[ handuk ] Australia Open

Di sela final tenis tunggal putra Australia Open malam ini (Rafael Nadal melawan Novak Djokovic), saya teringat partai semifinal tunggal putra Australia Open beberapa tahun yang lalu. Saat menonton partai tersebut termasuk melihat Rafael Nadal sedang menyeka keringat dengan handuk resmi Australia Open, istri saya pun bergumam seandainya diberi handuk resmi tersebut meski bekas pun tidak apa-apa, wow betapa senang hatinya. Ah … hanya ungkapan hati spontan yang tidak terlalu terpikirkan serius alias untuk bahan candaan kami saat itu.

Setahun berikutnya, saya mendapat kesempatan bertugas di beberapa kota Australia dan istri saya menyusul langsung ke salah satu kota persinggahan saya terakhir yakni Melbourne. Tentu saja, kunjungan ke Rod Laver Arena tempat Australia Open diadakan (di kawasan kompleks olympic park) tentu menjadi daftar [wajib] kunjungan kami.

Setelah melihat beberapa court (lapangan tenis) yang biasa digunakan untuk pertandingan Australia Open serta halaman belakang yang dihiasi patung setengah badan legenda juara Australia Open, kami pun tidak lupa mampir ke bagian merchandize. Senang mendapat pernak-pernik Australia Open, meski tidak banyak … itu sudah cukup bagi kami. Sesaat kami menyelesaikan pembayaran, kasir memberikan tas plastik lain kepada kami. Saya tanyakan ini apa.

Petugas tersebut berkata “Ini bonus untuk Anda, handuk resmi Australia Open!”
Oh surprise! langsung teringat keinginan kecil untuk memiliki handuk Australia Open setahun silam walau hanya candaan. Iya karena saat itu kami tahu bahwa keinginan tersebut harus dipenuhi dengan usaha yang tak pernah kami pikirkan serius untuk mendapatkannya.

Waktu melangkah masuk dan berada di bagian merchandize pun keinginan tersebut tidak sempat terlintas dalam benak kami dan bila mengingat harganya pun tidak murah.
Bahkan untuk sampai di negara Australia termasuk mampir ke Rod Laver Arena Melbourne ini juga tidak pernah terpikirkan sekalipun.
Ini adalah kejutan bagi kami. Thank God!

*Hidup penuh warna. Warnai hidup dengan senyum dan hati yang tulus.

Advertisements

Sang Juara

Baru saja mendarat di Singapura setelah menjalani penerbangan 1 jam 20 menit yang lain dari biasanya… cuaca kurang bagus (ada petir dengan cahayanya kontras membelah kegelapan malam) diperparah turbulensi di sana sini.
Dua puluh menit lewat sudah setelah lepas landas baru terdengar tanda suara “ting” dari pilot untuk para kru bahwa pesawat sudah dalam keadaan tenang setelah lepas landas kemudian lampu dinyalakan, isyarat bagi pramugara dan pramugari untuk bersiap melayani penumpang dan penumpang dapat melepas sabuk pengaman untuk sejenak ke toilet. Thank God akhirnya bisa mendarat dengan selamat di Singapura.

Sebentar lagi saya harus masuk ke perut pesawat “si Combo”, begitu saya menyebut Airbus A380, satu pesawat komersial terbesar dan tercanggih saat ini.

Untuk penerbangan malam (overnight flight waktu hampir 7 jam ini, seperti penerbangan2x sebelumnya khususnya untuk tujuan sama yaitu Tokyo, entah karena kebetulan atau tidak, 2 jam setelah lepas landas (jam lepas landas pesawat dari Changi AP: 00:00) mengalami turbulensi sekitar 20-30 menit tepat di atas Laut Cina Selatan.

