//
you're reading...
All, Sharing

MERDEKA!

Saat beberapa tahun silam, untuk pertama kali saya memberikan semacam transfer kompetensi berkaitan dengan peralatan telekomunikasi dan implementasinya di negeri orang (baca di luar negeri) yakni pada suatu operator telko terbesar Australia.
Masih segar dalam ingatan, saat masuk ruang di salah satu kantor di daerah Harris Street, Sydney Australia telah hadir para peserta engineer telco yang datang dari seluru negara bagian Australia. Semuanya bila dilihat dari paras terdiri dari mayoritas orang bule, ditambah orang paras Asia Tenggara, Asia Selatan dan paras Asia Timur.

Perasaan pertama yang muncul dan normal saya rasakan, ada semacam rasa minder menghadapi mereka. Bagaimana tidak? Biasanya mereka yang datang ke Indonesia untuk memberi semacam pelatihan (transfer kompetensi), sekarang terbalik … saya berperan dalam proses transfer kompetensi kepada mereka.

Kemudian, segala sesuatunya berjalan baik dan rasa minder-pun hilang. Tak terasa saya sudah berhasil melewati proses transfer kompetensi itu selama tiga minggu di Sydney untuk 5 batches (40 peserta), kemudian di Brisbane (2 batches, 16 peserta), Perth (1 batch, 12 peserta), Adelaide (1 batch, 2 peserta) dan Melbourne (2 batches, 20 peserta), yang semuanya berasal dari bermacam-macam etnis baik yang berasal dari Australia, Fiji, India, Lebanon, Singapura, Filipina & Taiwan).

Meski sudah punya pengalaman ini dan dilanjutkan pengalaman di negara-negara lainnya, namun perasaan minder muncul kembali saat mendapat tugas di Jepang untuk transfer kompetensi berkaitan dengan peralatan telekomunikasi dan implementasinya pada para enginner salah satu operator telekomunikasi terbesar di negeri sakura yang nota bene merupakan negara yang terkenal perkembangan teknologi yang sudah maju bahkan termasuk yang paling maju di dunia saat ini.

Puji syukur, dengan usaha maksimal serta ditunjang rasa percaya diri bahwa segala sesuatunya mampu dikerjakan siapa saja asal individunya punya kompetensi & tekad untuk bekerja keras tanpa melihat dari status atau asal negara, saya dapat melewati tugas transfer kompetensi ini. Sudah 6 batches dengan total peserta 48 engineer lokal dari seluruh region/perfecture di Jepang yang pernah ikut kelas saya di berbagai kota di Jepang yang diselanggarakan di Nagoya, Sendai dan terakhir Tokyo. Berkaitan cerita dari pengalaman di atas, saya tidak bermaksud menitikberatkan pada pekerjaan saya.

Saya ingin menekankan petikan pengalaman di atas pada sisi keminderan (rasa minder) dalam pergaulan internasional sebagai suatu realita yang
- terkesan tanpa disadari keberadaannya, atau
- sebagai realita disadari secara wajar diterima/dikompromikan , atau
- realita yang ada dan perlu dilakukan usaha untuk mengatasi keminderan itu (merdeka dari rasa minder).

Poin dari cerita pengalaman diatas, adalah salah satu sisi dari kemerdekaan itu sendiri … yaitu bebas dari rasa minder dalam konteks pergaulan internasional.
Tanpa disadari kita-pun (warga negara Indonesia) sebagai individu-individu yang menjadi sendi dari manusia Indonesia itu sendiri.
Apa yang kita lakukan langsung atau tidak langsung memberi kontribusi bagi citra manusia Indonesia saat berinteraksi dengan orang dari negara lain baik saat berada di Indonesia atau di luar negeri.

Ada pengalaman lain yang masih relevan. Saat beberapa kali pernah business trip di Jakarta dan menginap di salah satu hotel. Saya mengalami sendiri, ada saja oknum pegawai hotel yang melakukan diskriminasi tamu dalam bentuk dikotomi tamu lokal (baca: orang Indonesia) dan tamu warga negara asing (baca tamu bule), tamu bule mendapatkan perhatian yang lebih, baik dari sikap, bahasa tubuh, salam dan pelayanan lainnya dibandingkan pelayanan pada orang lokal.
Hal ini sangat mengganggu saya dan parahnya diskriminasi ini dilakukan oleh pegawai hotel yang notabene orang-orang kita (orang Indonesia)!

Lalu kenapa hal ini bisa terjadi?
Apa karena tamu orang asing bayar hotel lebih mahal? Tidak!
Apa karena minder dengan tamu bule?

Beberapa saat kemudian, gayung-pun bersambut saya mendapat undangan hotel tersebut untuk mengisi angket online langsung dari kantor pusat hotel tersebut (Amerika Serikat). Saya secara khusus menuliskan perhatian ekstra berkaitan pengalaman tersebut dan menekankan perlunya adanya tindakan untuk mengatasinya. Pihak manajemen hotel tentu lebih tahu secara teknis tindak lanjut untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Kembali pada sebuah pertanyaan yang masih relevan sampai sekarang!
Apakah rasa minder menjajah langkah dan sikap kita?
Seberapa besar pengaruhnya?
Kita harus menentukan sikap, kita harus MERDEKA dari rasa minder!

Dirgahayu Indonesia ke 66 … MERDEKA!
Terus Maju … Pantang Mundur!


*tautan video clip lagu Pantang Mundur: www.youtube.com/watch?v=GDlxIiJzBCA
==============================

Advertisement

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.