 masalahnya tidak ada angka 1200), sehabis beli saya langsung menuju platform kereta dan langsung masuk gerbong sembarang (lha saya tidak bisa baca harus pake kereta dan gerbong mana), so langsung masuk saja terus kalau kurang tinggal bayar surcharge JPY 350, easy isn’t ? Ya jelas , wong saya baca informasinya sebelumnya untung dalam bahasa Inggris.
Akhirnya sampai lah di Meitetsu Station Nagoya City bersama dengan dua sahabat saya? Dua sahabat? Nih lihat fotonya.

Sampai di hotel seperti biasa saya langsung ritual jalan-jalan he2x ya itung-itung sinkronisasi dengan lingkungan tempat yang didatangi. Lengkap dengan kamera SLR saya bak pasukan masuk kota langsung beroperasi jepret sana jeprat sini dan menjelang senja kok badan saya lemas ya (apa karena capai perjalanan 16 jam dari Bandung?) rasanya out of mood gitu. So berjalan terus sambil lirak sana lirik sini nyari tempat untuk minum teh e ketemu di lantai 6F (Meitetsu Plaza) memang manjur teh (Hot Tea Cinamon Orange, JPY680) & Bake Chesse Souffle + bonus ice cream n daun mint (tiramisu, JPY580) seperti terekam jepretan dibawah ini.

Nama cafenya : Mother Moon Cafe , d/a Meitetsu- Young 6F 1-2-1 Meiki Nakamura-ku Nagoya
Oh ya kalau mau tahu lokasi gedung Meitetsu ini (link: http://www.flickr.com/photos/jmzach/2524384998/ )
Sambil jalan menyusuri malam, Nagoya City dihiasi pernak pernik neonsign yang menarik serta berbagai performer kesenian (Street Musician) yang menjajakan CD Indie Album mereka.

Mulai dari ki-ka, performer dari Amerika Latin dengan gitar listrik, ukulele serta alat tiup tradisional mereka sanggup menghipnotis para pengunjung untuk berhenti disekitar JR Takashimaya Building (perhatikan tugu dibelakang) dan juga beberapa menghentak-hentakkan kaki mengikuti irama dan tanpa disadari bergoyang. Mulai dari lambada terus ada lagu yang membuat saya terkejut lagu Kopi Dangdut-nya Fahmi Shahab yang sempat meledak di tahun 90an termasuk di Jepang, dinyanyikan dalam bahasa Amerika Latin. Foto ke dua dan terakhir dua- tiga anak Jepang dengan musik balada serta slow rock progresif mereka yang dilantunkan cukup menghentak . Dengan peralatan gitar akustik, gitar listrik, dan 1 “Kotak Ajaib” (Magic Box) begitu saya menyebutnya karena dari kotak ini akan menghasilkan efek suara drum yang lengkap (perhatikan saja jari tangan pemainnya terdiri dari beberapa prnik yang menyerupai cincin yang mengeluarkan efek suara berbeda saat ditabuhkan ke kotak “ajaib tersebut”). “Kotak ajaib” ini sangat lazim digunakan untuk performer di Jepang setidaknya saya sudah melihatnya di 3 tempat ( Nagoya & Osaka).

Ehm lanjut ya dengan pemandangan malam ya (soalnya lagi musim summer so panasnya gak ketulungan 37 derajat celcius). Setiap malam selalu saya lewatkan dengan jalan kaki sambil menenteng si Niko (eh Nikon) ya acaranya kl tidak cari makan malam atau lihat pemandangan malam dan merekamnya dalam bentuk foto (maklum tukang foto amatir).So saya share foto beberapa suasana tempat makan di jalan-jalan kecil Nagoya dan object lain sebagai berikut:



Setiap sore sehabis pulang kerja, saya selalu menyusuri jalan-jalan baru di bilangan Nagoya City ya … semacam mapping gang/jalan baru (kadang tanpa peta) he2x hanya berorientasi gedung tertinggi di bilangan Nagoya yang salah satunya Gakuen Spiral Building.

Lanjut ya sambil jalan-jalan sore, menyusuri jalan baru e ketemu something special to share … pompa bensin dengan selang pengisi bensin yang tergantung di atas (bila sedang tidak digunakan) jadi kl pas pengisian bensin tinggal ditarik saja.

Sebelum lupa, di bilangan JR Nagoya Station ada satu pusat pertokoan yang besar yaitu JR Takashimaya, saya biasa beli makanan/roti di basement-nya dan kl suka dengan berbagai alat-alat kebutuhan sehari yang merupakan inovasi dari Jepang bisa ke Tokyu Hands di Lanati 4F JR Takashimaya Building Nagoya.

OK … sampai disini dulu ya “jalan-jalan”-nya kapan-kapan disambung dengan cerita dan liputan perjalalanan lain yang menawarkan sisi menarik lainnya.
nb: kl tertarik melihat reportase liputan perjalanan dalam bentuk kumpulan foto (fotografi) silakan kunjungi gubug saya di http://www.flickr.com/photos/jmzach
Oh,+ lagi ya terakhir, please …ceritanya ada kejadian yang menarik yakni sesaat saya menuju hotel tanggal 7 Aug 2008 malam saya menjumpai bis kota Nagoya dengan iklan besar di badan bis „ Garuda Indonesia“ langsung buru2x merogoh ponsel kamera saya untuk mengabadikan kejadian yang langka dan cukup membanggakan saya (bagaimanapun Garuda Indonesia merupakan flag carrier juga kan).Berikut foto bis kota Nagoya dengan iklan Garuda Indonesia.


Mumpung masih dalam suasana peringatan hari Kemerdekaan RI ke 63 dan saya ada satu lagu yang selalu mengingatkan saya, kemana kaki melangkah … sampai ke negeri orang … saya selalu rindu Indonesia-ku.
“DIRGAHAYU RI ke 63“
nb: saya senang dengan lagu “Tanah Air”, terasa dalem gitu
“Tanah Air” Cipt: Ibu Soed
Tanah airku, tidak kulupakan
‘kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai,….engkau kuhargai
Walaupun banyak negri kujalani,
Yang mashyur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku,
Disanalah ku rasa senang
Tanah ku tak kulupakan
Engkau kubangkakan
Videoclip taken from http://www.youtube.com/watch?v=iWKhYvfJOk4
Trima kasih pak atas informasi liputan perjalanan.
sudah lihat semua nya…menarik sekali, tambah pengetahuan buat saya, siapa tahu suatu hari saya pun bisa pergi ke sana.
salaaaaam,
marty
Ah, saya suka banget sama Gakuen Spiral Tower-nya…
Matur nuwun laporan perjalanannya yang komplit plit, seakan saya sendiri yang melakukannya. Tulisannya renyah dan informatif, apalagi di tutup dengan lagu nan syahdu itu.
Benar indah di negeri orang, kampung sendiri walau masih amburadul seperti sekarang tetap ngangeni ya pak ? Salam dan maaf baru bisa mampir nih.
wah… seru nich perjalanannya.. fotonya-fotonya juga mantaf..
thx for sharing
waaahhh itu bus pakai reklame garuda…
kok ngga ada di Tokyo sih hehhee
EM