masih kosong …

Ehm, oke … udah lewat jam sebelas malam, nggak tau kenapa tangan menuntun untuk buka blog dan klik salah satu tombol ‘New Post’. Itu tandanya [harus] menulis! So bagaimana dengan  kerangka dan alur ceritanya, terasa ke dua bahu terangkat secara otomatis … yep no clue. Yang aku tahu ada panggilan untuk bercerita dengan format ringan untuk adik-adiku pembaca. Oke biar sesuai formatnya ambil plot seumuran adik-adik yang sudah mempunyai hak pilih (pemilih mula) aja ya.

[ready, … sst masih blank and action]

Dear diary, hari ini, hari terakhir sebelum pemilihan presiden besok. Ehm, seperti hari pemilihan ketua kelas, ketua eskul, ketua komunitas, so what’s problem gitu? Sisi cuekku mulai beraksi, lagian yang cuek [gak mikir2x berat] kan banyak … take it easy lah. Kehela napasku sambil menutup diary. Nggak jadi nulis  malahan jadi bingung komplikasi galau.

Aku jadi teringat almarhum ayah, yang selalu jadi tempatku bertanya dan penuh perhatian jelaskan sesuatu dengan bahasa yang bisa aku pahami. Bulir demi bulir air mata basahi pipiku, kenangan juga rasa  kangen semua jadi satu. Ah sudah lah. Kurebahkan badanku bersiap tidur dengan memejamkan mata sejenak.

” Cantik … ” lambat laun kudengar, suara bariton yang … ya nggak asing di telingaku. Ayah! Tak kuasa untuk segera memeluknya. Tangannya terbuka mendekapku penuh hangat. Tatapan matanya yang damai  menatapku. Ada apa ? Apa yang sedang kamu pikirkan? Sesekali tangannya mengusap lembut punggungku memberi ketenangan. Yap ayah selalu bisa menebak  sesuatu yang mengganjal dalam benakku.

Aku bingung Yah, besok pilpres pertamaku … pasangan capres-cawapres ada dua tapi opsi yang ada di benak malah ada tiga! (plus golput). Teman ada yang bilang yang penting happy gak usah berat-berat mikirin gitu deh, atau ikut kata teman yang lebih tahu atau sok tahu gitu Yah. Belum lagi too much information itu bikin bingung, kadang   jadi salah paham bikin ilfil  atau malah konflik gitu.

Ayah? Oh … aku terjaga sekaligus buyarkan percakapanku tadi.  Cuma mimpi! Percakapan kita belum selesai. Dentang jam dinding sebelas kali tidak mampu membuatku beringsut tidur kembali, meski kucoba pejamkan mata seketika. Di mimpi barusan ayah tidak banyak bicara, yang aku ingat saat berkomunikasi dengannya di ruang kerja kamar depan, duduk dekat meja kesayangannya. Sambil dia mendengar keluhku, sesekali tangannya membuka laci meja dan mengambil buku catatan biru tua. Teringat kembali kebiasaan ayah membaca semua pengetahuan tidak ketinggalan sejarah, politik dan menenuliskan poin-poin penting di buku catatan termasuk menempel kliping koran dari kejadian-kejadian penting.

Masih nggak bisa tidur, bangkit dari tempat tidur menuju meja kerja ayah di kamar depan yang sampai sekarang masih rapih (tidak berubah). Pelan-pelan kutarik laci meja, ku raih buku seperti yang di mimpiku. Lembar demi lembar kubuka catatan itu … semua peristiwa tercatat rapi dengan beberapa potongan kecil koran yang mulai termakan usia. Kembali membuka kenangan kecilku, ayah yang berusaha menerangkan apa saja yang aku tanyakan saat nonton tv, baca majalah/koran atau bicara saat ayah bicara santai dengan Om Robby, Om Steve  yang kata-katanya kadang tidak aku mengerti saat itu.

