Hari pertama menginjakkan kaki di salah satu stasiun kereta bawah tanah Hong Kong, perhatian saya tertuju pada seorang yang sibuk berkomunikasi dengan ponsel. Intonasi keras dan sangat jelas sampai ke ujung lantai dasar dekat jalur kereta bawah tanah dan tentu saja hampir semua orang di sana terpaksa mendengar percakapannya.
Mungkin penduduk lokal tidak mengerti apa yang sedang dibicarakannya, namun bahasa ibu yang digunakannya jelas akrab di telinga saya. Saya pun langsung tahu dari mana ia berasal, mana lagi kalau bukan dari Indonesia!
Pengalaman yang cukup kontras dengan kejadian di Hong Kong tersebut adalah saat berada dalam kereta bawah tanah Tokyo. Pada banyak tempat di Jepang, berbicara dengan volume suara yang keras di area publik dipandang sebagai sesuatu yang tabu.
Tidak ada keriuhan orang berkomunikasi dengan ponsel saat berada di area tranportasi publik, tidak terdengar nada dering (semua ponsel diatur silent mode saat berada di area publik) dan jarang sekali saya melihat orang berkomunikasi via ponsel di dalam kereta.
Rasa ingin tahu saya terhadap etika berkomunikasi dengan ponsel di area publik mengantarkan saya pada suatu nilai yang telah menjadi semacam acuan bahkan telah bertransformasi menjadi suatu kebudayaan yang dikenal dengan istilah Keitai Culture (mobile phone culture). Kata keitai ini awalnya merupakan kanotasi dari sesuatu yang pas dibawa dengan tangan. Disesuaikan konteksnya saat ini, yang dimaksud keitai ini adalah telepon seluler (ponsel).
Banyak aspek yang terkandung dari keitai culture yang mempengaruhi pola hidup masyarakat Jepang termasuk didalamnya perkembangan teknologi ponsel mengubah cara memanfaatkan waktu saat berada di area publik termasuk juga saat dalam moda tranportasi publik.
Penggunaan ponsel di dalam tranportasi publik tidak dianjurkan, kecuali jika dalam kondisi darurat. Tidak jarang terpampang anjuran di area tranportasi publik untuk tidak melakukan panggilan telepon termasuk anjuran untuk mengatur ponsel dalam kondisi silent mode yang dikenal juga dengan istilah public mode / manners mode.
Selain ponsel yang seharusnya diatur pada manner mode, pada area tempat duduk tertentu dalam kereta terpampang petunjuk untuk mematikan ponsel saat berada di dekat tempat duduk khusus bagi ibu hamil atau orang dengan kondisi khusus (handicapped person).
Pada umumnya mereka dengan inisiatif sendiri mengatur ponselnya pada manner mode agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain dan menghindari perasaan malu apabila ponsel berdering saat ada panggilan masuk. Pada area publik tertentu menjawab panggilan ponsel dapat dianggap sebagai suatu pelanggaran etika, di sisi lain mendengarkan musik dengan menggunakan headset, menulis email dan bermain game ponsel adalah aktivitas rutin yang dilakukan mereka saat berada di transportasi publik.
Pola pemanfaatan waktu dengan berbagai fitur ponsel adalah potret keseharian mereka di area publik dan moda transportasi publik. Kebutuhan baru terhadap fitur lainnya senantiasa menjadi acuan dalam pengembangan fitur produk ponsel termasuk juga didalamnya perkembangan dari keitai culture itu sendiri dari waktu ke waktu serta menjadikan pengguna ponsel sebagai garda terdepan dalam pemanfaatan teknologi ponsel terkini. Dari sisi itulah, fitur-fitur teknologi ponsel dan layanan selular baru muncul menjawab kebutuhan pengguna ponsel sebagai entitas keitai culture.
Layanan fitur teknologi ponsel & layanan selular tersebut antara lain: mobile phone novel, QR codes, dompet ponsel (mobile phone wallet), karakter animasi (animated character) termasuk juga ponsel yang dilengkapi fitur layanan TV dan GPS (tracking function) pada umumnya.
Mobile Phone Novel (Keitai Shosetsu)
Perkembangan teknologi ponsel memacu lahirnya fenomena baru seperti kebiasaan orang membaca novel melalui medium baru dalam hal ini melalui layar ponsel. Jepang merupakan negara asal kelahiran novel ponsel yang dikenal dengan istilah keitai shosetsu (mobile phone novel) ini.
Formatnya berbeda dengan novel edisi cetak dimana novel ponsel yang juga dikenal dengan istilah cellphone novel ini terdiri kalimat pendek, sederhana dan lugas serta disisipi juga baris kosong yang memungkinkan untuk dibaca dengan nyaman. Pembaca novel ponsel ini terus bertumbuh termasuk sebagaian besar diantaranya berasal dari kaum muda. Selain topiknya menarik, penulisan novel melalui ponsel ini merupakan salah satu bentuk wahana untuk bebas berekspresi dari kaum muda Jepang dan tidak jarang nama pengarangnya pun ditulis bukan nama asli melainkan alias nama pendek (samaran) untuk ditulis sebagai nama pengarang di novel tersebut.
Tidak jarang novel ponsel yang populer melalui medium baru ini, juga diterbitkan dalam edisi cetak bahkan difilmkan seperti novel ponsel yang berjudul Love Sky dan Deep Love.