Beberapa kali sebelumnya saya pernah mengalami hal ini, dalam waktu dan posisi yang sama, sehingga tidak begitu kaget (siap mental) menghadapi kejadian tersebut. Pada pesawat sebesar itu, masih juga terasa turbulensinya pada waktu yang sama selama 20-30 menit.
Sekedar gambaran seperti apa turbulensinya, bayangkan seperti naik perahu dan terasa hantaman ombak atau naik mobil yang menyusuri jalan nya tidak mulus seperti lewat jalan bebatuan separuh tanah, cuma untuk turbulensi ini medianya udara.

Saya pribadi percaya pesawat ini telah didesain dengan memperhatikan faktor keamanan (safety) dalam menghadapi cuaca yang kadang2x berubah drastis, begitu juga pilot yang mengemudikan pun sudah kenyang jam terbang juga telah mengambil jalur yang se-aman mungkin dengan tingkat resiko yang seminimal mungkin disertai laporan perkiraan cuaca ditambah kondisi cuaca terakhir dari sensor pesawat sertainformasi terkini Air Traffic Controller. Pada akhirnya yang lebih besar dari semua itu, ada Tuhan yang beserta kita.

Terkadang pada kejadian diatas bisa saja ada penumpang yang protes dengan ketidaknyamanan yang dirasakan (misalnya akibat turbelensi tersebut) tanpa mau tahu penyebabnya seperti faktor turbulensi yang kadang datang mendadak dan sudah diantisipasi secara maksimal oleh pilot pesawat.

Moral story dari peristiwa di atas bahwa “turbulensi-turbulensi” itu kadang tidak lepas dari hidup kita.
Siapa sih yang tidak lepas dari turbulensi/goncangan hidup ( baca masalah hidup)?
Terkadang masalah juga bisa terjad tiba-tiba (mendadak) tanpa kita perhitungkan sama sekali sebelumnya, yang kadang terakumulasi serta muncul pertanyaan dalam diri “Kenapa masalah terjadi pada saya, Tuhan?”

Berangkat dari frame peristiwa turbulensi di atas, masalah pun sama dengan peristiwa turbulensi di atas, yang alamiah itu sudah ada dan manusia tidak bisa lepas dari itu.

Oleh karena itu ambil sikap, jadilah the winner (sang juara):
– yang mengubah masalah itu jadi tantangan untuk dihadapi,
– yang berdoa pada Tuhan untuk diberi pundak yang kuat dalam memikul beban (masalah) tersebut,
– yang bisa tetap konsisten menjadi saluran damai sejahtera walaupun ada turbulensi atau masalah hidup, singkatnya tetap konsisten menjadi saluran damai sejahtera dalam kondisi apapun.

OK! Ayo jadilah Sang Juara (bukan sang pecundang)! Tetap berjuang dan berpengharapan kepadaNya.

Permisi mau boarding dulu, sampai jumpa di Tokyo 🙂
10 January 2010 (22:45 ,GMT +8), Changi Airport-Singapore

dan changi pun bangun dari tidurnya

Nadi bandara Changi berdenyut kencang lagi,
pukul lima sudah, sang surya pun belum bangkit dari peraduannya.
Toko-toko yang enggan beroperasi 24 jam mulai genit merias diri,
saat para penumpang semburat keluar dari perut pesawat
membanjiri fasilitas internet gratis tuk bertukar kabar.
Mata, otak ini, psikis pun sontak sinkron dengan denyut nadi sekitar.

Belum sampai satu jam berlalu … saat kritis itu ada,
di mana mata mulai terkatub perlahan hampir 80%…90%, 97%…
Ah Tidak! Lalu kaki kupaksakan melangkah susuri jalur-jalur di terminal 2
yang biasa ramai lalu lalang penumpang … Sangat Kontras!

Sepi … nyaris tak bernyawa, sungguh suatu perjuangan
tuk bebas dari hasrat mata ini, meski berpejam sejenak sekalipun.
Namun ini lebih baik, daripada terbuai dengan bunga tidurku
di saat pintu pesawat ditutup dan lepas landas meninggalkanku.
Ah Tidak!”

Selamat pagi! Have a nive long weekend!
It’s time to boarding. See Ya!
@Changi AP. Saturday, November 28, 2009 at 5:23am