Betapa kaget dan tertegunnya aku, apa yang mengganjal dalam benakku dalam menentukan sikap, apa yang menjadi kebingunganku, terjawab sudah. Ayah telah menjawab pertanyaanku! Yang selalu aku ingat dari ayah, kesatuan kata sikap dan tindakan itu harus dibuktikan [dipertanggungjawabkan] baik di kemudian hari atau kejadian yang telah lewat. Jangan pernah lupa belajar dari peristiwa-peristiwa sebelumnya. Itu yang membuat pandangan jadi luas sekaligus dalam saat menentukan sikap dan bertindak.

Dari catatannya sejalan dengan beberapa hal dengan apa yang pernah ayah ceritakan tentang betapa kebebasan individu sangat dibatasi pada jamannya (rezim Orde Baru), bahkan tidak sedikit korban nyawa manusia. Buku catatan ini seperti kombinasi informasi berikut dengan apa yang pernah ayah alami. Meski bukan korban langsung, suatu ketika di tahun 1983 ada peristiwa penembakan misterius yang dilakukan secara terencana dan terorganisasi yang menjadi keresahan nasional. Ayah waktu itu masih SD, suatu pagi saat akan berangkat di depan kompleks perumahan menyaksikan ada mayat korban penembakan yang dibuang terikat dalam karung. Kubuka lembar berikutnya saat ayah mahasiswa pada tahun-tahun sebelum kejatuhan Orde Baru, dimana teror dan pengekangan kebebasan bersikap terus berlangsung sampai akhirnya pada tahun penuh ketegangan (1998)  rakyat, mahasiswa dan semua elemen masyarakat bersatu padu dalam gerakan reformasikan untuk menjatuhkan rezim Orde Baru dan juga  mengawal perjalanan negara ini ke arah lebih baik, dimana negara beri ruang bagi rakyatnya  turut berkiprah aktif berikut perlindungan hak dan pelaksaan kewajiban yang dilindungi hukum.

Dari catatan peristiwa tersebut aku dapatkan perspektif baru tentang rekam jejak seseorang di masa silam, seberapa jauh hal itu berusaha ditutupi namun sejarah/peristiwa tidak pernah bisa dimanipulasi. Rekam jejak bisa berupa prestasi namun juga bisa berupa sejarah kelam yang ditoreh. Membaca tulisan ayah berikut catatan peristiwa penting di masa silam, menyadarkanku … kini aku bersikap yang tidak diombang-ambingkan dengan klaim kata orang atau fitnah atau kata-kata yang mengajakku untuk tidak bersikap. Iya Yah … aku tidak ingin apa masa kelam yang dialami di jaman Ayah terulang kembali.

Terima kasih ayah, membuatku bersikap …. [tidak lagi kosong atau masih kosong …] aku  akan berkontribusi untuk kelangsungan masa depan bangsa lewat memberi suara dengan hati nurani jernihku.

Aku bersemangat lagi Yah. Kuambil diary yang kemarin seolah hampir kehilangan gariah hidup gara2x aku tidak bercengkrama dengannya seperti biasanya. Dear Diary, kemarin aku bertemu ayah meski cuma sebentar tapi memberiku banyak inspirasi. Pena ini terus menari-nari ikuti alunan cerita indah mimpiku. Dan . [tanda titik] menyudahi tulisanku! Lalu hendak kututup diary ku, eh sebentar masih ada yang ingin aku tuliskan yang belum sempat aku ceritakan pada ayah. Tentang apa yang aku lihat tentang negeri ini, saat ini di jamanku (bukan seperti cerita jaman ayah dulu) tapi aku ngantuk Yah … ceritanya menyusul  ya.  Aku tempelkanaja dulu kliping gambar di dairy ku [seperti buku  biru kliping koran Ayah he2x] tentang anak muda Indonesia yang energik dan peduli bangsa untuk jadi lebih baik. Good Night Ayah.