Tren novel ponsel pun menyebar ke luar Jepang termasuk salah satunya di Tiongkok. Banyak novel ponsel Jepang yang diterjemahkan dalam bahasa mandarin untuk pasar negeri tirai bambu tersebut dan juga diikuti fenomena berkembangnya novel ponsel dalam bahasa Inggris. Salah satu situs novel ponsel berbahasa Inggris yang terkenal adalah www.textnovel.com.
Dengan koneksi online via ponsel, pembaca dapat mengakses sebuah novel dan membacanya pada ponsel mereka dimana saja kapan saja termasuk memanfaatkan waktu saat berada di area publik atau transportasi publik. Kehadiran novel ponsel ini bukan saja mempengaruhi kebiasaan membaca saja namun membuka kesempatan untuk menulis sebuah novel ponsel langsung menggunakan ponsel.
QR Code
Tren populer lainnya di Jepang salah satu diantaranya dengan menggunakan ponsel yang dapat membaca informasi dari QR Code. QR Code ini berisi dua dimensi bar code yang ditulis dalam suatu bujursangkar (berbeda dengan bar code konvensional yang berbentuk balok dengan ketebalan yang berbeda-beda). Perangkat ponsel akan merekam gambar QR Code ini dengan menggunakan kamera ponsel, selanjutnya oleh aplikasi pemindai yang tertanam pada ponsel ini melakukan proses decode pada gambar dua dimensi barcode tersebut untuk kemudian menghasilkan informasi.
Penggunaan yang populer dari QR Code ini salah satunya untuk periklanan dan kepentingan bisnis. Poster iklan dan kartu nama di Jepang memanfaatkan QR Code yang berisi informasi link dari suatu website, alamat email, alamat kantor serta nomor telepon yang dapat dikontak.
Mobile Phone Wallet
Layanan selular yang cukup populer lainnya di Jepang yang mengubah cara bertransaksi pembayaran salah satunya adalah mobile phone wallet. Mobile phone wallet menggunakan RFID chip yang tertanam dalam ponsel yang memungkinkan untuk berkomunikasi dengan alat pemindai saat ponsel didekatkan. Sony bekerjasama dengan NTT DoCoMo (salah satu operator telekomunikasi di Jepang) menyebarluaskan pemanfaatan teknologi mobile phone wallet ini yang dikenal dengan layanan FeliCa.
Banyak lokasi seperti toko-toko bahkan beberapa vending machine juga memungkinkan pelanggannya bertransaksi dengan menggunakan layanan pembayaran mobile phone wallet ini. Metodenya tidak jauh berbeda dengan kartu debit atau smart card lainnya, dimana pengguna harus mempunyai cadangan nilai uang tertentu yang tersimpan pada mobile phone wallet tersebut untuk keperluan transaksi pembayaran.
Karakter Animasi
Terkadang ada semacam peraturan tidak tertulis sebelum melakukan panggilan telepon terutama saat waktu istirahat (baik malam ataupun pagi hari) yakni dgn mengirimkan pesan SMS untuk menanyakan apakah dapat berkomunikasi via ponsel.
Hal ini untuk menghindari saat panggilan telepon yang membangunkan pihak yang dihubungi saat sedang istirahat dan ini tentu saja bukan merupakan suatu hal yang sopan. Termasuk juga saat pihak yang akan dihubungi tersebut mungkin sedang tidak pada kondisi yang memungkinkan untuk menerima panggilan dengan ponsel.
Pada kondisi inilah suatu fitur karakter animasi dapat berperan aktif.
Dengan fitur karakter animasi inilah dapat diatur kapan saat ingin membuat atau menerima panggilan telepon yang ditampilkan pada layar ponsel pihak lawan bicara. Karakter animasi tersebut menunjukkan karakter emosi baik sedih, senang, kesal yang dapat diatur dengan jalan menekan tombol ponsel tertentu. Tentu saja teknologi ponsel seperti ini menjadi jembatan dan juga menjadi representasi bahasa perasaan dalam berkomunikasi via ponsel.
Solusi
Ada contoh lainnya di salah satu universitas di Kyoto Jepang, dimana keitai culture menciptakan suatu tipe baru pembelajaran di kelas. Mahasiswa pada suatu kelas pelajaran di Universitas Bukkyo tidak pernah bersuara keras dalam bertanya atau mengemukakan pendapat.
Mereka menggunakan email untuk bertanya dan memberi komentar/pendapat mengunakan ponsel mereka ditujukan pada profesornya yang berada di kelas dan profesor menjawabnya dengan lisan saat itu juga.
Kiyoharu Hara seorang asisten professor sociologi dan penggagas dari cara berkomunikasi yang tidak biasa ini berkomentar bahwa murid kadang terlalu malu dan sistem yang mengakomodasi hal yang bersifat anonimlah yang dapat mengatasi rasa malu mereka.
Yuichi Kogure seorang pengajar kelas khusus untuk keitai culture pada Tokyo Toita Women College menambahkan bahwa ponsel telah memperluas ruang personal di Jepang .
Ponsel telah menjembatani halangan-halangan yang ada dan menjadi bagian dari hidup. Langsung atau tidak langsung teknologi ponsel mewarnai cara kita hidup dengan sisi yang tidak terlepas dari kebudayaan itu sendiri, disitulah keitai culture itu eksis dan terus berkembang.

salam kenal….
wah artikelnya agan ini menarik sekali, gw jadi pengen kaya agan agan, bikin artikelnya bagus, saya lagi belajar juga juga ini gan…
kalo sempet mampir balik ya gan
Posted by fajargoth | August 24, 2010, 3:08 pmKeren juga ya budayanya
Posted by DQuincy | February 26, 2011, 1:49 pm