Salam 2 Jari dari GBK

Salam 2 Jari Ikon

Salam 2 Jari Jokowi Screen

—————

[cut … kata sutradara …bungkus]

Piuh pak sutradara-nya [acting jd sutradara he2x] sudah ngantuk udah jam satu dini hari nih btw nama panggilan pada kisah di atas hanya merupakan bagian dari kisah fiksi untuk membuat hidup alur cerita saja.

Oke met tidur …  sleeping beauty …  sweet dream dan besok pagi bangun sehat dan segar untuk sambut hari baru [termasuk sambut hari pilpres] dengan semangat!

Advertisements

My lovely haikara noodle

Semangkok Haikara Noodle dari kedai “Yokohama High High Low” (alamat:Shinyokohama 2 chome, Shinyokohama Yokohama Jepang).

Sajian haikara noodle (pork,nonhalal) dengan kuah seperti kuah kari dengan rempah2x Ginseng, daun bawang,dan potongan daging (pork,nonhalal) yang ditumbuk setengah halus kecil2x disajikan panas memberi nilai tambah dari makanan ini yang bukan saja maknyus serta cukup membuat perut berisi (satu porsi sekitar Yen 650 bisa di-share untuk dua orang, saat itu 1 Yen=Rp 125,00 ) namun juga badan menjadi hangat (plus recharged) segar kembali dan sangat cocok untuk menghantar tidur anda menjadi pulas (good sleep) untuk menyongsong kesegaran esok hari.

Saya beserta istri sangat merasakan manfaat ini terutama saat 3 hari ikut “jalan sapu jagat” menyusuri jalur Shinkansen (kereta cepat/the bullet train) membelah negara sakura itu dari ujung Barat (Hachinohe, Sendai), Tengah (Tokyo,Yokohama,Nagoya, Osaka,Kyoto) dan Timur (Hiroshima,Nara dan Fukuoka) dimana harus berangkat pagi2x jam 06.00 dan pulang sekitar jam 23.00 di basecamp (Shinyokohama, Yokohama) selama 3 hari berturut-turut ini cukup terbantu dalam pemulihan kondisi (stamina) dengan sajian haikara noodle panas ini (bener2x …cespleng).

Tersaji dengan kuah (seperti kuah kari) plus gingseng yang tidak telalu encer dan juga tidak terlalu kental ini, memang kalau belum terbiasa jangan dipaksakan untuk menghabiskan kuah tersebut…di sisi lain jangan kuatir bila merasa neg dengan rasa kari, santan, rempah2x plus kaldunya, hal ini bisa diatasi dengan jahe merah yang diris-iris panjang disajikan dalam bentuk (format seperti acar) dan tentu saja ditemani oleh sahabat karib acar yaitu cuka :).

Ada yg menarik juga yaitu sajian ini dilengkapi sumpit seperti lazimnya dan dua sendok (kok sampai dua? ya!). Sendok pertama, seperti lazimnya sendok melamin untuk sendok bubur dan yang satu lagi sendok dengan bentuk sama (dari stainless steel) dengan ada beberapa lubang dengan diameter masing2x 1.5 mm yang berguna untuk “menguras” sisa2x potongan daging yang ditumbuk2x kecil sehingga dengan sendok kedua ini …dijamin tidak ada potongan daging yang tersisa meski kuah kari tersebut (yg tentu saja tidak tembus pandang) tidak habis.

Yokohama High High Low, kedai yang menjual Haikara noodle ini seperti lazimnya warung makan ala Jepang dengan meja membentuk format segi empat yang mengitari penjual, dilengkapi kursi tinggi dengan pijakan kaki (mirip kursi tinggi didekat meja bartender) dan serta dilengkapi juga beberapa meja segi empat yang terbuat dari kayu (untuk yang datang berkelompok) seperti layaknya restoran lainnya.

Ada sisi menarik berkaitan cara pembayaran di sini, kalau Anda datang sendirian (makan di sana) setelah memesan sebelum makanan diorder,mesin cash register “langsung beroperasi” tandanya Anda diminta untuk membayar pesanan Anda.

Namun bila Anda datang berkelompok, maka Anda akan langsung dilayani pesanan Anda (tanpa harus membayar terlebih dahulu),cukup masuk akal terutama dari sisi efisiensi dan sisi bisnis karena ada kecendrungan (kemungkinan) orang yang datang lebih dari satu orang tersebut akan memesan lagi menu lain saat sajian pertama mereka habis (bisa jadi dikonsumsi dengan metoda sharing makanan).

Untuk yang order itu perorangan (datang sendiri),tinggal duduk saja di meja panjang berbentuk segi empat yg mengelilingi penjual bersama para konsumen perorangan lainnya dan dijamin satu porsi tersebut lebih dari cukup bagi yang doyan makan dalam porsi besar atau bisa untuk dua orang tidak biasa dengan konsumsi pokok mie (bagi yang terbiasanya dengan nasi) so masing2x sharing 1 porsi ini (dibagi jadi 2 dalam takaran porsi normal seperti di Indonesia).

Jadi biasanya yang order perorangan ya sudah cukup dengan 1 porsi tersebut, dan jarang yang order lagi …kecuali kalau sedang mabuk mie (emang ada ya yg suka mabuk mie? he2x)

High High Low Shin Yokohama ini terletak di dekat perempatan/lampumerah jalan Shinyokohama 2-chome (dekat dengan Hac Drug), dekat berada toko obat Hac Drug.
Ancar2xnya,dari JR Shin Yokohama Sta.(keluar dari North Gate) jalan 3 menit.
Untuk mudahnya , Anda bisa ikut rute (peta petunjuk) ke arah SuperHotel Shinyokohama (klik)

Oh, ya kalau tertarik untuk lihat reportase ala (kadarnya) saya saksikan video berikut ini:

nb: tulisan ini dibuat bukan saja untuk referensi bagi para penggemar kuliner yang tertarik dengan makanan diatas, disisi lain ditujukan untuk menggali bagaimana suatu makanan disajikan,pernak-pernik kebiasaan (aturan tak tertulis) di masing2x kedai yang semua itu akan memperkaya pengetahuan dan pengalaman kuliner Anda, bahwa urusan makan atau kuliner itu tidak melulu enak (maknyos) atau tidak …masih banyak yang bisa digali dan dipelajari.

Mitama Matsuri (Soul Festival)

lantern festival 2009Kuil Yasukuni  atau Yasukuni Jinja begitu orang Jepang Jepang menyebutnya ini memang tidak asing bagi saya . Di kuil ini,beberapa tahun silam pernah menjadi berita internasional saat PM Jepang (saat itu) Junichiro Koizumi mengunjungi kuil ini dan mengadakan penghormatan pada tentara Jepang yang gugur pada Perang Dunia II  dan  negara tetangga Jepang pun sontak protes keras atas tindakan penghormatan ini sehubungan dengan sejarah yang pernah mereka  alami.
Dan gayungpun bersambut, saat kolega saya di kantor Tokyo mengirimkan email bahwa ada festival tahunan di kuil ini (13-16 Juli 2009, sampai pukul 22.00).
So begitu selesai  jam kerja (baca jam 18.00), saya langsung buru-buru kembali ke hotel untuk mengambil kamera dengan berjalan cepat sepanjang Shibaura Unga Dori Avenue dan belok kiri pas Tokyo Instute of Technology (Tamachi Campus)  berjalan 50 meter untuk naik  tangga menuju ke JR  Tamachi Station.
Ada beberapa penyedia  jasa (operator) kereta api di Jepang, salah satunya yang terbesar yaitu JR (Japan Rail). Terkadang masing-masing operator kereta api memiliki stasiunnya masing-masing. Di daerah Tamachi  sendiri ada tiga statiun yang terpisah satu dengan yang lain.
Setelah membeli tiket (130 Yen)  dan menunggu sekitar 1-2 menit kereta JR Yamanote line (loop)  untuk mengantar ke satu stasiun  berikutnya dengan waktu tempuh  3  menit untuk sampai di  Shinagawa, dimana hotel saya  berada.  Segera layaknya  pasukan gerak cepat, “senjata” pun langsung disiapkan, peta pun digelar untuk memobilisasi pasukan gerak cepat (halah! … cuma satu orang aja, ngaku-ngaku pasukan) dan juga  buku pinter bahasa Jepang [foto terlampir].DSC_0117
Secepat kilat ditentukan jalur menuju Kudanshita dengan berganti 3  jalur kereta api (Shinagawa-Meguro, Meguro-Ichigaya, Ichigaya-Kudanshita).
Efektif dan brilian kah pemilihan jalur oleh “pasukan gerak cepat” ini?
Absolutely Not !!!! (kalau perlu ditegesin tidak epektip!!).
Mengapa?
Karena diluar dugaan, saat ganti jalur  kereta  yang ke dua (Meguro-Ichigaya )dan ke tiga (Ichigaya-Kudanshita, jalur berbeda), ternyata stasiun  Ichigaya pada jalur  ke dua tidak  berada pada  stasiun yang sama untuk stasiun Ichigaya pada  jalur  ke tiga. Mengapa  bisa  begitu?
Karena o karena yang mengoperasikan ke dua  jalur (line) tersebut adalah dua operator yang berbeda dan mempunyai stasiun yang berbeda meskipun pada satu daerah (Ichigaya). Sama seperti di Tamachi yang memiliki tiga stasiun kereta api pada tempat yang berbeda.
Busyeeeeeettt dah (maaf  ya  Paksyeeeeeeetttt ….nama ibu dipake sebentar),  setelah berbahasa Jepang ala kadarnya (campur bahasa tarzan) ternyata  meski disitu tertera sama-sama di Ichigaya tapi berada di dua statiun yang berjarak kurang lebih 1.2 km. Terima kasih ya Pak petugas JR  yang memberi  petunjuk arah jalan sejauh 1.2 km (pake nyebrang jembatan) dengan sangat jelas.
Akhirnya begitu sampai di Kundanshita, langsung deh mencari  Exit nomor berapa  untuk sampai ke kuil tersebut. Dan lega lah diriku saat melihat ada petunjuk warna kuning (Exit 1) sebagai pintu keluar terdekat. DSC_0401
Kira-kira berjalan 25 meter sampailah di pintu gerbang kuil tersebut yang sudah dipadati orang-orang yang sedang asyik bercengkrama sambil mengantre dan  mencoba aneka jajanan  di stand-stand  yang dibuka selama festival beberapa hari itu.
DSC_0411Saya hanya  punya waktu sekitar 45 menit, karena tepat 22.00 waktu setempat acara festival akan ditutup, so jadi gak sempat nyoba-nyoba aneka  jajanan di stan-stan tersebut…langsung potret sana potret sini (sok fotograper gitu).
DSC_0435

Langsung saja saya, belok ke arah tersebut. Sesaat saya  melihat  ada di sisi kanan dekat   deretan lampion, ada riuh reda kedengaran suara orang-orang  berpromosi  dengan pengeras suara. O-ho semacam pasar malam ala tradional Jepang.

Seperti apa hiburan ala tradiosional Jepang tersebut, dapat  dilihat bagian depan dari foto berikut ini. Sama seperti hiburan pasar malam kita, ada petugas  dengan pengeras suara terus  menarik perhatian para pengunjung dengan menampilkan para pendukung acara atraksi di bagian depan tenda besar mereka, ada yang menarik pengunjung untuk ikut lomba menembak dengan sasaran hadiah yang  bisa dibawa pulang … ehm mirip bazar atau ya mirip pasar malam kita di Indonesia.

Atraksi-atraksi lainnya  yang tidak kalah menarik,  antara lain:
[1] Atraksi seorang gadis  memangsa tubuh ular hidup (ehm …saya  nggak tega menampilkan penampilannya  dalam  bentuk gambar atau video secara vulgar).
DSC_0446_crop
[2]Atraksi tradiosional memainkan api dengan berbagai ukuran  dengan lilin besar yang dimasukkan ke dalam mulut.
DSC_0589
[3] Atraksi sulap yang dipadu dengan  adegan-adegan  humor.
DSC_0505
[4]Atraksi “chain man”, atraksi manusia  yang memasukkan rantai kedalam salah satu lubang hidungnya ,dan diteruskan ujungnya  melalui saluran tenggorakkan  kemudian keluar melalui mulut. Kemudian rantai tersebut digunakan untuk mengangkat ember… (ehm  untuk yang ini juga,  saya berusaha untuk tidak menampilkan secara vulgar baik foto ataupun videonya).
DSC_0593
[5] Atraksi lainnya, masih mirip dengan atraksi di pasar malam kita  yaitu istana hantu, dimana masuk kedalam ruangan gelap dan siap-siap akan dikagetkan dengan penampakan-penampakan, maka tidak heran banyak yang keluar dengan berteriak sambil terkaget-kaget namun tidak sampai setres.
DSC_0609

 

Ehm, pasti sudah tidak sabar ya melihat video pertunjukkannya ya … sebentar sebentar saya pasangkan lajar tantjep-nya (ehm jadi ingat jaman dulu waktu kecil nonton film misbar (baca gerimis bubar) yang pakai layar tancep dengan proyektor  yang mobile dengan mobil beneran Land Rover punyanya BKKBN yang sambil puterin fim disambung film program pemerintah Keluarga Berencana ….wuih jadoel pisan!

Oh ya seperti biasa setelah potret sana dan potret sini, lanjut dengan narsis time (alias potret diri sendiri) … kl sudah begitu biasanya penduduk lokal menawarkan diri untuk memotret saya. Kalau sudah begini, sebagai penghormatan saya mempersilahkan mereka untuk mengambil gambar saya dan “Jpreeettttt!“.

Dan apapun hasil jepretannya, biasanya  saya mengapreasi hasil pemotretan dan mengucapkan  terima kasih! Kalau masih kurang puas dengan hasil jepretan mereka, ya saya narsis time lagi. Seperti yang saya  katakan tadi, apapun hasil jepretan mereka, saya  selalu menghargai  itikad baik mereka. Dan itikad  baik seperti ini juga  berlaku sesama traveler  baik yang traveling seorang diri atau berpasangan, yang  lazimnya  saling menawarkan bantuan untuk saling memotret .

Dan  ada pengalaman  yang unik yang saya dapatkan khususnya saat dibantu untuk difoto oleh  pemuda lokal Tokyo yang saya alami saat perayaan Mitama Matsuri ini. Apa uniknya (baca geloknya/usilnya  mereka)?

Jadi saat saya sudah bersiap-siap dengan pose maksimum dan “Jpreeett!” ternyata setelah selesai mereka  foto dan pergi, saya  baru sadar teman2xnya ikut jadi background foto saya …. siaul (btw  jad lucu juga  he2x …) seperti foto-foto sbb:

DSC_0624

DSC_0642

Ada satu hal yang bisa dipelajari dari kunjungan saya ke festival ini. Festival yang merupakan bagian dari tradisi budaya lokal  baik tari-tarian,  prosesi upacaranya, aneka pertunjukkan rakyat (tradisional) serta jajajan tradisionalnya inipun tak kurang  menarik minat kaum muda Tokyo  yang sangat dan sangat akrab dengan moderinasi, 

 mereka tetap mau terintegrasi dengan budaya lokal  baik dari pakaian tradisional yang dikenakannnya ataupun saat menikmati berbagai macam hiburan/acara tradisional lainnya… sampai-sampai saya hampir tidak menyadari bahwa perhelatan festival dengan berbagai atraksi tradisional (hiburan rakyat ini) diselenggarakan di kota yang menduduki peringkat teratas (baca termahal)  kategori tingkat biaya  hidup di dunia (berdasarkan hasil survei bulan Juli 2009).

DSC_0438